189 results
Sort by:
Add to the list:
  • Article
    Select

    Tinggalan Arkeologi Masa Kolonial di Wilayah Kepulauan Maluku: Sebuah Evaluasi Hasil Penelitian

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.85-94 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    perdagangan rempah-rempah, dimana wilayah Kepulauan Maluku merupakan pusat produksi dua jenis rempah-rempah yaitu cengkeh dan pala. Dalam konteks inilah, penelitian arkeologi yang dilaksanakan oleh Balai... Arkeologi Ambon melalui tema Pengaruh Kolonial berupaya untuk mengkaji lebih jauh berbagai aspek yang terkait dengan masa penguasaan bangsa Eropa di wilayah Kepulauan Maluku. Makalah ini akan...…
    Available
    More…
    Title: Tinggalan Arkeologi Masa Kolonial di Wilayah Kepulauan Maluku: Sebuah Evaluasi Hasil Penelitian
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Tinggalan Arkeologi, Kolonial, Penelitian, Evaluasi
    Description: Balai Arkeologi Ambon dengan wilayah kerja meliputi Provinsi Maluku dan Maluku Utara (selanjutnya disebut wilayah Kepulauan Maluku) telah menetapkan tema penelitian yang sesuai dengan kondisi wilayah kerjanya. Salah satu tema yang dikembangkan dalam pelaksanaan penelitian arkeologi di Balai Arkeologi Ambon adalah tema Pengaruh Kolonial di Nusantara. Hal ini, tentu saja tidak lepas dari sejarah kebudayaan yang pernah ada dan berkembang di wilayah Kepuluan Maluku. Seperti diketahui bahwa sejarah kedatangan bangsa asing terutama bangsa Eropa di nusantara diawali oleh faktor ekonomi yaitu perdagangan rempah-rempah, dimana wilayah Kepulauan Maluku merupakan pusat produksi dua jenis rempah-rempah yaitu cengkeh dan pala. Dalam konteks inilah, penelitian arkeologi yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Ambon melalui tema Pengaruh Kolonial berupaya untuk mengkaji lebih jauh berbagai aspek yang terkait dengan masa penguasaan bangsa Eropa di wilayah Kepulauan Maluku. Makalah ini akan merangkum berbagai hasil penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon sejak didirikan pada tahun 1995 hingga saat ini. Selanjutnya, akan dipaparkan ruang lingkup penjelasan yang tercakup dalam berbagai hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Makalah ini juga berupaya melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek terkait dengan tema pengaruh kolonial khususnya di wilayah Kepulauan Maluku.   Archaeological Institute of Ambon with work areas include Maluku and North Maluku (hereinafter referred to as the Moluccas Islands) has set the theme of the research in accordance with the conditions of their working area. One of the themes developed in the implementation of archaeological research at the Institute of Archaeology of Colonial Influence Ambon is a theme in the archipelago. It is, of course, can not be separated from the cultural history that ever existed and flourished in the area of Moluccas Islands. As it is known that the history of the arrival of foreigners, especially Europeans in the archipelago preceded by economic factors, namely the spice trade, which is the center of the Maluku Islands of production of two types of spices are cloves and nutmeg. In this context, archaeological research carried out by the Archaeological Institute of Ambon through the Colonial Influence theme seeks to further examine various aspects linked to the control of European nations in the Moluccas Islands. This paper will summarize the results of archaeological research carried out by the Archaeological Institute of Ambon since its inception in 1995 until today. Furthermore, an explanation will be presented scope covered by the various studies that have been conducted. This paper also attempts to evaluate the various aspects related to the theme of colonial influence, especially in the Maluku Islands.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.85-94
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i2.190 (DOI)

  • Article
    Select

    Abad Baru Purbakala: Memilih Arah Menentukan Peran Penelitian Arkeologi di Maluku

