187 results
Sort by:
Add to the list:

Selected facet


Expand to all references (without full text)
    • Article
    Select

    Sistem Perbentengan dalam Jaringan Niaga Cengkih Masa Kolonial di Maluku

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.85-98 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    In numbers of colonial archaeological research conducted by Balai Arkeologi Ambon, fort has been identified as the main archaeological remains in the Moluccas. The inventory shown that forts... fortification system developed by VOC in this region.   Rangkaian hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon khususnya bidang arkeologi kolonial menempatkan benteng sebagai salah satu... tinggalan…
    Available
    More…
    Title: Sistem Perbentengan dalam Jaringan Niaga Cengkih Masa Kolonial di Maluku
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Benteng, Kolonial, Cengkih, Maluku
    Description: In numbers of colonial archaeological research conducted by Balai Arkeologi Ambon, fort has been identified as the main archaeological remains in the Moluccas. The inventory shown that forts distributed in almost every islands of the Moluccas.Various research that has been conducted in the past are still unable to explain the historical context in this region. This situation was mainly based on the fact that these research only identify singluar fort in one area and not the larger spatial context. Adopting the historical-arcaheological perspective,this paper tries to understand the historical context of the forts spatial distribution in the moluccas in the relation to the spice monopoly in the region. This research found that the success of the spice trade monopoly is related to the fortification system developed by VOC in this region.   Rangkaian hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon khususnya bidang arkeologi kolonial menempatkan benteng sebagai salah satu tinggalan arkeologi yang dominan di wilayah Maluku. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa bangunan benteng tersebar di hampir setiap pulau di Maluku. Berbagai hasil penelitian yang bersifat eksploratif tersebut dirasakan tidak mampu menjelaskan konteks sejarah sebaran benteng yang ada di wilayah ini. Hal ini disebabkan karena setiap penelitian yang dilakukan hanya mengidentifikasi bangunan benteng dalam suatu daerah sehingga sebaran benteng tidak dipandang sebagai satu kesatuan konteks ruang wilayah tertentu. Melalui perspektif arkeologi-sejarah, tulisan ini berupaya memperoleh gambaran tentang konteks sejarah sebaran benteng khususnya dalam kaitannya dengan masa monopoli cengkih di Maluku. Dengan demikian, diperoleh kesimpulan bahwa keberhasilan sistem monopoli cengkih masa kolonial di Maluku tidak lepas dari sistem perbentengan yang telah dibangun oleh Belanda (VOC) sejak awal penguasaan mereka di wilayah ini.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.85-98
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i2.225 (DOI)

    • Article
    Select

    Tradisi Megalitik dan Sistem Nilai Budaya Maluku

    Marlyn Salhuteru, Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(13), pp.59-76 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    sebagai bangsa yang berbudaya, berbangsa dan bertanah air. Tradisi megalitik merupakan suatu sumberdaya budaya arkeologi yang perlu untuk dijaga, dipelihara serta dirawat. Sebab tradisi megalitik, sebagai bangsa yang berbudaya, berbangsa dan bertanah air. Tradisi megalitik merupakan suatu sumberdaya budaya arkeologi yang perlu untuk dijaga, dipelihara serta dirawat. Sebab tradisi megalitik
    Available
    More…
    Title: Tradisi Megalitik dan Sistem Nilai Budaya Maluku
    Author: Marlyn Salhuteru; Lucas Wattimena
    Subject: Sistem Nilai Budaya, Tradisi Megalitik, Masyarakat, Dan Kebudayaan
    Description: Kepulauan Maluku memiliki tinggalan arkeologis yang sangat kaya dan melimpah tersebar ke seluruk pelosok daerah di Maluku. Kekayaan sumberdaya budaya arkeologis menjadikan substansi identitas sebagai bangsa yang berbudaya, berbangsa dan bertanah air. Tradisi megalitik merupakan suatu sumberdaya budaya arkeologi yang perlu untuk dijaga, dipelihara serta dirawat. Sebab tradisi megalitik masyarakat Maluku adalah kesatuan sistem nilai budaya yang berkelanjutan (tradisi berlanjut) yang selalu terintegrasi dalam siklus masyarakat Maluku yang dahulu, sekarang maupun pada masa-masa mendatang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(13), pp.59-76
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v7i13.169 (DOI)

