141 results
Sort by:
Add to the list:
    • Article
    Select

    Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Maluku Tengah

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.155-164 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Maluku Tengah
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Orang Huaulu, Rumah, Pengetahuan, Teknologi
    Description: House of Huaulu, Seram Island in Central Mollucas district has several aspects related to the pattern of the building, the building materials used, as well as the pattern of worked. The purpose of this researches is to known and understand what kind of aspects are contained in the house of Huaulu People. The method uses ethnoarcheology approach, the data collection techniques interview, observation and literature study. The analysis was performed by descriptive follow aspects of ethnoarchaeology. The results showed that the House of Huaulu People, has two aspects. First aspect of knowledge covering the level of understanding in working on the house, the house view of the cosmos, as well as the art of decorative patterns that interpret the cultural social life. Second, the technological aspect is the level of knowledge and understanding of the tools and materials used for the construction of the house. Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah memiliki beberapa aspek yang terkait dengan pola bangunan, bahan bangunan yang digunakan, serta pola pengerjaannya.Tujuan penelitian untuk mengetahui dan memahami aspek-aspek apa saja yang terdapat pada rumah Orang Huaulu. Metode menggunakan  pendekatan etnoarkeologi, dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan secara deskriptif mengikuti aspek-aspek dalam Etnoarkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Rumah Orang Huaulu memiliki dua aspek. Pertama aspek pengetahuan meliputi tingkat pemahaman dalam mengerjakan rumah, pandangan terhadap kosmos rumah, serta seni pola hias yang menginterprestasikan kehidupan sosial budayanya. Kedua, Aspek teknologi yaitu tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang alat dan bahan yang digunakan untuk pengerjaan rumah.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.155-164
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i2.294 (DOI)

    • Article
    Select

    Kepulauan Aru dan Integrasi Kebangsaan dalam Perspektif Sejarah dan Budaya

    Mezak Wakim
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.23-32 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Kepulauan Aru dan Integrasi Kebangsaan dalam Perspektif Sejarah dan Budaya
    Author: Mezak Wakim
    Subject: Aru, Integrasi Kebangsaan, Pulau Terdepan, Sejarah Budaya
    Description: National integration is a central issue in the context of the management of the foremost islands in Indonesia. Aru Islands is one of the areas in Moluccas which became the region’s leading Indonesian island. This paper aims to address issues related to the Aru Islands national integration as one of the leading regions in Indonesia. Discussions focused on the perspective of history and culture as one of the approaches in addressing the issue of national integration. Therefore, use literature to illustrate the historical and cultural Aru Islands. The results of the discussion of an understanding that the similarity of historical and cultural background of the Aru Islands and surrounding areas provide awareness of the importance of national integration in the management of the outer islands in Indonesia. Integrasi kebangsaan merupakan isu sentral dalam konteks pengelolaan pulau terdepan di Indonesia. Kepulauan Aru adalah salah satu wilayah di Maluku yang menjadi kawasan bagi pulau terdepan di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk menjawab permasalahan terkait isu integrasi kebangsaan bagi Kepulauan Aru sebagai salah satu wilayah terdepan di Indonesia. Pembahasan difokuskan pada perspektif sejarah dan budaya sebagai salah satu pendekatan dalam menjawab isu integrasi kebangsaan. Oleh karena itu, digunakan studi pustaka untuk memberi gambaran historis dan kultural Kepulauan Aru. Hasil pembahasan memberi pemahaman bahwa kesamaan latar belakang historis dan kultural Kepulauan Aru dan sekitarnya memberi kesadaran akan pentingnya integrasi kebangsaan dalam pengelolaan pulau-pulau terdepan di Indonesia.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.23-32
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i1.215 (DOI)

    • Article
    Select

    Masa Surut Perdagangan Rempah-rempah Maluku

    Hari Suroto
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.6(11), pp.110-116 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Masa Surut Perdagangan Rempah-rempah Maluku
    Author: Hari Suroto
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.6(11), pp.110-116
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v6i11.148 (DOI)

    • Article
    Select

    Fungsi Bangunan Dokwi Vam dan Kembu Vam Bagi Suku Yali dalam Novel Penguasa-penguasa Bumi Karya Don Richardson