    Marlon Nr Ririmasse
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.75-86 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Abad Baru Purbakala: Memilih Arah Menentukan Peran Penelitian Arkeologi di Maluku
    Author: Marlon Nr Ririmasse
    Subject: Arkeologi, Arah Dan Peran Penelitian, Maluku
    Description: A year has passed since the celebration of 100th years of Indonesian archaeology. On June 14th 2013, this golden moment was commemorated by institutions and individuals. The nostalgic euphoria has been transformed into the festive spirit of various events. Ranging from seminars to exhibitions. From small gatherings to the colosal stages. There is a pride that rised from the establishment of this 100th anniversary. This article tries to discuss the current situation in the Indonesian archaeology by dissect the anatomy of archaeological research in the Moluccas Archipleago. The ideas disscussed will cover the review of archaeological research in the Moluccas historically; followed by observing the recent activities  to understand the impacts of archaeological research for the region and its communities; and finally initiate the discussion on choosing the direction and the role of archaeological research for the academic and social purpose in the near future. Tak terasa hampir setahun telah dilewati sejak perayaan satu abad purbakala Nusantara. Tepat tanggal 14 Juni 2013 silam, momentum emas ini diperingati segenap insan arkeologi Indonesia. Gempita nostalgia dikemas menjadi semangat perayaan dalam berbagai kegiatan. Mulai dari seminar sampai pameran. Sekedar sukuran hingga pentas kolosal. Ada kebanggaan yang membuncah dari angka mapan usia ke-100. Kini pesta telah usai. Segalanya kembali senyap.  Rasanya tepat untuk mulai merenung. Tentang makna menjadi lembaga dengan umur yang bahkan lebih sepuh dari negara. Memikirkan kembali kiprah pun capaian. Menemukenali kekurangan dan kendala. Adakah arkeologi akan terus mengalir dengan wawasan klasik business as usual? Ataukah memilih bercermin pada jernih kondisi kekinian dan bergegas membenahi diri? Makalah ini mencoba mengamati kondisi terkini arkeologi nasional dengan membedah anatomi penelitian arkeologi di Kepulauan Maluku dalam kerangka kronologis. Alur gagasan yang dibahas mencakup tinjauan atas rekam historis penelitian yang membentuk wajah arkeologi Maluku; dilanjutkan dengan mengamati aktivitas masa kini guna melihat aktualisasi studi arkeologi bagi kemajuan wilayah dan masyarakat; serta membuka ruang diskusi tentang memilih arah dan menentukan peran penelitian arkeologi bagi tujuan akademis dan sosial di masa mendatang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.75-86
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i2.288 (DOI)

  • Article
    Select

    Perangkat Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Penelitian dan Penyajian Informasi Arkeologi

