This query concerns only resources held in libraries.
4 results
Sort by:
Add to the list:
  • Article
    Select

    Potensi dan Permasalahan Tinggalan Arkeologi Masa Kolonial di Depok

    Octaviadi Abrianto
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.103-112 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Potensi dan Permasalahan Tinggalan Arkeologi Masa Kolonial di Depok
    Author: Octaviadi Abrianto
    Subject: Depok, Bangunan Kolonial, Pelestarian, Uu Cagar Budaya No 11, 2010
    Description: Depok is a small city at the outskirt of Jakarta with a very rapid development of  infrastructures in the last 36 years. Depok is also a place where first Christian community developed outside of Dutch cities in Indonesia. There are some archaeological remains in Depok; this article explores the archaeological prospects as well as some other potencies of archaeological remains in Depok. This article also investigates problems that threat the existence of archaeological remains in Depok. This article aims is to recognize  alternatives in order to preserve Colonial buildings in Depok. The result shows that archaeological potency can be identified in different segments consists of social, political, and cultural potencies in Depok.. Problems faced by archaeological remains in Depok are the lack of socialization of Cultural Heritage Enacment no. 11, 2010, status vaguesess, ownership,  and the poor coordination between  parties involved. The most important way to solve the problems above is to socialize law of cultural heritage; to develop the understanding of community for the importance of preserving cultural heritage for current and  next generation. Kota Depok merupakan kota di pinggir DKI Jakarta yang pembangunannya sangat pesat pada 36 tahun terakhir ini,. Depok juga merupakan tempat berkembangnya komunitas kristen pertama di luar komunitas perkotaan Belanda di Indonesia. Tinggalan masa kolonial di kota tersebut cukup banyak, namun terancam oleh  perkembangan kota, oleh karena itu maka perlu dilestarikan dengan memanfaatkan bangunan-bangunan kolonial yang ada. Pemanfaatan bangunan-bangunan tersebut dapat dikembangkan dengan terlebih dahulu mengidentifikasikan potensi yang ada pada bangunan-bangunan tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini adalah apa saja potensi tinggalan serta permasalahan apa saja yang  mengancam keberadaan bangunan-bangunan kolonial tersebut. Tujuan dari artikel ini adalah mencari cara melestarikan bangunan Kolonial di Depok. Metode penalaran yang digunakan untuk memecahkan masalah adalah induktif. Data yang didapat menunjukkan bahwa tinggalan yang ada  berjumlah cukup banyak terdiri dari bangunan rumah tinggal, infrastruktur, pemerintahan, ibadah serta pemakaman. Potensi yang ada pada tinggalan berupa potensi arkeologis, sosial, politik, maupun budaya. Permasalahan yang ada terkait tinggalan masa kolonial di Depok adalah, kurangnya sosialisasi  UU no. 11 tahun 2010, tidak jelasnya status bangunan, tidak jelasnya kepemilikan bangunan, serta kurangnya koordinasi antara pihak-pihak yang berkepentingan. Cara paling penting untuk melestarikan bangunan Kolonial di Depok adalah dengan mensosialisasikan UU no. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya agar timbul kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam melindungi serta menjaga tinggalan arkeologi masa kolonial untuk generasi masa kini dan mendatang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.103-112
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i1.305 (DOI)

  • Article
    Select

    Ruangan Bawah Tanah di Sekolah Menengah Pertama 1 Kuningan Analisa Bentuk dan Fungsi

    Octaviadi Abrianto
    Pubawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 01 June 2016, Vol.1(1), pp.109-124 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Ruangan Bawah Tanah di Sekolah Menengah Pertama 1 Kuningan Analisa Bentuk dan Fungsi
    Author: Octaviadi Abrianto
    Subject: History & Archaeology
    Description: Abstract The underground chamber as a recent of archaeological remain in West Java was found al SMPNI Kuningan. It occurred when workers digs foun­dation for the new teacher lounge and they accidentally found concrete struc­ture, after they breached the concrete they found a chamber big enough for a man to stand in, and also the other rooms in the chamber. The finding then was reported to BP3 Serang which then sun'eyed it and recommending Balar Band­ung to carryout archaeological research. The paper tries to elaborate about the shape and function of the find. To know its dimension, material, and construction of the chamber as well as what it func­tions when it was used in the last time. Based on data found at the research it's inferential that the underground chamber builds around 1918 when the school was used as HIS. Kata kunci: Kuningan, SMPN 1 Kuningan, ruang bawah tanah, peturasan, septic tank
    Is part of: Pubawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 01 June 2016, Vol.1(1), pp.109-124
    Identifier: 2252-3758 (ISSN); 2528-3618 (E-ISSN); 10.24164/pw.v1i1.13 (DOI)

