169 results
Sort by:
Add to the list:
    • Article
    Select

    Hunian Prasejarah di Jasirah Leihitu Pulau Ambon, Maluku

    Lucas Wattimena, Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.51-58 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    , khususnya Arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perubahan perkembangan permukiman, yaitu dari permukiman di gunung, kemudian turun ke pesisir serta pola permukiman yang menunjukan pola makro antara... Morela dan konteks keseluruhan temuan dengan situs lain disekitarnya. 3) Mengetahui hasil tinggalan arkeologi yang ada. 4) Berguna bagi penelitian-penelitian lanjutan dalam segala bidang…
    Available
    More…
    Title: Hunian Prasejarah di Jasirah Leihitu Pulau Ambon, Maluku
    Author: Lucas Wattimena; Wuri Handoko
    Subject: Prasejarah, Hunian, Perubahan
    Description: Penelitian hunian prasejarah di Jasirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah Pulau Ambon dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana perkembangan permukiamn prasejarah di situs Morela. Tujuan dan manfaat daripada penelitian ini, antara lain : 1) Mendata kembali dan menggali potensi peninggalan arkeologi yang terdapat di Situs Negeri Morela. 2) Mengetahui kronologi dan konteks temuan arkeologi  Negeri Morela dan konteks keseluruhan temuan dengan situs lain disekitarnya. 3) Mengetahui hasil tinggalan arkeologi yang ada. 4) Berguna bagi penelitian-penelitian lanjutan dalam segala bidang ilmu, khususnya Arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perubahan perkembangan permukiman, yaitu dari permukiman di gunung, kemudian turun ke pesisir serta pola permukiman yang menunjukan pola makro antara hubungan temporal parsial situs-situs di Morela. Hasil penelitian didapat dengan menggunakan teknik pengumpulan data; wawancara, survei, telaah pustaka dan ekskavasi.    Prehistoric residential research at Jasirah Leihitu Central Maluku Ambon Island conducted to determine how the development on the site of prehistoric settlement at Morela. The purpose and benefits than this study, among other things: 1) Collecting back and explore the potential of archaeological relics contained in the Site Morela State. 2) Knowing the chronology and context of archaeological findings and the overall context of State Morela findings with other sites around. 3) Knowing the results of archaeological remains there. 4) Useful for advanced research in all fields of science, especially Archaeology. The results showed that there was a change in the development of settlements, from the settlements in the mountains, then down to the coast and settlement patterns that show the macro pattern of partial temporal relationship in Morela sites. Research results obtained by using the technique of data collection; interviews, surveys, literature review and excavation.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.51-58
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i2.186 (DOI)

    • Article
    Select

    A Geological and Spatial Approach to Prehistoric Archaeological Surveys on Small Islands: Case Studies from Maluku Barat Daya, Indonesia