    Muhammad Al Mujabuddawat
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.29-42 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Perangkat Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Penelitian dan Penyajian Informasi Arkeologi
    Author: Muhammad Al Mujabuddawat
    Subject: Sistem Informasi Geografis (SIG), Geospasial, Peneliti, Arkeologi, Kebijakan Satu Peta
    Description: Archaeology is closely associated with spatial or spatial aspects. Because the material archeological data such as artifacts, features, buildings, and sites containing the inherent spatial information in order to keep the data context. The themes of the archaeological research nowadays often reconstructing the spatial aspects of history and culture. Device Geographic Information System (GIS) is clearly greatly assist the process of archaeological research both in the field and during the process of analysis and presentation of information related to the results of the research. GIS has become the main choice for researchers to update the development of archeology that have been all-digital, practical, and effective. Although the use of GIS in archaeological research is very popular in many countries, in fact the use of GIS in archaeological research in Indonesia is still not that popular. This paper presents the use of GIS tools that allowed to be applied by archaeologists that can be adopted in the analysis and presentation of information and research results, conditions of application of GIS in the current archaeological research, as well as the constraints faced. This paper shows that recently the archaeologists in Indonesia is very enthusiactic in using the GIS for the effective spatial analysis tools. The government is also concerned about the importance of GIS in mapping the spatial data of heritage as well archaeological research locations in order to support the acceleration of One Map Policy. Ilmu arkeologi sangat erat kaitannya dengan aspek keruangan atau spasial. Karena materi data arkeologi seperti artefak, fitur, bangunan, dan situs mengandung informasi spasial yang melekat agar tidak kehilangan data konteksnya. Tema-tema penelitian arkeologi dewasa ini tidak sedikit yang bertemakan aspek spasial dalam merekonstruksi sejarah dan budaya. Perangkat Sistem Informasi Geografis (SIG) jelas sangat membantu proses penelitian arkeologi baik di lapangan maupun saat proses analisis dan penyajian informasi terkait hasil penelitian semacam itu. SIG menjadi pilihan bagi peneliti arkeologi dalam mengikuti perkembangan dunia riset yang serba digital, praktis, dan efektif. Walaupun penggunaan perangkat SIG dalam penelitian arkeologi sangat populer di banyak negara, namun kenyataannya penggunaan perangkat SIG dalam penelitian arkeologi di Indonesia belum cukup polpuler. Penelitian ini menyajikan penggunaan perangkat SIG yang memungkinkan diterapkan oleh peneliti arkeologi yang dapat membantu dalam proses analisis dan penyajian informasi hasil penelitian, kondisi penerapan perangkat SIG di dalam penelitian arkeologi saat ini, serta kendala-kendala yang dihadapi. Penelitian ini menunjukkan bahwa dewasa ini perhatian peneliti arkeologi di Indonesia terhadap peran SIG cukup terbuka mengingat kebutuhan perangkat analisis spasial yang efektif. Pemerintah juga menaruh perhatian akan pentingnya SIG dalam memetakan data spasial Cagar Budaya dan Lokasi penelitian arkeologi dalam rangka mendukung percepatan kebijakan One Map Policy atau kebijakan Satu Peta.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.29-42
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i1.319 (DOI)

  • Article
    Select

    Kejayaan Kesultanan Buton Abad Ke-17 & 18 dalam Tinjauan Arkeologi Ekologi

    Muhammad Al Mujabuddawat
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(1), pp.21-32 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Kejayaan Kesultanan Buton Abad Ke-17 & 18 dalam Tinjauan Arkeologi Ekologi
    Author: Muhammad Al Mujabuddawat
    Subject: Arkeologi Ekologi, Buton, Lingkungan, Kesultanan, Niaga
    Description: Buton Sultanate is a prosperous maritime sultanate in its heyday. Buton Sultanate land is not very fertile and does not produce a lot of commodities, but it is quite well known because of its location in the commercial lines, so that it becomes a stopover place for passing ships. This paper provides an overview of ecological archaeology towards the triumph case of Buton Sultanate in the 17th-18th century. The research method used in this paper is literature study and review of a theory through an observation of cultural ecology and environmental determinism. The results show that the ecological aspects affect the heyday of the Buton Sultanate. Buton Sultanate does not produce a lot of major commodities, but it is successfully adapt to environmental conditions and maximize the benefits derived from the ecological aspects by applying it to the structure of Sultanate society, a commercial network, and material culture. The profits are also applied to maintain its legitimacy in the great power of hegemony in the region. Success in 'conquering' the environment makes the Buton Sultanate victorious, even the identity of 'kebutonan' still embedded in Buton society until this day. Kesultanan Buton merupakan kesultanan bercorak maritim yang cukup besar pada masa jayanya. Daratan Kesultanan Buton tidak begitu subur dan tidak banyak menghasilkan komoditi namun cukup terkenal karena lokasinya terletak di jalur niaga, sehingga menjadi lokasi singgah bagi kapal-kapal yang melintas. Penelitian ini berisi tinjauan arkeologi ekologi terhadap kasus kejayaan kesultanan Buton abad ke-17-18. Metode penelitian menggunakan studi pustaka dan tinjauan teori melalui tinjauan model cultural ecology dan environmental determinism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek-aspek ekologi berpengaruh terhadap kejayaan Kesultanan Buton. Kesultanan Buton tidak banyak menghasilkan komoditi utama, namun berhasil menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya dan sukses memaksimalkan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari aspek ekologis. Dengan menerapkannya pada struktur masyarakat Kesultanan, jaringan perniagaan, budaya material, Kesultanan Buton mempertahankan legitimasi dalam hegemoni kekuatan besar di wilayahnya. Kesuksesan dalam ‘menaklukan’ lingkungan menjadikan Kesultanan Buton berjaya, bahkan hingga saat ini identitas ‘kebutonan’ masih melekat di dalam masyarakat Buton.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(1), pp.21-32
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i1.279 (DOI)