    Ummu Fatimah Ria Lestari
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.51-58 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Fungsi Bangunan Dokwi Vam dan Kembu Vam Bagi Suku Yali dalam Novel Penguasa-penguasa Bumi Karya Don Richardson
    Author: Ummu Fatimah Ria Lestari
    Subject: Dokwi Vam, Kembu Vam, Novel
    Description: This study discusses the function of the building of Dokwi Vam and Kembu Vam contained in the novel-Sovereign Ruler of the Earth works Don Richardson. In general, this novel tells the story of the life of Stan Dale and Yali tribe. Stan Dale is a missionary who served in Papua. He struggled to introduce Christianity to the Yali tribe. This study uses the description of the technical literature. This research resulted in a description of the function of the building of Dokwi Vam and Kembu Vam contained in the novel Lord of-Ruler of the Earth works Don Richardson. Dokwi Vam used as a museum (where the old stuff) to worship as they still follow animism, while the Kembu Vam serves as a temple / animism worship in Yali tribe. Penelitian ini membahas tentang fungsi bangunan Dokwi Vam dan Kembu Vam yang terdapat dalam novel Penguasa-Penguasa Bumi karya Don Richardson. Secara umum, novel ini bercerita tentang kehidupan Stan Dale dan suku Yali. Stan Dale adalah seorang missionaris yang melayani di Tanah Papua. Ia berjuang untuk memperkenalkan agama Nasrani kepada suku Yali. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dengan teknik studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan deskripsi tentang fungsi bangunan Dokwi Vam dan Kembu Vam yang terdapat dalam novel Penguasa-Penguasa Bumi karya Don Richardson. Dokwi Vam digunakan sebagai museum (tempat barang-barang kuno) untuk penyembahan karena mereka masih menganut kepercayaan animisme, sedangkan Kembu Vam berfungsi sebagai rumah peribadatan/penyembahan dalam kepercayaan animisme suku Yali.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.51-58
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i1.199 (DOI)

    • Article
    Select

    Karakteristik dan Habitasi Moluska di Situs Hatusua Seram Bagian Barat Maluku Indonesia

    Karyamantha Surbakti, Marlon Nr Ririmasse
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.91-102 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Karakteristik dan Habitasi Moluska di Situs Hatusua Seram Bagian Barat Maluku Indonesia
    Author: Karyamantha Surbakti; Marlon Nr Ririmasse
    Subject: Moluska, Habitasi, Ekskavasi
    Description: Hatusua is a late prehistoric site in the southern coast of west Seram. Chronologically dated until 1,100 BP, Hatusua is a site with rich molusc findings. The aim of this research is to identify the profile of molusc in Hatusua site and its habitation characteristic in the regional context. Collecting data with surface survey, excavation and bibliographical study have been adopted as the approach in this research. The results show that The Hatusua Site is Site Complex with the history of geological genesis was a part of wallacea with the biotic marine faunal profile related to Sahul. Situs Hatusua adalah situs berkarakter masa prasejarah akhir di wilayah pesisir selatan seram bagian barat. Situs yang memiliki penanggalan hingga 1,100 tahun silam, ini merupakan salah satu situs yang banyak diidentifikasi temuan moluska. Penelitian ini bertujuan untuk mengenali profil temuan moluska yang ada di Situs Hatusua dan karakteristik habitasinya dalam konteks kawasan. Pengumpulan data dilakukan melalui survei permukaan, ekskavasi dan telaah pustaka. Hasil penelitian ini menemukan bahwa Situs Hatusua yang berada di Seram Bagian Barat merupakan kawasan situs yang memiliki histori pembentukan geologisnya termasuk dalam zona transisi Asia-Australia (Wallasea) dengan kecenderungan fauna biotis lautnya termasuk dalam kategori Zona Kawasan Sahul.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.91-102
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i1.316 (DOI)

    • Article
    Select

    Lingkungan Alam dan Pertumbuhan Budaya Buleleng

    Ayu Kusumawati
    Kapata Arkeologi, 01 March 2016, Vol.2(2), pp.34-59 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Lingkungan Alam dan Pertumbuhan Budaya Buleleng
    Author: Ayu Kusumawati
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 March 2016, Vol.2(2), pp.34-59
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v2i2.25 (DOI)

    • Article
    Select

    Suku Huaulu di Seram Utara

    Marlyn Salhuteru
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(12), pp.92-100 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Suku Huaulu di Seram Utara
    Author: Marlyn Salhuteru
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(12), pp.92-100
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v7i12.160 (DOI)

    • Article
    Select

    Petuah-petuah Leluhur dalam Wérékkada: Salah Satu Pencerminan Kearifan Lokal Masyarakat Bugis