    • Article
    Select

    Prangko di Indonesia: Kronologi dalam Tinjauan Sejarah Pos Kolonial

    Marlon Nr Ririmasse
    Kapata Arkeologi, 01 March 2016, Vol.2(3), pp.64-79 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Rentang panjang kekuasaan kolonial di Indonesia antara lain direfleksikan lewat berbagai hasil budaya materi dengan ciri kolonial. Arkeologi sebagai studi yang mengkaji aspekaspek masa lalu, Rentang panjang kekuasaan kolonial di Indonesia antara lain direfleksikan lewat berbagai hasil budaya materi dengan ciri kolonial. Arkeologi sebagai studi yang mengkaji aspekaspek masa lalu
    Available
    More…
    Title: Prangko di Indonesia: Kronologi dalam Tinjauan Sejarah Pos Kolonial
    Author: Marlon Nr Ririmasse
    Subject: Kolonial, Pos, Surat, Tanda Bayar, VOC, Daendels, Inggris, Hindia Belanda, Prangko
    Description: Rentang panjang kekuasaan kolonial di Indonesia antara lain direfleksikan lewat berbagai hasil budaya materi dengan ciri kolonial. Arkeologi sebagai studi yang mengkaji aspekaspek masa lalu melalui hasil budaya materi sudah melakukan berbagai kajian untuk merekonstruksi ragam aspek kehidupan masa kolonial di Indonesia. Kajian bangunan monumental seperti benteng maupun kajian keruangan seperti pola tata kota adalah aspek-aspek yang cukup medapat perhatian selama ini. Tulisan ini mencoba untuk melihat konstruksi budaya kolonial dengan sudut pandang berbeda melalui prangko sebagai artefak dalam konstruksi sejarah pos di Indonesia.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 March 2016, Vol.2(3), pp.64-79
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v2i3.38 (DOI)

    • Article
    Select

    Hunian Prasejarah di Jasirah Leihitu Pulau Ambon, Maluku

    Lucas Wattimena, Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.51-58 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    , khususnya Arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perubahan perkembangan permukiman, yaitu dari permukiman di gunung, kemudian turun ke pesisir serta pola permukiman yang menunjukan pola makro antara... Morela dan konteks keseluruhan temuan dengan situs lain disekitarnya. 3) Mengetahui hasil tinggalan arkeologi yang ada. 4) Berguna bagi penelitian-penelitian lanjutan dalam segala bidang…
    Available
    More…
    Title: Hunian Prasejarah di Jasirah Leihitu Pulau Ambon, Maluku
    Author: Lucas Wattimena; Wuri Handoko
    Subject: Prasejarah, Hunian, Perubahan
    Description: Penelitian hunian prasejarah di Jasirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah Pulau Ambon dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana perkembangan permukiamn prasejarah di situs Morela. Tujuan dan manfaat daripada penelitian ini, antara lain : 1) Mendata kembali dan menggali potensi peninggalan arkeologi yang terdapat di Situs Negeri Morela. 2) Mengetahui kronologi dan konteks temuan arkeologi  Negeri Morela dan konteks keseluruhan temuan dengan situs lain disekitarnya. 3) Mengetahui hasil tinggalan arkeologi yang ada. 4) Berguna bagi penelitian-penelitian lanjutan dalam segala bidang ilmu, khususnya Arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perubahan perkembangan permukiman, yaitu dari permukiman di gunung, kemudian turun ke pesisir serta pola permukiman yang menunjukan pola makro antara hubungan temporal parsial situs-situs di Morela. Hasil penelitian didapat dengan menggunakan teknik pengumpulan data; wawancara, survei, telaah pustaka dan ekskavasi.    Prehistoric residential research at Jasirah Leihitu Central Maluku Ambon Island conducted to determine how the development on the site of prehistoric settlement at Morela. The purpose and benefits than this study, among other things: 1) Collecting back and explore the potential of archaeological relics contained in the Site Morela State. 2) Knowing the chronology and context of archaeological findings and the overall context of State Morela findings with other sites around. 3) Knowing the results of archaeological remains there. 4) Useful for advanced research in all fields of science, especially Archaeology. The results showed that there was a change in the development of settlements, from the settlements in the mountains, then down to the coast and settlement patterns that show the macro pattern of partial temporal relationship in Morela sites. Research results obtained by using the technique of data collection; interviews, surveys, literature review and excavation.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.51-58
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i2.186 (DOI)