  • Article
    Select

    RUMAH ADMINISTRATUR PABRIK GULA TERSANA BARU CIREBON BENTUK DAN GAYA ARSITEKTUR Administrator House Of Tersana Baru Sugar Factory, Chirebon Form and Architectural style

    Octaviadi Abrianto
    Pubawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 01 June 2016, Vol.3(2), pp.115-128 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: RUMAH ADMINISTRATUR PABRIK GULA TERSANA BARU CIREBON BENTUK DAN GAYA ARSITEKTUR Administrator House Of Tersana Baru Sugar Factory, Chirebon Form and Architectural style
    Author: Octaviadi Abrianto
    Subject: History & Archaeology
    Description: Abstract Administrator house of Tersana Baru sugar factory have a unique style of building because it is a blend of several architectural styles. What the architectural style on the house and what is the reason for the use of particular style is a problems in this paper. The inductive method is used to answer the problems. The house consists of a main building and functional buildings connected by a roofed walkway. The architectural style used on the house is a combination of Neo-Classics and the Indisch architectural style. Those architectural styles chosen were due to that it shows the owner status and give regall and dignified impression.   Keywords: tersana baru sugar factory, administrator house, neo-classics, indisch   Abstrak Bangunan rumah administratur Pabrik Gula Tersana Baru memiliki gaya bangunan yang unik karena merupakan perpaduan dari beberapa gaya arsitektur. Gaya arsitektur apa saja yang ada dan apa alasan penggunaan gaya tersebut merupakan permasalahan dalam tulisan ini, metode induktif digunakan untuk menjawab permasalahan. Bangunan tersebut terdiri dari bangunan induk dan bangunan fungsional yang dihubungkan dengan selasar, gaya arsitektur yang digunakan adalah perpaduan gaya arsitektur Neo-Classics dengan gaya arsitektur Indisch. Pemilihan gaya arsitektur tersebut adalah karena kedua gaya arsitektur tersebut menunjukkan status pemilik bangunan dan memberi kesan agung dan berwibawa.   Kata kunci: pabrik gula tersana baru, rumah administratur, neo-classics, indisch
    Is part of: Pubawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 01 June 2016, Vol.3(2), pp.115-128
    Identifier: 2252-3758 (ISSN); 2528-3618 (E-ISSN); 10.24164/pw.v3i2.40 (DOI)

  • Article
    Select

    Some Consideration on Location of "Bhumi Jawa"

    Octaviadi Abrianto, Nanang Saptono, Nurul Laili
    Pubawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 01 July 2016, Vol.1(2), pp.277-288 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Some Consideration on Location of "Bhumi Jawa"
    Author: Octaviadi Abrianto; Nanang Saptono; Nurul Laili
    Subject: History & Archaeology
    Description: Abstrak, Daerah Lampung pemah mcnjadi wilayah kekuasaan Sriwijaya. Prasasti Palas Pasemah dan prasasti Bungknk merupakan prasasli yang dikeluarkan Sriwijaya yang ditcmukan di Lampung. Pada prasasti Palas Pasemah disebulkan bahwa Sriwijaya akan menyerang Bhumijawa. Nama Bhumijawa juga disebulkan datam prasasti Kotakapur yang ditemukan di Pulau Bangka. P.V. van Stein Callenfels dan Buchari berpendapat bahwa Bhumijawa merupakan lokasi yang ada di Lampung. Di Lampung icrciapai dua lokasi yang bernama Bumijawa, yaitu di daerah Lampung Timur dan Lampung Barat. Bumijawa di Lampung Timur merupakan permukiman masyarakat marga Nuban dari klan Abung Siwa Mega. Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa mercka berasal dari daerah Sekalabrak yaitu di sekitar Bukit Pesagi hingga Danau Ranau. Masyarakat Bumijawa di Lampung Barat adalah marga buay Nyerupa yang termasuk dalam Paksi Pak Sekalabrak. Tinggalan arkeologi di situs Gedongdalem, Bumijawa, Lampung Timur menunjukkan bekas permukiman dari sekitar abad ke-14. Sedangkan di Bumijawa Lampung Baral terdapat situs permukiman yang mengandung ciri budaya megalitik. Selain itu di kawasan sekiiar Gunung Pesagi hingga Danau Ranau juga banyak terdapat tinggalan dari masa klasik scperti prasasti Hujung Langit dan Candi Jepara. Dengan demikian, mungkin Bhumijawa yang disebui dalam prasasti Kota Kapur dan Palas Pasemah berada di wilayah sekitar Gunung Pesagi hingga Danau Ranau. Kata Kunci: Bumijawa, Prasasli Palas Pasemah, Prasasti Kota Kapur, Tapak Siring
    Is part of: Pubawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 01 July 2016, Vol.1(2), pp.277-288
    Identifier: 2252-3758 (ISSN); 2528-3618 (E-ISSN); 10.24164/pw.v1i2.59 (DOI)