    Shimona Kealy, Lucas Wattimena, Sue O'Connor
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.1-14 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    ini merupakan hasil survei arkeologi tahun 2017 di Pulau Babar Besar dan Pulau Wetang yang termasuk dalam bagian dari kelompok Kepulauan Babar, Maluku Barat Daya, Indonesia. Tercatat sebanyak 62 situs... Survei arkeologi sangat penting untuk penemuan dan interpretasi sisa-sisa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia prasejarah. Saat ini penginderaan jarak jauh dan model prediktif telah... meningkatkan…
    Available
    More…
    Title: A Geological and Spatial Approach to Prehistoric Archaeological Surveys on Small Islands: Case Studies from Maluku Barat Daya, Indonesia
    Author: Shimona Kealy; Lucas Wattimena; Sue O'Connor
    Subject: Survey - Babar - Maluku - Archaeology - Prehistory
    Description: Survei arkeologi sangat penting untuk penemuan dan interpretasi sisa-sisa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia prasejarah. Saat ini penginderaan jarak jauh dan model prediktif telah meningkatkan jangkauan dan keberhasilan survei arkeologi, namun survei pejalan kaki untuk mengembangkan parameter model dan prediksi kebenaran dasar masih penting untuk keberhasilan suatu penemuan. Penelitian ini merupakan hasil survei arkeologi tahun 2017 di Pulau Babar Besar dan Pulau Wetang yang termasuk dalam bagian dari kelompok Kepulauan Babar, Maluku Barat Daya, Indonesia. Tercatat sebanyak 62 situs arkeologi ditemukan di kedua pulau tersebut, tujuh diantaranya merupakan situs lukisan cadas baru yang ditemukan di Pulau Wetang. Hasil survei ini menunjukkan keberhasilan penggunaan peta geologi dan topografi di samping citra satelit dalam mendeteksi daerah prospektif untuk survei. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemahaman karakteristik geologi daerah yang lebih rinci dan komparatif diperlukan sebelum dilakukan survei jarak jauh yang lebih lanjut di wilayah Maluku Barat Daya, Indonesia. Archaeological surveys are essential to the discovery and interpretation of remains left by past human activities. While remote sensing and predictive models have greatly improved the reach and success of archaeological survey, pedestrian surveys to develop model parameters and ground-truth predictions is still imperative for successful discoveries. Here we present the results of the 2017 archaeological survey of islands Babar Besar and Wetang in the Babar Island Group, Maluku Barat Daya, Indonesia. A total of 62 archaeological sites were recorded between the two islands; seven of which represent new rock art sites on Wetang island. Our survey results indicate the successful use of geological and topographic maps alongside satellite images in detecting prospective regions for survey. Results also indicate however that a more detailed and comparative understanding of the regions geology is required before more advanced forms of remote survey are conducted in the Maluku Barat Daya region.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.1-14
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.458 (DOI)

    • Article
    Select

    Situs Permukiman Kuno di Waeyasel Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah

    Marlyn Salhuteru
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.59-64 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    bahwa Kota Mulu adalah lokasi permukiman masyarakat Waeyasel pada masa lampau. Tim penelitian Balai Arkeologi Ambon melakukan penelitian di situs ini dengan menerapkan metode survei permukaan bertujuan... untuk mendata dan mendokumentasikan sebanyak mungkin data arkeologi. Penelitian ini  menghasilkan sejumlah data arkeologi yang berciri megalitik berupa dolmen, sejumlah fragmentaris keramik lokal,…
    Available
    More…
    Title: Situs Permukiman Kuno di Waeyasel Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah
    Author: Marlyn Salhuteru
    Subject: Kota Mulu, Situs, Permukiman Kuno, Megalitik
    Description: Situs permukiman kuno yang terdapat di dusun Waeyasel, penduduk setempat menyebutnya Kota Mulu adalah sebuah dataran di antara bukit karang yang cukup terjal. Penduduk di sekitar situs meyakini bahwa Kota Mulu adalah lokasi permukiman masyarakat Waeyasel pada masa lampau. Tim penelitian Balai Arkeologi Ambon melakukan penelitian di situs ini dengan menerapkan metode survei permukaan bertujuan untuk mendata dan mendokumentasikan sebanyak mungkin data arkeologi. Penelitian ini  menghasilkan sejumlah data arkeologi yang berciri megalitik berupa dolmen, sejumlah fragmentaris keramik lokal maupun keramik asing, dan sebuah makam. Sementara dapat disimpulkan bahwa situs kota mulu adalah situs permukiman yang didalamnya juga berlangsung kegiatan sakral sesuai dengan kepercayaan penghuninya, yang dibuktikan dengan keberadaan dolmen sebagai media upacara megalitik. Sedangkan keberadaan makam pada situs ini oleh penduduk sekitar dikatakan merupakan makam dari seorang pesiar agama Islam yang menyebarkan ajaran agama di waeyasel dan sekitarnya. Beliau kemudian meninggal dan dimakamkan di lokasi ini.   Site of ancient settlements located in the hamlet Waeyasel, the locals call it the City Mulu is a plateau in between fairly steep cliff. Residents around the site believes that the City Mulu is Waeyasel community settlements in the past. Ambon Archaeological Institute research team conducted research at this site by applying the method of surface survey aims to assess and document the archaeological data as much as possible. This study resulted in a number of archaeological data, characterized by megalithic dolmen form, a number of fragmentary local and foreign ceramics ceramics, and a tomb. While it can be concluded that the site Mulu city is the site of settlements which also takes place in accordance with the trust sacred activity occupants, as evidenced by the presence of megalithic dolmen as a media ceremony. While the existence of the tomb on this site by people around say is the tomb of a cruise Islam spread religion in Waeyasel and surrounding areas. He then died and was buried at this location.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.59-64
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i2.187 (DOI)

