11 results
Sort by:
Add to the list:
  • Article
    Select

    Kerajaan Loloda: Melacak Jejak Arkeologi dan Sejarah

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.179-194 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Kerajaan Loloda: Melacak Jejak Arkeologi dan Sejarah
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Loloda - Kerajaan - Sejarah - Arkeologi - Islam
    Description: A few historical source mention the Kingdom of Loloda as one of the great kingdoms of North Maluku, contemporaneous with the four Islamic kingdoms that developed into sultanates, namely Ternate, Tidore, Bacan and Jailolo. However, compared to these powers, the development of Islamic rule in Loloda is not well known through historical sources, and the kingdom is even said to have collapsed in the early 20th century. In this article I discuss the results of research to trace archaeological evidence about the history of the Kingdom of Loloda. Starting with literary sources, I then describe the results of archaeological surveys in the area mentioned in historical text and public information. Archaeological surveys indicate that the center of the Loloda kingdom was located in the Loloda watershed in Loloda Sub-district, Halmahera Barat District. Archaeological research results suggest the Kingdom of Loloda grew from the 16th century and experienced collapse at the time of European colonialism. Kerajaan Loloda dalam teks sumber sejarah yang terbatas, disebut-sebut sebagai salah satu kerajaan besar di Maluku Utara, sezaman dengan empat aliansi kerajaan Islam yang berkembang menjadi kesultanan yakni, Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Namun dibanding keempat kekuasaan Islam itu, Loloda tidak diketahui perkembangannya, bahkan disebut runtuh pada awal abad 20 dan hilang dalam catatan sejarah perkembangan kekuasaan Islam. Penulisan ini berdasar pada hasil penelitian untuk melacak bukti-bukti arkeologi tentang sejarah Kerajaan Loloda. Dimulai dari pengumpulan sumber literatur, kemudian dilanjutkan dengan survei arkeologi di wilayah yang disebut dalam teks sejarah dan informasi masyarakat. Berdasarkan hasil survei arkeologi, diketahui adanya lokasi yang menjadi indikasi pusat kerajaan Loloda di DAS (daerah aliran sungai) Loloda di Kecamatan Loloda Kabupaten Halmahera Barat. Hasil penelitian arkeologi menggambarkan bahwa Kerajaan Loloda  berkembang pada abad 16 dan mengalami keruntuhan sesudahnya ketika kolonialisme bangsa Eropa berkembang di wilayah itu.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.179-194
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.423 (DOI)

  • Article
    Select

    Arkeologi Sejarah Islam di Pesisir Selatan Pulau Seram Maluku Tengah

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.79-90 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Arkeologi Sejarah Islam di Pesisir Selatan Pulau Seram Maluku Tengah
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Islamisasi, Jaringan, Politik, Seram
    Description: The history of Islamization in the region Seram Island Maluku until recently only records the Kingdom Hoamoal as the center of Islamization in the region. However, the formation of customary lands inhabited by the Muslim community is appealing to uncover where Islam originated and how it goes. This research is focused to see Islamization networks formed on indigenous lands in the southern coastal areas of the island of Seram by conducting the archaeological research that adopted survey method and oral history interviews to discover traces of the presence of Islam. This study found that Islamization in the southern coastal areas of the island of Seram, arised from the central region of Islam in the Maluku Islands; with another possibility that have been introduced from Java and the homeland of Islam, Arab and Persia. The study also found the formation process of political networks in the spread of Islam to get to the southern coastal areas of the island of Seram. Dalam sejarah Islamisasi di wilayah Pulau Seram Maluku sejauh ini, hanya menyebut Kerajaan Hoamoal sebagai pusat Islamisasi di wilayah tersebut. Meski demikian, terbentuknya negeri-negeri adat yang dihuni komunitas muslim, menarik untuk diungkap dari mana Islam berasal dan bagaimana perkembangannya. Penelitian ini difokuskan untuk melihat jaringan Islamisasi yang terbentuk pada negeri-negeri adat di wilayah pesisir selatan Pulau Seram. Melalui penelitian arkeologi, dengan metode survei serta wawancara untuk menelusuri sejarah lisan jejak kehadiran Islam. Penelitian ini menemukan bahwa Islamisasi di wilayah pesisir selatan Pulau Seram, berasal dari wilayah pusat kekuasaan Islam di Kepulauan Maluku, juga kemungkinan dari Jawa dan tanah asal Islam dari Arab dan Persia. Penelitian ini juga menemukan bagaimana terbentuknya jaringan politik dalam proses penyebaran Islam hingga sampai ke wilayah pesisir selatan Pulau Seram.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(1), pp.79-90
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i1.307 (DOI)