  • Article
    Select

    Perkembangan Islam di Pulau Ambalau: Kajian atas Data Arkeologi dan Tradisi Makam Islam Berundak

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.25-34 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Abstrak Kajian terhadap perkembangan Islam salah satunya menyangkut apek karakteristik Islam dapat dilihat melalui lensa arkeologi berdasarkan temuan artefak maupun fitur. Dalam aspek budaya... prasejarah hingga munculnya Islam. Dari data arkeologi dan tradisi yang masih bertahan, memberikan gambaran bahwa agama Islam berkembang dengan tetap mengakomodir kepercayaan lokal yang berbasis pada... megalitis…
    Available
    More…
    Title: Perkembangan Islam di Pulau Ambalau: Kajian atas Data Arkeologi dan Tradisi Makam Islam Berundak
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Islam, Makam Kuno, Kepercayaan, Tradisi, Lokal
    Description: Abstrak Kajian terhadap perkembangan Islam salah satunya menyangkut apek karakteristik Islam dapat dilihat melalui lensa arkeologi berdasarkan temuan artefak maupun fitur. Dalam aspek budaya material tersebut, dapat memperlihatkan perkembangan nilai budaya yang terkandung dalam konteks sistem dan transformasi nilai budaya sejak masa lampau hingga kini. Data arkeologi yang menunjukkan karakter megalitis hingga data arkeologi Islam serta tradisi keagamaan yang berlaku pada mayarakat Ambalau, memberikan gambaran tentang perkembangan religi mayarakat lokal sejak kepercayaan atau religi masa prasejarah hingga munculnya Islam. Dari data arkeologi dan tradisi yang masih bertahan, memberikan gambaran bahwa agama Islam berkembang dengan tetap mengakomodir kepercayaan lokal yang berbasis pada kepercayaan terhadap leluhur. Bentuk makam kuno berundak, adalah salah satu wujud material budaya yang menggambarkan bahwa masyarakat sangat menghormati leluhur.   Abstract The study on the development of Islam one of which involves stale Islamic characteristics can be seen through the lens based on the findings of archaeological artifacts and features. In the aspect of material culture, can show the development of cultural values   embodied in the context of the system and transformation of cultural values from the past until now. Archaeological data indicate that the data character megalitis Islamic archeology and religious traditions prevailing in society Ambalau, gives an overview of the development of local people’s religious beliefs or religious since prehistoric times until the advent of Islam. Of archaeological data and traditions still survive, giving the impression that Islam evolved with fixed accommodate local beliefs based on trust towards ancestors. The shape of an ancient tomb staircase, is one manifestation of cultural material that illustrates that the community is honoring ancestors.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.25-34
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i1.177 (DOI)

  • Article
    Select

    Selayang Pandang tentang Tinggalan Arkeologi Kolonial dan Budaya Ikan Lompa di Negeri Haruku

    Andrew Huwae
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.6(11), pp.117-126 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Selayang Pandang tentang Tinggalan Arkeologi Kolonial dan Budaya Ikan Lompa di Negeri Haruku
    Author: Andrew Huwae
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.6(11), pp.117-126
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v6i11.149 (DOI)

  • Article
    Select

    Studi Keruangan dalam Arkeologi, Prospek Penelitiannya di Maluku dan Maluku Utara

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 March 2016, Vol.2(2), pp.106-125 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Studi Keruangan dalam Arkeologi, Prospek Penelitiannya di Maluku dan Maluku Utara
    Author: Syahruddin Mansyur
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 March 2016, Vol.2(2), pp.106-125
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v2i2.30 (DOI)