    • Article
    Select

    Sharing Knowledge: Archaeology and Education in the Maluku, Indonesia

    Marlon Nr Ririmasse
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.27-36 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    kontribusi arkeologi untuk mengembangkan muatan lokal dalam pendidikan di wilayah Maluku, Indonesia. Pembahasan tulisan ini akan mencakup contoh sejumlah program dan proyek, yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir. Developing representational historical content for school curricula is a challenge in Indonesia. The wide range of ethnicities and cultural backgrounds in the country has created…
    Available
    More…
    Title: Sharing Knowledge: Archaeology and Education in the Maluku, Indonesia
    Author: Marlon Nr Ririmasse
    Subject: Archaeology - Education - Indonesia - Maluku - Education
    Description: Mengembangkan kurikulum Sekolah bermuatan sejarah yang representatif merupakan sebuah tantangan di Indonesia. Berbagai macam etnis dan latar belakang budaya di negara ini telah menciptakan situasi manajemen pendidikan yang unik. Suatu pendekatan yang tidak konvensional yang menekankan muatan lokal telah dikembangkan oleh Pemerintah dalam dua dekade terakhir untuk memenuhi permintaan terhadap representasi isu-isu lokal dalam sejarah dan mata pelajaran yang terkait di sekolah-sekolah. Meskipun sudah ada pendekatan yang diinisiasi, namun pelaksanaan program di tingkat nasional masih jauh dari efektif karena keterbelakangan konsep dan kekurangan sumber daya manusia. Partisipasi lembaga, kelompok, atau individu dengan pengetahuan dan keahlian tertentu tentang budaya lokal di luar lembaga pendidikan formal dewasa ini diadopsi sebagai solusi yang mungkin efektif. Dalam hal ini arkeologi sangat mungkin memberikan kontribusi positif. Tulisan ini akan membahas masalah dengan berfokus pada kontribusi arkeologi untuk mengembangkan muatan lokal dalam pendidikan di wilayah Maluku, Indonesia. Pembahasan tulisan ini akan mencakup contoh sejumlah program dan proyek, yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir. Developing representational historical content for school curricula is a challenge in Indonesia. The wide range of ethnicities and cultural backgrounds in the country has created a unique education management situation. An unconventional approach emphasizing local content (muatan lokal) has been developed by the national government in the last two decades to address the demand for more representation of local issues in history and related subjects at schools. Despite this creative approach, the implementation of the program at the national level is still far from effective due to the underdevelopment of the concept and shortage of human resources. The participation of institutions, groups or individuals with the particular knowledge and expertise on local culture outside the formal educational institution has recently been adopted as a possible effective solution. This is a role in which archaeology might also make a positive contribution. This paper will discuss this issue by focusing on the contribution of archaeology to develop the local content in the education of Moluccas region in Indonesia. The discussion will include the examples of the program and project, which has been conducted in the last ten years.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.27-36
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.466 (DOI)

    • Article
    Select

    Struktur Sosial pada Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan Zaman Hindia Belanda di Jawa Bagian Barat

    Lia Nuralia
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.1-20 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik, hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik
    Available
    More…
    Title: Struktur Sosial pada Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan Zaman Hindia Belanda di Jawa Bagian Barat
    Author: Lia Nuralia
    Subject: Struktur Sosial, Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan, Jawa Bagian Barat
    Description: This paper aims to reveal the social structure on the high officials of plantation residence in west part of Java. This paper is based on research reports using archaeological research methods, explaining about the architecture, layout, materials, and technology used to determine the symbolic meaning behind the physical form of the building. Structure concept and non-verbal communication concept can explain that the high officials of plantation residence is a central building in the plantation emplacement. The residence as a symbol of great power, especially in the plantation environment that still exist until now. Tulisan ini bertujuan mengungkap struktur sosial pada rumah pejabat tinggi perkebunan peninggalan zaman Hindia Belanda di Jawa bagian barat. Tulisan ini berdasarkan laporan hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik bangunan. Structure concept dan non-verbal communication concept dapat menjelaskan bahwa rumah pejabat tinggi perkebunan merupakan bangunan sentral dalam emplasemen perkebunan. Rumah tersebut sebagai simbol kuasa besar, terutama di lingkungan perkebunan yang masih eksis sampai sekarang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.1-20
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.374 (DOI)