  • Article
    Select

    Perkembangan Islam di Pulau Ambalau: Kajian atas Data Arkeologi dan Tradisi Makam Islam Berundak

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.25-34 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Abstrak Kajian terhadap perkembangan Islam salah satunya menyangkut apek karakteristik Islam dapat dilihat melalui lensa arkeologi berdasarkan temuan artefak maupun fitur. Dalam aspek budaya... prasejarah hingga munculnya Islam. Dari data arkeologi dan tradisi yang masih bertahan, memberikan gambaran bahwa agama Islam berkembang dengan tetap mengakomodir kepercayaan lokal yang berbasis pada... megalitis…
    Available
    More…
    Title: Perkembangan Islam di Pulau Ambalau: Kajian atas Data Arkeologi dan Tradisi Makam Islam Berundak
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Islam, Makam Kuno, Kepercayaan, Tradisi, Lokal
    Description: Abstrak Kajian terhadap perkembangan Islam salah satunya menyangkut apek karakteristik Islam dapat dilihat melalui lensa arkeologi berdasarkan temuan artefak maupun fitur. Dalam aspek budaya material tersebut, dapat memperlihatkan perkembangan nilai budaya yang terkandung dalam konteks sistem dan transformasi nilai budaya sejak masa lampau hingga kini. Data arkeologi yang menunjukkan karakter megalitis hingga data arkeologi Islam serta tradisi keagamaan yang berlaku pada mayarakat Ambalau, memberikan gambaran tentang perkembangan religi mayarakat lokal sejak kepercayaan atau religi masa prasejarah hingga munculnya Islam. Dari data arkeologi dan tradisi yang masih bertahan, memberikan gambaran bahwa agama Islam berkembang dengan tetap mengakomodir kepercayaan lokal yang berbasis pada kepercayaan terhadap leluhur. Bentuk makam kuno berundak, adalah salah satu wujud material budaya yang menggambarkan bahwa masyarakat sangat menghormati leluhur.   Abstract The study on the development of Islam one of which involves stale Islamic characteristics can be seen through the lens based on the findings of archaeological artifacts and features. In the aspect of material culture, can show the development of cultural values   embodied in the context of the system and transformation of cultural values from the past until now. Archaeological data indicate that the data character megalitis Islamic archeology and religious traditions prevailing in society Ambalau, gives an overview of the development of local people’s religious beliefs or religious since prehistoric times until the advent of Islam. Of archaeological data and traditions still survive, giving the impression that Islam evolved with fixed accommodate local beliefs based on trust towards ancestors. The shape of an ancient tomb staircase, is one manifestation of cultural material that illustrates that the community is honoring ancestors.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.25-34
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i1.177 (DOI)