    • Article
    Select

    A Geological and Spatial Approach to Prehistoric Archaeological Surveys on Small Islands: Case Studies from Maluku Barat Daya, Indonesia

    Shimona Kealy, Lucas Wattimena, Sue O'Connor
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.1-14 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    ini merupakan hasil survei arkeologi tahun 2017 di Pulau Babar Besar dan Pulau Wetang yang termasuk dalam bagian dari kelompok Kepulauan Babar, Maluku Barat Daya, Indonesia. Tercatat sebanyak 62 situs... Survei arkeologi sangat penting untuk penemuan dan interpretasi sisa-sisa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia prasejarah. Saat ini penginderaan jarak jauh dan model prediktif telah... meningkatkan…
    Available
    More…
    Title: A Geological and Spatial Approach to Prehistoric Archaeological Surveys on Small Islands: Case Studies from Maluku Barat Daya, Indonesia
    Author: Shimona Kealy; Lucas Wattimena; Sue O'Connor
    Subject: Survey - Babar - Maluku - Archaeology - Prehistory
    Description: Survei arkeologi sangat penting untuk penemuan dan interpretasi sisa-sisa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia prasejarah. Saat ini penginderaan jarak jauh dan model prediktif telah meningkatkan jangkauan dan keberhasilan survei arkeologi, namun survei pejalan kaki untuk mengembangkan parameter model dan prediksi kebenaran dasar masih penting untuk keberhasilan suatu penemuan. Penelitian ini merupakan hasil survei arkeologi tahun 2017 di Pulau Babar Besar dan Pulau Wetang yang termasuk dalam bagian dari kelompok Kepulauan Babar, Maluku Barat Daya, Indonesia. Tercatat sebanyak 62 situs arkeologi ditemukan di kedua pulau tersebut, tujuh diantaranya merupakan situs lukisan cadas baru yang ditemukan di Pulau Wetang. Hasil survei ini menunjukkan keberhasilan penggunaan peta geologi dan topografi di samping citra satelit dalam mendeteksi daerah prospektif untuk survei. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemahaman karakteristik geologi daerah yang lebih rinci dan komparatif diperlukan sebelum dilakukan survei jarak jauh yang lebih lanjut di wilayah Maluku Barat Daya, Indonesia. Archaeological surveys are essential to the discovery and interpretation of remains left by past human activities. While remote sensing and predictive models have greatly improved the reach and success of archaeological survey, pedestrian surveys to develop model parameters and ground-truth predictions is still imperative for successful discoveries. Here we present the results of the 2017 archaeological survey of islands Babar Besar and Wetang in the Babar Island Group, Maluku Barat Daya, Indonesia. A total of 62 archaeological sites were recorded between the two islands; seven of which represent new rock art sites on Wetang island. Our survey results indicate the successful use of geological and topographic maps alongside satellite images in detecting prospective regions for survey. Results also indicate however that a more detailed and comparative understanding of the regions geology is required before more advanced forms of remote survey are conducted in the Maluku Barat Daya region.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.1-14
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.458 (DOI)