    • Article
    Select

    Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.123-138 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Tata Kota, Morfologi, Kosmologi, Islam, Lokal, Ternate
    Description: Ternate town, is a thriving Islamic city since 6-17 century AD. Although at that time influenced mainly Portuguese colonial hegemony and the Netherlands, but as a center of Islamic civilization, morphology and cosmology town laid out according to the Islamic concept and local concept. Through archaeological analysis, morphology and cosmological aspects of the town hall is described. For that carried out the archaeological survey in the city of Ternate with trace toponyms ancient city, then through the literature and interviews with sources. Archaeological analysis performed, ie with spatial analysis through data identification features that characterize the ancient city of Islam, as well as contextual analysis by analogy history and local culture. The purpose of this study is to describe the shape and development of the city, as well as cosmological concept underlying the form of urban planning. Results of the study include that component of the city center is characterized by buildings and mosques, kedaton sultan as an orientation center into a city of Ternate characteristics of Islamic civilization. In addition the local characteristics of the town of Ternate is shown by the local cosmological concepts, as well as the division of residential space natives and immigrants. During its development, the urban space is divided into five components, namely component downtown, residential, and commercial economy, burial, and religious. Kota Ternate, adalah sebuah Kota Islam yang berkembang sejak abad ke 6-17 Masehi. Meskipun pada masa itu dipengaruhi pula hegemoni kolonial terutama Portugis dan Belanda, namun sebagai sebuah pusat peradaban Islam, morfologi dan kosmologi kota ditata menurut konsep Islam dan konsep lokal. Melalui analisis arkeologi, aspek ruang morfologi dan kosmologi kota digambarkan. Untuk itu dilakukan survei arkeologi di wilayah Kota Ternate dengan menelusuri toponim-toponim kota kuno, kemudian melalui studi pustaka maupun wawancara dengan narasumber. Analisis arkeologi dilakukan, yakni dengan analisis keruangan melalui identifikasi data fitur yang mencirikan kota kuno Islam, serta analisis kontekstual melalui analogi sejarah dan budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bentuk dan perkembangan kota, serta konsep kosmologi yang melatarbelakangi bentuk tata kota. Hasil penelitian antara lain bahwa komponen pusat kota yang dicirikan oleh bangunan kedaton sultan dan masjid sebagai pusat orientasi menjadi karakteristik Ternate sebagai kota peradaban Islam. Selain itu ciri lokal kota Ternate ditunjukkan dengan konsep kosmologi lokal, serta adanya pembagian ruang hunian pribumi dan pendatang. Dalam perkembangannya, ruang kota terbagi menjadi lima komponen, yakni komponen pusat kota, pemukiman, ekonomi dan niaga, penguburan, dan keagamaan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.123-138
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i2.292 (DOI)