  • Article
    Select

    Ekspansi Kekuasaan Islam Kesultanan Ternate di Pesisir Timur Halmahera Utara

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.95-108 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Ekspansi Kekuasaan Islam Kesultanan Ternate di Pesisir Timur Halmahera Utara
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Ekspansi, Islam, Arkeologi, Sejarah, Ternate, Halmahera Utara
    Description: North Halmahera is an expansion area of Ternate Sultanate, a Muslim state in eastern Indonesia. This study focuses on archaeological evidence to explain the process and development of the influence of Islamic Ternate Sultanate in that region. Through archaeological surveys, literature studies and interviews, gathered evidence on the influence of Islam in the region, especially its relation to the political power and economic  factor of the Ternate Sultanate, as the center of Islamic power in North Maluku. The result shows that the east coast of North Halmahera, including Tobelo, Galela and Kao, is an expansion area of Ternate's Islamic rule that developed since the 16th century AD, even the evidence of the region under Ternate's rule can still be found today.   Halmahera Utara merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate, sebuah kerajaan Islam di Indonesia bagian timur. Kajian ini menitikberatkan pada bukti-bukti arkeologis untuk menjelaskan proses dan perkembangan pengaruh Islam Kesultanan Ternate di wilayah tersebut. Melalui survei arkeologi, studi literatur dan wawancara, dikumpulkan bukti-bukti tentang pengaruh Islam di wilayah tersebut, terutama hubungannya dengan faktor politik kekuasaan dan ekonomi Kesultanan Ternate, sebagai pusat kekuasaan Islam di Maluku Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah pesisir timur Halmahera Utara, meliputi Tobelo, Galela dan Kao, merupakan wilayah ekspansi kekuasaan Islam Ternate yang berkembang sejak abad 16 M, bahkan bukti-bukti wilayah tersebut dibawah kekuasaan Ternate masih dapat dijumpai hingga sekarang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.95-108
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.396 (DOI)

  • Article
    Select

    Hunian Prasejarah di Jasirah Leihitu Pulau Ambon, Maluku

    Lucas Wattimena, Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.51-58 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    , khususnya Arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perubahan perkembangan permukiman, yaitu dari permukiman di gunung, kemudian turun ke pesisir serta pola permukiman yang menunjukan pola makro antara... Morela dan konteks keseluruhan temuan dengan situs lain disekitarnya. 3) Mengetahui hasil tinggalan arkeologi yang ada. 4) Berguna bagi penelitian-penelitian lanjutan dalam segala bidang…
    Available
    More…
    Title: Hunian Prasejarah di Jasirah Leihitu Pulau Ambon, Maluku
    Author: Lucas Wattimena; Wuri Handoko
    Subject: Prasejarah, Hunian, Perubahan
    Description: Penelitian hunian prasejarah di Jasirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah Pulau Ambon dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana perkembangan permukiamn prasejarah di situs Morela. Tujuan dan manfaat daripada penelitian ini, antara lain : 1) Mendata kembali dan menggali potensi peninggalan arkeologi yang terdapat di Situs Negeri Morela. 2) Mengetahui kronologi dan konteks temuan arkeologi  Negeri Morela dan konteks keseluruhan temuan dengan situs lain disekitarnya. 3) Mengetahui hasil tinggalan arkeologi yang ada. 4) Berguna bagi penelitian-penelitian lanjutan dalam segala bidang ilmu, khususnya Arkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perubahan perkembangan permukiman, yaitu dari permukiman di gunung, kemudian turun ke pesisir serta pola permukiman yang menunjukan pola makro antara hubungan temporal parsial situs-situs di Morela. Hasil penelitian didapat dengan menggunakan teknik pengumpulan data; wawancara, survei, telaah pustaka dan ekskavasi.    Prehistoric residential research at Jasirah Leihitu Central Maluku Ambon Island conducted to determine how the development on the site of prehistoric settlement at Morela. The purpose and benefits than this study, among other things: 1) Collecting back and explore the potential of archaeological relics contained in the Site Morela State. 2) Knowing the chronology and context of archaeological findings and the overall context of State Morela findings with other sites around. 3) Knowing the results of archaeological remains there. 4) Useful for advanced research in all fields of science, especially Archaeology. The results showed that there was a change in the development of settlements, from the settlements in the mountains, then down to the coast and settlement patterns that show the macro pattern of partial temporal relationship in Morela sites. Research results obtained by using the technique of data collection; interviews, surveys, literature review and excavation.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.51-58
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i2.186 (DOI)