    Nfn Mustafa
    Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.151-162 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Petuah-petuah Leluhur dalam Wérékkada: Salah Satu Pencerminan Kearifan Lokal Masyarakat Bugis
    Author: Nfn Mustafa
    Subject: Sastra Lisan - Kearifan Lokal - Petuah-Petuah Leluhur
    Description: This paper aim to examine the local wisdom contained in wérékkada. Wérékkada is a classic Buginese literary form that is still lived by those with Buginese Language and culture backgrounds that serve as an adhesive tool for interpersonal relationships and sources of laws and regulations that can tap the heart, mind and command people to be honest, polite courteous, knowing customs, and manners in social life. This paper describes the local wisdom of Buginese culture that is still practiced in society. The approach used in this study uses two theories namely, pragmatic and sociology of literary approach. The methods and techniques used in this study are descriptive methods, which are described the data as it is. Data was collected using recording techniques, interviews, recording, and literature study. The results can be concluded that wérékkada contains local wisdom such as  honesty, an advice (wérékkada) which contains the basic foundation in establishing relationships between people, perseverance, which is an advice that gives an overview of the daily behavior of someone who has a price high self, firm, tough, faithful to faith, and obedient principle. Meanwhile, sirik ‘malu’ is one of the Buginese way of life, which aims to maintain personal dignity, others or groups. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kearifan-kearifan lokal yang terdapat dalam wérékkada. Wérékkada adalah salah satu bentuk sastra klasik Bugis yang hingga kini masih dihayati oleh masyarakat berlatar belakang bahasa dan budaya Bugis yang berfungsi sebagai alat perekat hubungan antar individu dan sumber hukum serta peraturan yang mampu mengetuk hati, pikiran dan memerintahkan orang untuk berlaku jujur, berperilaku sopan santun, tahu adat istiadat, dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Tulisan ini menggambarkan kearifan lokal budaya Bugis yang hingga kini masih berlaku di dalam masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini menggunakan dua teori yaitu, pendekatan pragmatik dan sosiologi sastra. Metode dan teknik yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif, yaitu memaparkan sebagaimana adanya. Pengumpulan data, digunakan teknik pencatatan, wawancara, perekaman, dan studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa wérékkada dapat mengandung kearifan lokal tentang kejujuran. Petuah-petuah atau wérékkada berisi landasan pokok dalam menjalin hubungan antar sesama, keteguhan, memberikan gambaran dari tingkah laku sehari-hari seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi, tegas, tangguh, setia pada keyakinan, dan taat asas. Sementara itu, sirik ‘malu,’ adalah salah satu pandangan hidup orang Bugis yang bertujuan untuk mempertahankan harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.151-162
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.404 (DOI)

    • Article
    Select

    Tradisi Penggunaan Dolmen di Situs Batu Berak, Desa Purawiwitan Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat (Kajian Fungsi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendirian Dolmen)

    Karyamantha Surbakti
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(13), pp.40-58 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Tradisi Penggunaan Dolmen di Situs Batu Berak, Desa Purawiwitan Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat (Kajian Fungsi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendirian Dolmen)
    Author: Karyamantha Surbakti
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(13), pp.40-58
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v7i13.168 (DOI)

    • Article
    Select

    Baileu: Kajian Tentang Bentuk Manifestasi Fisik dari Masyarakat Adat di Kecamatan Pulau Saparua

    Andrew Huwae
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.35-42 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Baileu: Kajian Tentang Bentuk Manifestasi Fisik dari Masyarakat Adat di Kecamatan Pulau Saparua
    Author: Andrew Huwae
    Subject: Baileu, Karakter Budaya, Sistem Adat, Manifestasi Fisik
    Description: Abstrak Keadaan identitas Baileu di wilayah Kecamatan Pulau Saparua saat ini dalam keadaan cenderung rusak karakter budayanya, dan kalau berkelanjutan akan menjadi hilang, untuk itu menemukan kembali jati diri dapat membangun pemahaman tentang karakter budaya sebenarnya. Pada beberapa desa yang dijumpai di wilayah Kecamatan Pulau Saparua, kesadaran dan  karakter tradisional tersebut sudah mulai hilang. Hal ini tergambar dari keadaan arsitektur yang lebih modern, serta kurang perhatian dari masyarakat pendukungnya. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa perubahan-perubahan besar telah terjadi dalam system adat di desa-desa kecamatan Pulau Saparua dan hanya unsur-unsur atau bagian-bagian yang terpenting dari system tersebut yang masih tetap bertahan. Baileu menjadi bangunan penting yang terletak di bagian pusat desa pada seluruh masyarakat adat di wilayah Kecamatan Pulau Saparua. Baileu dapat juga disebut sebagai rumah adat yang adalah bentuk manifestasi fisik dari desa sebagai persekutuan adat untuk melakukan segala macam bentuk pertemuan dan upacara adat atau ritual di bangunan tersebut, guna kepentingan masyarakat desa.   Abstract In some villages in the subdistrict found Saparua, awareness and traditional characters  are already lost. This is illustrated by the more modern architecture, as well as the lack of attention from community supporters. This is consistent with the fact that major changes have occurred in the indigenous system in villages and districts Saparua only elements or important parts of the system that still survive.Baileu become important buildings are located at the center of the entire indigenous villages in the subdistrict Saparua. Baileu can also be referred to as a custom home is a physical manifestation of the village as a community indigenous to do all kinds of meetings and ceremonies or rituals in the building, in the interests of the villagers.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.35-42
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i1.178 (DOI)