    • Article
    Select

    Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data

    Irfanuddin Wahid Marzuki
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.89-100 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian... . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini,…
    Available
    More…
    Title: Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data
    Author: Irfanuddin Wahid Marzuki
    Subject: Kema - Sulawesi Sea Trade - Colonial Period
    Description: Kema merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara yang berada di pesisir selatan Sulawesi. Saat ini Kema dikenal sebagai perkampungan nelayan padat penduduk yang terbagi menjadi Kema I, Kema II, dan Kema III. Riwayat sejarah Kema sudah dikenal semenjak abad XVI oleh pelaut-pelaut Eropa yang singgah untuk mengisi air minum, kemudian berkembang hingga menjadi sebuah kota pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan Kema dahulu merupakan sebuah permukiman yang sudah maju, meliputi pola permukiman dan jaringan jalan, pelabuhan dan saran pendukungnya, rumah ibadah, bangunan perumahan, pasar, dan jaringan komunikasi. Bukti arkeologis dan data sejarah mengungkap bahwa Kema dikenal sebagai pelabuhan laut yang memegang peranan penting dalam perdagangan global pada masa Kolonial. Pelabuhan Kema bahkan ditetapkan sebagai salah satu pelabuhan bebas di perairan Laut Sulawesi. Peran pelabuhan Kema saat ini mengalami kemunduran, hanya sebagai pelabuhan perikanan tidak lagi sebagai pelabuhan samudera. Kema is one of the districts in Minahasa Utara Regency located on the southern coast of Sulawesi Utara. Currently, Kema is known as a densely populated fishing village which is divided into Kema Satu, Kema Dua, and Kema Tiga. Based on historical data, Kema has been known since the 16 century by European sailors who stopped to fill drinking water, then expanded into a port city. This study aims to determine the rise and fall of the existence of Kema in the global trade of the Sulawesi Sea in the colonial period based on archaeological and historical data. This study uses a historical archeology approach that combines archaeological data with historical data. Research stages include data collection phase, data analysis, and conclusion. The results indicate archaeological evidence shows that Kema was an advanced settlement, covering the settlement patterns and road networks, ports and supporting facilities, houses of worship, residential buildings, markets, and communications networks. Archaeological evidence and historical data reveal that Kema is known as a seaport that plays an important role in global trading during the Colonial period. Kema is even designated as one of the free ports in Sulawesi Sea. The role of Kema is currently declining, only as a fishing port no longer as an ocean port.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.89-100
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.475 (DOI)

    • Article
    Select

    Revitalisasi Kebinekaan melalui Kampanye Slogan Arkeologis Hasil Penelitian Situs Kota Cina

    Defri Elias Simatupang
    Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.209-222 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini Situs, menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini…
    Available
    More…
    Title: Revitalisasi Kebinekaan melalui Kampanye Slogan Arkeologis Hasil Penelitian Situs Kota Cina
    Author: Defri Elias Simatupang
    Subject: Kebinekaan - Slogan - Arkeologis
    Description: This paper discusses the diversity of Indonesian people that needs to be improved following more susceptible of conflict in the communities with different ethnic, religion , race , and class. The archaeological research institution should be able to contribute for this process by using the research result of the Kota Cina in Medan North Sumatera. One of the approach which can be adopted is the use of arcaheological slogan. These slogans can be produce by using the parameter analysis of measureable mass communication with the content analysis method. The observation shows that the archaeological slogan of the Kota Cina can be produce and contribute to deliver the message in order to revitalize the diversity. Tulisan ini membahas kebinekaan masyarakat Indonesia yang semakin rentan menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini Situs Kota Cina di Kota Medan Sumatera Utara. Dalam upaya merevitalisasi kebinekaan, hasil penelitian Situs Kota Cina diangkat sebagai bahan kampanye slogan arkeologis. Slogan-slogan arkeologis hasil penelitian Situs Kota Cina dibuat berdasarkan kajian paramater pengamatan komunikasi massa yang terukur dengan metode analisis isi. Dari hasil pengamatan, slogan arkeologis hasil penelitian Situs Kota Cina dapat dibuat dan diyakini mampu berkontribusi menyampaikan pesan dalam usaha merevitalisasi kebinekaan, dengan catatan yang harus diperhatikan menyangkut penguasaan materi seputar hasil penelitian Situs Kota Cina.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.209-222
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.429 (DOI)