  • Article
    Select

    Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.123-138 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Tata Kota, Morfologi, Kosmologi, Islam, Lokal, Ternate
    Description: Ternate town, is a thriving Islamic city since 6-17 century AD. Although at that time influenced mainly Portuguese colonial hegemony and the Netherlands, but as a center of Islamic civilization, morphology and cosmology town laid out according to the Islamic concept and local concept. Through archaeological analysis, morphology and cosmological aspects of the town hall is described. For that carried out the archaeological survey in the city of Ternate with trace toponyms ancient city, then through the literature and interviews with sources. Archaeological analysis performed, ie with spatial analysis through data identification features that characterize the ancient city of Islam, as well as contextual analysis by analogy history and local culture. The purpose of this study is to describe the shape and development of the city, as well as cosmological concept underlying the form of urban planning. Results of the study include that component of the city center is characterized by buildings and mosques, kedaton sultan as an orientation center into a city of Ternate characteristics of Islamic civilization. In addition the local characteristics of the town of Ternate is shown by the local cosmological concepts, as well as the division of residential space natives and immigrants. During its development, the urban space is divided into five components, namely component downtown, residential, and commercial economy, burial, and religious. Kota Ternate, adalah sebuah Kota Islam yang berkembang sejak abad ke 6-17 Masehi. Meskipun pada masa itu dipengaruhi pula hegemoni kolonial terutama Portugis dan Belanda, namun sebagai sebuah pusat peradaban Islam, morfologi dan kosmologi kota ditata menurut konsep Islam dan konsep lokal. Melalui analisis arkeologi, aspek ruang morfologi dan kosmologi kota digambarkan. Untuk itu dilakukan survei arkeologi di wilayah Kota Ternate dengan menelusuri toponim-toponim kota kuno, kemudian melalui studi pustaka maupun wawancara dengan narasumber. Analisis arkeologi dilakukan, yakni dengan analisis keruangan melalui identifikasi data fitur yang mencirikan kota kuno Islam, serta analisis kontekstual melalui analogi sejarah dan budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bentuk dan perkembangan kota, serta konsep kosmologi yang melatarbelakangi bentuk tata kota. Hasil penelitian antara lain bahwa komponen pusat kota yang dicirikan oleh bangunan kedaton sultan dan masjid sebagai pusat orientasi menjadi karakteristik Ternate sebagai kota peradaban Islam. Selain itu ciri lokal kota Ternate ditunjukkan dengan konsep kosmologi lokal, serta adanya pembagian ruang hunian pribumi dan pendatang. Dalam perkembangannya, ruang kota terbagi menjadi lima komponen, yakni komponen pusat kota, pemukiman, ekonomi dan niaga, penguburan, dan keagamaan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.123-138
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i2.292 (DOI)

  • Article
    Select

    Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Hoamoal di Seram Bagian Barat

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.99-112 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk, wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk
    Available
    More…
    Title: Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Hoamoal di Seram Bagian Barat
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Kerajaan, Hoamoal, Islamisasi, Perdagangan
    Description: Hoamoal kingdom is one of the Islamic empire in the Moluccas Islands, precisely in Ceram which has an important role in the movement of Islamization in Central Moluccas region. This study with emphasis on archaeological survey method to collect physical data or artefaktual, then do the processing and analys is of data to explain the influence of Islam in the region. This study aims to look at developments in the history of the Kingdom Hoamoal Islam and trade in the region of Central Moluccas, and saw its role in supporting the Islamization movement in the region. The result showed that the growth of the Kingdom Hoamoal explanation can not be separated from the influence of Ternate in the form of Islamization and trade networks.   Kerajaan Hoamoal adalah salah satu kerajaan Islam di wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk mengumpulkan data fisik atau artefaktual, kemudian melakukan pengolahan dan analisis data untuk menjelaskan pengaruh Islam di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan Kerajaan Hoamoal dalam sejarah perkembangan Islam dan perdagangan di wilayah Maluku Tengah, serta melihat perannya dalam menunjang gerak Islamisasi di wilayah tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh penjelasan bahwa berkembangnya Kerajaan Hoamoal tidak terlepas dari pengaruh Ternate dalam membentuk jaringan Islamisasi dan  perdagangan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.99-112
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i2.226 (DOI)