    • Article
    Select

    Situs Permukiman Kuno di Waeyasel Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah

    Marlyn Salhuteru
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.59-64 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    bahwa Kota Mulu adalah lokasi permukiman masyarakat Waeyasel pada masa lampau. Tim penelitian Balai Arkeologi Ambon melakukan penelitian di situs ini dengan menerapkan metode survei permukaan bertujuan... untuk mendata dan mendokumentasikan sebanyak mungkin data arkeologi. Penelitian ini  menghasilkan sejumlah data arkeologi yang berciri megalitik berupa dolmen, sejumlah fragmentaris keramik lokal,…
    Available
    More…
    Title: Situs Permukiman Kuno di Waeyasel Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah
    Author: Marlyn Salhuteru
    Subject: Kota Mulu, Situs, Permukiman Kuno, Megalitik
    Description: Situs permukiman kuno yang terdapat di dusun Waeyasel, penduduk setempat menyebutnya Kota Mulu adalah sebuah dataran di antara bukit karang yang cukup terjal. Penduduk di sekitar situs meyakini bahwa Kota Mulu adalah lokasi permukiman masyarakat Waeyasel pada masa lampau. Tim penelitian Balai Arkeologi Ambon melakukan penelitian di situs ini dengan menerapkan metode survei permukaan bertujuan untuk mendata dan mendokumentasikan sebanyak mungkin data arkeologi. Penelitian ini  menghasilkan sejumlah data arkeologi yang berciri megalitik berupa dolmen, sejumlah fragmentaris keramik lokal maupun keramik asing, dan sebuah makam. Sementara dapat disimpulkan bahwa situs kota mulu adalah situs permukiman yang didalamnya juga berlangsung kegiatan sakral sesuai dengan kepercayaan penghuninya, yang dibuktikan dengan keberadaan dolmen sebagai media upacara megalitik. Sedangkan keberadaan makam pada situs ini oleh penduduk sekitar dikatakan merupakan makam dari seorang pesiar agama Islam yang menyebarkan ajaran agama di waeyasel dan sekitarnya. Beliau kemudian meninggal dan dimakamkan di lokasi ini.   Site of ancient settlements located in the hamlet Waeyasel, the locals call it the City Mulu is a plateau in between fairly steep cliff. Residents around the site believes that the City Mulu is Waeyasel community settlements in the past. Ambon Archaeological Institute research team conducted research at this site by applying the method of surface survey aims to assess and document the archaeological data as much as possible. This study resulted in a number of archaeological data, characterized by megalithic dolmen form, a number of fragmentary local and foreign ceramics ceramics, and a tomb. While it can be concluded that the site Mulu city is the site of settlements which also takes place in accordance with the trust sacred activity occupants, as evidenced by the presence of megalithic dolmen as a media ceremony. While the existence of the tomb on this site by people around say is the tomb of a cruise Islam spread religion in Waeyasel and surrounding areas. He then died and was buried at this location.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.59-64
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i2.187 (DOI)