    • Article
    Select

    Islamicization Strategies in Kao Ancient Village, North Halmahera

    Wuri Handoko, Muhammad Al Mujabuddawat, Joss Whittaker
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.49-62 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi, hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi
    Available
    More…
    Title: Islamicization Strategies in Kao Ancient Village, North Halmahera
    Author: Wuri Handoko; Muhammad Al Mujabuddawat; Joss Whittaker
    Subject: Kao - North Halmahera - Archaeology - Islamicization - Islam Conversion
    Description: Situs permukiman Kampung kuno Kao terletak di pedalaman Halmahera Utara, berdiri di atas tanah yang relatif basah diapit oleh sungai Aer Kalak, Ake Ngoali, dan Ake Jodo dan dikelilingi oleh hutan sagu dan rawa. Kondisi permukiman di situs ini membuatnya memiliki keterbatasan ruang hunian, namun orang-orang yang menghuni Kampung kuno Kao bermukim di wilayah ini dalam jangka waktu yang relatif panjang, yaitu antara 100-200 tahun, dan bahkan tercatat dalam rekam sejarah bahwa wilayah Kao dahulu menjadi penyuplai makanan pokok Ternate. Penelitian ini bersifat deduktif, yaitu menyusun sebuah hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi lisan yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisa dengan merujuk pada sumber referensi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situs Kao merupakan permukiman yang cukup maju  dan memiliki peran cukup penting sebagai wilayah pusat Islamisasi di Halmahera. Orang-orang di Kampung kuno Kao tinggal dalam waktu lama di satu lokasi didukung oleh sumber air dan potensi tanah-tanah pertanian menjadikan wilayah Kao sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang ramai. Kao menjadi bagian dari strategi dalam penyebaran Islam ke wilayah-wilayah pedalaman lainnya, juga daerah-daerah pesisir di Halmahera Utara. The Kao Ancient Village settlement site is located in the hinterland of North Halmahera, standing on relatively wet ground flanked by the river Aer Kalak, Ake Ngoali, and Ake Jodo and surrounded by sago and swamp forests. The settlement conditions on the site make it limited for residential space, but a community of Kao people settled in this area for a relatively long period of time between 100-200 years and even recorded in history that Kao region is the main food supplier for Ternate in the past. This research conducted surface surveys and limited excavations, then mapped the areas of artifactual findings, and identified patterns of spatial use by analyzing surface features and artifact scatters. Variety of archeological data both artifacts and oral traditions are then analyzed guided by relevant reference sources. The results show that Kao Site is an advanced settlement and has a significant role as the center of Islamicization in Halmahera. The Kao people settled for a long time in one location supported by water sources and the potential of farming lands making the Kao area a part of bustling trade networks. Kao became part of a strategy in spreading Islam to other inland areas, as well as coastal areas in North Halmahera.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.49-62
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.507 (DOI)

    • Article
    Select

    Pengelompokan Masyarakat Negeri Tuhaha Pulau Saparua, Maluku Tengah Tinjauan Etnoarkeologis

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.81-88 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Pengelompokan Masyarakat Negeri Tuhaha Pulau Saparua, Maluku Tengah Tinjauan Etnoarkeologis
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Pengelompokan Masyarakat, Dolmen, Menhir, Soa
    Description: The Meaning of Tuhaha community’s grouping based on archaeological remains can not be separated from one another, due to the partial temporal nature. This study used a literature study, in order to examine the issue of research, how society grouping Tuhaha State, based on archaeological remains. Archaeological remains is meant here is a dolmen, menhirs and the old village/ancient settlements. The objective of this study is to know and understand the patterns of grouping Tuhaha State community based archaeological remains. The results showed that grouping State community/village Tuhaha archaeological remains contextually based culture has symbolic interaction, integration and socio-cultural systems on the basis of grouping patterns in the structure of the dolmen, menhirs(micro scale) and Old village Huhule (macro scale). Huhule as anintegral unity of the social system, in which there are parts of the system dolmen, menhirs, as well as the concepts of cultural mapping (monodualisme). Integration between the dolmen of five, symbolizing Patalima community groups, and soa of nine (patasiwa). Pemaknaan pengelompokan  masyarakat Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, disebabkan oleh sifat temporal parsial. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan, guna menelaah permasalahan penelitian, yaitu bagaimana pengelompokan masyarakat Negeri Tuhaha, berdasarkan tinggalan arkeologi. tinggalan arkeologis yang dimaksudkan di sini adalah dolmen, menhir serta kampung lama/permukiman kuno. Tujuan daripada penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami pola pengelompokan masyarakat Negeri Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pengelompokan masyarakat Negeri/Desa Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis secara kontekstual budaya memiliki hubungan interaksi simbolik, integrasi dan sistem sosial budaya atas dasar pola pengelompokan pada struktur dolmen, menhir (skala Mikro) dan kampung Lama Huhule (skala Makro). Huhule sebagai kesatuan sistem sosial integral, yang di dalamnya terdapat bagian sistem dolmen, menhir, serta konsep-konsep pemetaan budaya (monodualisme). Integrasi antara dolmen berjumlah lima, melambangkan kelompok masyarakat patalima, dan soa berjumlah sembilan (patasiwa).
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.81-88
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i2.206 (DOI)