  • Article
    Select

    Arkeologi Kepulauan Tanimbar Bagian Utara: Tinjauan Potensi di Pulau Fordata dan Pulau Larat Maluku Indonesia

    Marlon Nr Ririmasse
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.43-58 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Arkeologi Kepulauan Tanimbar Bagian Utara: Tinjauan Potensi di Pulau Fordata dan Pulau Larat Maluku Indonesia
    Author: Marlon Nr Ririmasse
    Subject: Arkeologi, Tinjauan Potensi, Pulau Larat, Pulau Fordata
    Description: Tanimbar islands is one of the most southern island group in Maluku.  This area is a land bridge that connects Kei-Aru Islands and Papua with the Babar-Sermata Islands until Timor.  Directly adjacent to Australia, Tanimbar is also an area of the outer boundary of Indonesia. This area is also known for its rich variety of cultural heritage. As reflected in the academics works and diverse collection of Tanimbar material culture in various world museum.  Archaeological study have been conducted since 2006 but only covered the southern part of this archipelago. This paper is the result of the archaeological studies in the Northern Part of the Tanimbar Islands with the focus on Fordata and Larat Island. The reconaissance survey have been adopted as the approach in this research. This study found that the island of Larat and Fordata is rich with the archaeological potential and is recommended to be followed with the further research in the future. Kepulauan Tanimbar merupakan salah satu gugus pulau paling selatan yang terletak di Maluku. Wilayah ini merupakan jembatan darat yang menghubungkan antara Kepulauan Kei-Aru dan Papua dengan Kepulauan Babar-Sermata hingga Timor dan Nusa Tenggara. Berbatasan langsung dengan Australia, Kepulauan Tanimbar juga merupakan kawasan tapal batas terluar Nusantara. Wilayah ini juga dikenal dengan ragam pusaka budaya yang kaya. Sebagaimana ditemukan dalam karya akademis dan ragam koleksi benda budaya Tanimbar di berbagai museum dunia. Studi arkeologi telah dilakukan sejak tahun 2006 namun hanya menjangkau wilayah bagian selatan dan tenggara kepulauan ini. Makalah ini merupakan hasil studi arkeologis untuk wilayah Tanimbar Bagian Utara dengan perhatian pada Pulau Fordata dan Pulau Larat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei penjajakan. Hasil penelitian menemukan bahwa Pulau Fordata dan Pulau Larat kaya dengan potensi kepurbakalaan dan layak ditindaklanjuti dengan studi arkeologis yang lebih mendalam.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.43-58
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i1.318 (DOI)

  • Article
    Select

    Peran Wilayah Negeri Larike pada Masa Kolonial

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.65-72 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    deskriptif dan analogi sejarah, tulisan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi sebaran tinggalan arkeologi yang ada di Negeri Larike, serta peran wilayah Negeri Larike dalam konteks historis masa... Kolonial. Hasil penelitian mengungkap bahwa terdapat beberapa tinggalan arkeologi yang ada di wilayah ini. Ragam tinggalan tersebut sekaligus memberi gambaran peran wilayah sebagai salah satu wilayah...…
    Available
    More…
    Title: Peran Wilayah Negeri Larike pada Masa Kolonial
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Arkeologi, Kolonial, Negeri Larike
    Description: Sejak kehadiran bangsa Eropa Khususnya Belanda di Nusantara, berbagai upaya dilakukan untuk menguasai perdagangan termasuk di Kepulauan Maluku sebagai sumber utama produksi cengkih. Latar historis ini dapat diamati melalui sebaran tinggalan arkeologi masa Kolonial yang ada di wilayah ini, salah satunya adalah Negeri Larike yang berada di pesisir barat Jazirah Leihitu. Melalui metode analisis deskriptif dan analogi sejarah, tulisan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi sebaran tinggalan arkeologi yang ada di Negeri Larike, serta peran wilayah Negeri Larike dalam konteks historis masa Kolonial. Hasil penelitian mengungkap bahwa terdapat beberapa tinggalan arkeologi yang ada di wilayah ini. Ragam tinggalan tersebut sekaligus memberi gambaran peran wilayah sebagai salah satu wilayah pemusatan produksi cengkih dan pusat administrasi pemerintahan Belanda untuk wilayah Pesisir Barat Jazirah Leihitu.   Since the presence of Europeans Especially the Dutch in the archipelago, various attempts were made to control the trade, including in the Maluku Islands as the main source of production of cloves. This historical background can be observed through the distribution of archaeological remains of the colonial period in this region, one of which is the Larike Village located in the west coast of Leihitu Peninsula. Through descriptive analysis method and historical analogies, this paper is intended to identify the distribution  of archaeological remains exist in Larike Village, as well as the role of the territory Larike Village in historical context Colonial period. Results of the study revealed that there are several archaeological remains exist in this region. The remains variety as well as describing the role of the region as one of the area concentration clove production and administrative center of the Dutch government for the territory of the West Coast Leihitu Peninsula.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.65-72
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i2.188 (DOI)