  • Article
    Select

    Situs Pulau Ujir di Kepulauan Aru: Kampung Kuno, Islamisasi dan Perdagangan

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.163-174 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Situs Pulau Ujir di Kepulauan Aru: Kampung Kuno, Islamisasi dan Perdagangan
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Islamisasi, Perdagangan, Permukiman, Situs Uifana, Kepulauan Aru
    Description: Ujir ancient village on the island, is the site of settlement that shows the development of the Islamic period and colonial settlements in the territory of Aru Islands. Various archaeological data has been discovered, indicates the site serves as a growing settlements with the activities of the Muslim settlers and until recently has shown progress as one of the Muslim villages were quite advanced in the Aru Islands. This study is to explore the traces of Islamization and commercial developments in the Aru Islands, with the main focus in the Ujir Island to analyze the are role in the development of Islamization and commerce in the Aru Islands in the past. Study focused on the archaeological data collected from survey and excavation. The results showed that the old village site Ujir Island, called Site Uifana, is the site of settlements in the past is likely to be one of the centers spread of Islam in the Aru Islands which was later destroyed and abandoned during the influence of the entry of European colonization and later the Japanese. Ujir Island may also be a bridge in trade flows involving the surrounding area in the path of the spice trade and exotic commodities of Aru Islands. Kampung kuno di Pulau Ujir, merupakan situs permukiman yang menunjukkan perkembangan permukiman masa Islam dan kolonial di wilayah Kepulauan Aru. Penelitian ini menemukan, berbagai data arkeologi yang menunjukkan bahwa Pulau Ujir merupakan situs pemukiman yang maju dan berperan dalam jaringan Islamisasi dan perdagangan di kawasan Kepulauan Aru. Hasil penelitian memperliatkan bahwa situs kampung tua Pulau Ujir, yang disebut Situs Uifana, adalah situs permukiman yang pada masa lampau menjadi salah satu pusat penyebaran Islam yang kemudian hancur dan ditinggalkan pada masa pengaruh kolonialisasi Eropa  dan  Jepang. Pulau Ujir juga menjadi jaringan perdagangan yang melibatkan kawasan sekitarnya dalam jalur perdagangan rempah dan komoditi eksotik, seperti burung cendrwaasih dan mutiara di  Kepulauan Aru.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.163-174
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i2.309 (DOI)