    • Article
    Select

    Tinggalan Perang Dunia II Dan Konseptualisasi Museum di Morotai

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.1-12 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Tinggalan Perang Dunia II Dan Konseptualisasi Museum di Morotai
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Morotai, Museum, Perang Dunia II, Pameran
    Description: Morotai Island is one of the locations which left many traces of World War II in Indonesia. This suggests that Morotai Island has a strategic geographical position for the two military forces involved at the time. In this context, the legacy of World War II in Morotai has important historical value to be preserved, one of them through the establishment of a museum. This study aimed to develop appropriate thematic concept for presentation of the museum. Literature study and field observations conducted to obtain data related to the historical and archaeological remains exist in the study area. The results of this study, obtained information about the actual condition of archaeological remains exist in Morotai, as well as the formulation of the concept of thematic presentation of the exhibition. Thus, early studies of this thematic concepts can provide the storyline, so as to give weight to the information of the existing archaeological remains in the Morotai. Pulau Morotai merupakan salah satu lokasi yang banyak meninggalkan jejak Perang Dunia II di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Pulau Morotai memiliki posisi geografis yang strategis bagi dua kekuatan militer yang terlibat saat itu. Dalam konteks inilah, peninggalan Perang Dunia II yang ada di Morotai memiliki nilai sejarah yang penting untuk dilestarikan, salah satunya melalui pendirian sebuah museum. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun konsep tematik yang tepat bagi penyajian museum. Studi pustaka dan observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh data terkait dengan sejarah dan tinggalan arkeologi yang ada di lokasi penelitian. Hasil kajian ini, diperoleh informasi tentang kondisi aktual tinggalan arkeologi yang ada di Morotai, serta rumusan tentang konsep tematik penyajian pameran. Dengan demikian, studi awal konsep tematik ini dapat memberikan alur cerita atau storyline, sehingga mampu memberikan bobot informasi tinggalan arkeologi yang ada di Morotai.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.1-12
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i1.195 (DOI)

    • Article
    Select

    Sharing Knowledge: Archaeology and Education in the Maluku, Indonesia

    Marlon Nr Ririmasse
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.27-36 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    kontribusi arkeologi untuk mengembangkan muatan lokal dalam pendidikan di wilayah Maluku, Indonesia. Pembahasan tulisan ini akan mencakup contoh sejumlah program dan proyek, yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir. Developing representational historical content for school curricula is a challenge in Indonesia. The wide range of ethnicities and cultural backgrounds in the country has created…
    Available
    More…
    Title: Sharing Knowledge: Archaeology and Education in the Maluku, Indonesia
    Author: Marlon Nr Ririmasse
    Subject: Archaeology - Education - Indonesia - Maluku - Education
    Description: Mengembangkan kurikulum Sekolah bermuatan sejarah yang representatif merupakan sebuah tantangan di Indonesia. Berbagai macam etnis dan latar belakang budaya di negara ini telah menciptakan situasi manajemen pendidikan yang unik. Suatu pendekatan yang tidak konvensional yang menekankan muatan lokal telah dikembangkan oleh Pemerintah dalam dua dekade terakhir untuk memenuhi permintaan terhadap representasi isu-isu lokal dalam sejarah dan mata pelajaran yang terkait di sekolah-sekolah. Meskipun sudah ada pendekatan yang diinisiasi, namun pelaksanaan program di tingkat nasional masih jauh dari efektif karena keterbelakangan konsep dan kekurangan sumber daya manusia. Partisipasi lembaga, kelompok, atau individu dengan pengetahuan dan keahlian tertentu tentang budaya lokal di luar lembaga pendidikan formal dewasa ini diadopsi sebagai solusi yang mungkin efektif. Dalam hal ini arkeologi sangat mungkin memberikan kontribusi positif. Tulisan ini akan membahas masalah dengan berfokus pada kontribusi arkeologi untuk mengembangkan muatan lokal dalam pendidikan di wilayah Maluku, Indonesia. Pembahasan tulisan ini akan mencakup contoh sejumlah program dan proyek, yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir. Developing representational historical content for school curricula is a challenge in Indonesia. The wide range of ethnicities and cultural backgrounds in the country has created a unique education management situation. An unconventional approach emphasizing local content (muatan lokal) has been developed by the national government in the last two decades to address the demand for more representation of local issues in history and related subjects at schools. Despite this creative approach, the implementation of the program at the national level is still far from effective due to the underdevelopment of the concept and shortage of human resources. The participation of institutions, groups or individuals with the particular knowledge and expertise on local culture outside the formal educational institution has recently been adopted as a possible effective solution. This is a role in which archaeology might also make a positive contribution. This paper will discuss this issue by focusing on the contribution of archaeology to develop the local content in the education of Moluccas region in Indonesia. The discussion will include the examples of the program and project, which has been conducted in the last ten years.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.27-36
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.466 (DOI)