  • Article
    Select

    Survei Arkeologis di Kawasan Halmahera Bagian Tengah

    Marlon Nr Ririmasse
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.13-28 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Survei Arkeologis di Kawasan Halmahera Bagian Tengah
    Author: Marlon Nr Ririmasse
    Subject: Arkeologi, Halmahera Tengah, Kawasan Karst
    Description: Halmahera is one main island in the northeast region of Wallacea. Having a uniquely environmental profile, Halmahera also serves as a home for a long cultural historical process of this region. Including for archaeological studies. Numbers of preliminary studies have been conducted to understand the dynamic of region’s culture in the past. Unfortunately, the quantity and the depth of these studies have not equivalent to the colossal potential of Halmahera’s culture history. This research is a part of the efforts to contribute in completing our knowledge on the dynamics of culture history in Halmahera. Focus of this research is to identify the archaeological potential in the geographic area of Central Halmahera. The opening of the large scale nickel mines in this region which is potentially threaten the preservation of the cultural heritage is the main consideration in chosing the research locus. Prelimenary survey has been adopted as an approach in this research. This study found that the region of Central Halmahera is a high potentially area for archaeological research according to the large coverage of the karst area in this region. Rescue and preservation action of sites in the mining area is absolutely necessary in order to maintaining the existence of all cultural heritage in the region. Halmahera merupakan salah satu daratan utama di timur laut kawasan Wallasea. Tidak hanya memiliki profil lingkungan yang khas, Halmahera juga merupakan rumah bagi proses panjang sejarah budaya kawasan. Termasuk bagi studi arkeologis. Berbagai kajian awal telah dilakukan untuk memahami dinamika budaya masa lalu di wilayah ini. Meski demikian kuantitas dan kedalamannya kiranya belum berbanding lurus dengan potensi raya sejarah budaya Halmahera sebagai sebuah kawasan. Kajian ini merupakan bagian dari upaya dalam berkontribusi melengkapi pengetahuan terkait dinamika sejarah budaya di wilayah Halmahera. Fokus penelitian diarahkan untuk menemukan segenap potensi arkeologis dalam lingkup geografis Halmahera Bagian Tengah. Pembukaan tambang nikel berskala besar di wilayah ini yang mengancam kelestarian warisan budaya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penentuan lokus. Survei penjajakan diadopsi sebagai metode dalam kajian ini. Hasil penelitian menemukan bahwa wilayah Halmahera Tengah memiliki potensi tinggi secara arkeologis mengacu pada bentang luas kawasan karst yang potensial sebagai hunian masa lalu dan segenap jejak tradisi yang masih melekat dalam keseharian masyarakat. Tindakan penyelamatan dan pelestarian atas situs-situs dalam pertambangan nikel mutlak diperlukan untuk menjaga eksistensi segenap warisan budaya dalam kawasan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.13-28
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i1.196 (DOI)