  • Article
    Select

    Gerabah Situs Wayputih sebagai Komoditi Barter di Kerajaan Hoamoal

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.37-50 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Gerabah Situs Wayputih sebagai Komoditi Barter di Kerajaan Hoamoal
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Gerabah, Cengkeh, Perdagangan, Hoamoal
    Description: The site of Wayputih settlement in the history and traditions of the various sources mentioned as the part of the Kingdom Hoamoal region. This study aims to clarify the role of settlement Wayputih sites as the region as one of the central region of the kingdom Hoamoal clove producer. In addition it describes the process of trade and exchange between commodities produced by commodity from outside the area. This study uses a survey to see traces of settlements based on primary data pottery artifacts, then perform quantitative and qualitative analysis of data to explain the use and development of the system of commodity exchanges in the region. The results of the study, found the distribution of pottery with a high quantity in the site area. It can be concluded that based on the intensity of pottery and not produced in the local area, then to obtain it from outside the region to barter with cloves produced in the local area. Trade and exchange of pottery with cloves in Wayputih, support the development of trade in the territory of the Kingdom Hoamoal. Situs pemukiman Wayputih dalam berbagai sumber sejarah maupun tradisi tutur merupakan wilayah pemerintahan dari Kerajaan Hoamoal. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peranan permukiman situs Wayputih sebagai wilayah sebagai salah satu wilayah pusat penghasil cengkeh bagi kerajaan Hoamoal. Selain itu menggambarkan proses perdagangan dan pertukaran antara komoditi yang dihasilkan dengan komoditi dari luar wilayah. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk melihat jejak-jejak permukiman berdasarkan data utama artefak gerabah, selanjutnya melakukan analisis secara kuantitatif dan kualitatif data untuk menjelaskan penggunaan dan perkembangan sistem pertukaran komoditi di wilayah tersebut. Hasil penelitian, ditemukan sebaran gerabah dengan kuantitas yang tinggi di wilayah situs tersebut. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan intensitas gerabah dan tidak dihasilkan di wilayah setempat, maka untuk memperolehnya dari wilayah luar dengan melakukan barter dengan cengkeh yang dihasilkan di wilayah setempat. Perdagangan dan pertukaran gerabah dengan cengkeh di Wayputih, mendukung perkembangan niaga di wilayah Kerajaan Hoamoal.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.37-50
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i1.198 (DOI)

  • Article
    Select

    Tradisi Nisan Menhir pada Makam Kuno Raja-raja di Wilayah Kerajaan Hitu

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.33-46 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Tradisi Nisan Menhir pada Makam Kuno Raja-raja di Wilayah Kerajaan Hitu
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Makam, Nisan, Menhir, Islam, Hitu
    Description: The Tradition of menhir headstone is an ancient tomb tradition by using a grave form of menhir stones. This tradition is a form of the tradition continues, as menhirs are upright stones as a sign of respect for ancestors in the megalithic tradition. This study aims to explain the tradition of Islamic tombs of the kings in the Kingdom Hitu since the beginning of the Islamic conversion and development period and how the megalithic tradition in the form of Islamic tomb when people have to convert Islam as a religion. This study was conducted using a survey to gather information and describe the forms of ancient Islamic tomb kings Hitu in central Moluccas. The results show though Islam has been adopted as the royal religion or public religion, characterized mengkonveris leaders of Islam, but confidence in the ancestor as local pre-Islamic religious understanding develops, still adhered to and maintained. Tomb tombstone shape using menhir, is one form of continuity megalithic tradition in the episode acceptance of Islam by the public since the beginning of its development, until the establishment of the Islamic government to appear in the king institutions Hitu region. Tradisi nisan menhir adalah, tradisi makam kuno dengan menggunakan tanda kubur berupa batu menhir. Tradisi ini merupakan bentuk tradisi berlanjut, karena menhir adalah batu tegak sebagai tanda penghormatan terhadap leluhur dalam tradisi megalitik. Penelitian ini bertujuan menjelaskan tradisi makam Islam raja-raja di Kerajaan Hitu sejak awal konversi Islam dan masa perkembangannya serta bagaimana tradisi megalitik pada bentuk makam Islam ketika masyarakat sudah mengkonversi Islam sebagai agamanya. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey untuk mengumpulkan informasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk makam kuno Islam raja-raja Hitu di Maluku tengah. Hasil penelitian menunjukkan meskipun Islam telah dianut sebagai agama kerajaan atau agama publik, ditandai para pemimpinnya mengkonveris agama Islam, namun kepercayaan terhadap leluhur sebagai paham religi lokal sebelum Islam berkembang, masih tetap dianut dan dipertahankan. Bentuk makam dengan menggunakan nisan menhir, merupakan salah satu bentuk kontinuitas tradisi megalitik dalam episode penerimaan Islam oleh masyarakat sejak awal perkembangannya, hingga masa terbentuknya pemerintahan Islam dengan muncul lembaga raja di wilayah Hitu.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.33-46
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i1.216 (DOI)