    • Article
    Select

    Jejak Tata Niaga Rempah-Rempah dalam Jaringan Perdagangan Masa Kolonial di Maluku

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(13), pp.20-39 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    kaitannya dengan jaringan perdagangan masa kolonial di Maluku. Dengan tujuan tersebut, kajian ini menggunakan studi kepustakaan terkait dengan data arkeologi dan penelusuran sumber sejarah. Hasil dari kajian, kaitannya dengan jaringan perdagangan masa kolonial di Maluku. Dengan tujuan tersebut, kajian ini menggunakan studi kepustakaan terkait dengan data arkeologi dan penelusuran sumber sejarah. Hasil…
    Available
    More…
    Title: Jejak Tata Niaga Rempah-Rempah dalam Jaringan Perdagangan Masa Kolonial di Maluku
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Tata Niaga, Rempah-Rempah, Jaringan Lokal, Masa Kolonial, Maluku
    Description: Jaringan perdagangan masa lalu telah menempatkan rempah-rempah sebagai komoditi utama. Jaringan perdagangan ini semakin ramai dengan kedatangan bangsa Eropa sekitar abad ke-16. Dalam konteks perdagangan global, terbentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan dunia barat sebagai konsumen dan dunia timur sebagai penghasil komoditi. Maluku dikenal sebagai pusat produksi cengkeh dan pala (Kepulauan Rempah-Rempah). Namun, bagaimana jaringan perdagangan global ini dihubungkan dengan tata niaga lokal. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tata niaga rempah-rempah dalam kaitannya dengan jaringan perdagangan masa kolonial di Maluku. Dengan tujuan tersebut, kajian ini menggunakan studi kepustakaan terkait dengan data arkeologi dan penelusuran sumber sejarah. Hasil dari kajian ini, diperoleh informasi bahwa tata niaga rempah-rempah masa Kolonial memusatkan dua jenis komoditi, yaitu cengkeh di wilayah Pulau Ambon dan Kepulauan Lease (Haruku, Saparua, dan Nusalaut), serta pala di wilayah Kepulauan Banda (Lonthor, Ay, dan Neira). Tata niaga tersebut sekaligus menerapkan sistem yang berbeda yaitu sistem dati untuk cengkeh dan sistem perken untuk pala.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(13), pp.20-39
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v7i13.167 (DOI)

    • Article
    Select

    Struktur Sosial pada Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan Zaman Hindia Belanda di Jawa Bagian Barat

    Lia Nuralia
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.1-20 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik, hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik
    Available
    More…
    Title: Struktur Sosial pada Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan Zaman Hindia Belanda di Jawa Bagian Barat
    Author: Lia Nuralia
    Subject: Struktur Sosial, Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan, Jawa Bagian Barat
    Description: This paper aims to reveal the social structure on the high officials of plantation residence in west part of Java. This paper is based on research reports using archaeological research methods, explaining about the architecture, layout, materials, and technology used to determine the symbolic meaning behind the physical form of the building. Structure concept and non-verbal communication concept can explain that the high officials of plantation residence is a central building in the plantation emplacement. The residence as a symbol of great power, especially in the plantation environment that still exist until now. Tulisan ini bertujuan mengungkap struktur sosial pada rumah pejabat tinggi perkebunan peninggalan zaman Hindia Belanda di Jawa bagian barat. Tulisan ini berdasarkan laporan hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik bangunan. Structure concept dan non-verbal communication concept dapat menjelaskan bahwa rumah pejabat tinggi perkebunan merupakan bangunan sentral dalam emplasemen perkebunan. Rumah tersebut sebagai simbol kuasa besar, terutama di lingkungan perkebunan yang masih eksis sampai sekarang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.1-20
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.374 (DOI)