6 results
Sort by:
Add to the list:
  • Article
    Select

    Tinggalan Arkeologi Masa Kolonial di Wilayah Kepulauan Maluku: Sebuah Evaluasi Hasil Penelitian

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.85-94 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    perdagangan rempah-rempah, dimana wilayah Kepulauan Maluku merupakan pusat produksi dua jenis rempah-rempah yaitu cengkeh dan pala. Dalam konteks inilah, penelitian arkeologi yang dilaksanakan oleh Balai... Arkeologi Ambon melalui tema Pengaruh Kolonial berupaya untuk mengkaji lebih jauh berbagai aspek yang terkait dengan masa penguasaan bangsa Eropa di wilayah Kepulauan Maluku. Makalah ini akan...…
    Available
    More…
    Title: Tinggalan Arkeologi Masa Kolonial di Wilayah Kepulauan Maluku: Sebuah Evaluasi Hasil Penelitian
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Tinggalan Arkeologi, Kolonial, Penelitian, Evaluasi
    Description: Balai Arkeologi Ambon dengan wilayah kerja meliputi Provinsi Maluku dan Maluku Utara (selanjutnya disebut wilayah Kepulauan Maluku) telah menetapkan tema penelitian yang sesuai dengan kondisi wilayah kerjanya. Salah satu tema yang dikembangkan dalam pelaksanaan penelitian arkeologi di Balai Arkeologi Ambon adalah tema Pengaruh Kolonial di Nusantara. Hal ini, tentu saja tidak lepas dari sejarah kebudayaan yang pernah ada dan berkembang di wilayah Kepuluan Maluku. Seperti diketahui bahwa sejarah kedatangan bangsa asing terutama bangsa Eropa di nusantara diawali oleh faktor ekonomi yaitu perdagangan rempah-rempah, dimana wilayah Kepulauan Maluku merupakan pusat produksi dua jenis rempah-rempah yaitu cengkeh dan pala. Dalam konteks inilah, penelitian arkeologi yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Ambon melalui tema Pengaruh Kolonial berupaya untuk mengkaji lebih jauh berbagai aspek yang terkait dengan masa penguasaan bangsa Eropa di wilayah Kepulauan Maluku. Makalah ini akan merangkum berbagai hasil penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon sejak didirikan pada tahun 1995 hingga saat ini. Selanjutnya, akan dipaparkan ruang lingkup penjelasan yang tercakup dalam berbagai hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Makalah ini juga berupaya melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek terkait dengan tema pengaruh kolonial khususnya di wilayah Kepulauan Maluku.   Archaeological Institute of Ambon with work areas include Maluku and North Maluku (hereinafter referred to as the Moluccas Islands) has set the theme of the research in accordance with the conditions of their working area. One of the themes developed in the implementation of archaeological research at the Institute of Archaeology of Colonial Influence Ambon is a theme in the archipelago. It is, of course, can not be separated from the cultural history that ever existed and flourished in the area of Moluccas Islands. As it is known that the history of the arrival of foreigners, especially Europeans in the archipelago preceded by economic factors, namely the spice trade, which is the center of the Maluku Islands of production of two types of spices are cloves and nutmeg. In this context, archaeological research carried out by the Archaeological Institute of Ambon through the Colonial Influence theme seeks to further examine various aspects linked to the control of European nations in the Moluccas Islands. This paper will summarize the results of archaeological research carried out by the Archaeological Institute of Ambon since its inception in 1995 until today. Furthermore, an explanation will be presented scope covered by the various studies that have been conducted. This paper also attempts to evaluate the various aspects related to the theme of colonial influence, especially in the Maluku Islands.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(2), pp.85-94
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i2.190 (DOI)

  • Article
    Select

    Sistem Perbentengan dalam Jaringan Niaga Cengkih Masa Kolonial di Maluku

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.85-98 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    In numbers of colonial archaeological research conducted by Balai Arkeologi Ambon, fort has been identified as the main archaeological remains in the Moluccas. The inventory shown that forts... fortification system developed by VOC in this region.   Rangkaian hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon khususnya bidang arkeologi kolonial menempatkan benteng sebagai salah satu... tinggalan…
    Available
    More…
    Title: Sistem Perbentengan dalam Jaringan Niaga Cengkih Masa Kolonial di Maluku
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Benteng, Kolonial, Cengkih, Maluku
    Description: In numbers of colonial archaeological research conducted by Balai Arkeologi Ambon, fort has been identified as the main archaeological remains in the Moluccas. The inventory shown that forts distributed in almost every islands of the Moluccas.Various research that has been conducted in the past are still unable to explain the historical context in this region. This situation was mainly based on the fact that these research only identify singluar fort in one area and not the larger spatial context. Adopting the historical-arcaheological perspective,this paper tries to understand the historical context of the forts spatial distribution in the moluccas in the relation to the spice monopoly in the region. This research found that the success of the spice trade monopoly is related to the fortification system developed by VOC in this region.   Rangkaian hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon khususnya bidang arkeologi kolonial menempatkan benteng sebagai salah satu tinggalan arkeologi yang dominan di wilayah Maluku. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa bangunan benteng tersebar di hampir setiap pulau di Maluku. Berbagai hasil penelitian yang bersifat eksploratif tersebut dirasakan tidak mampu menjelaskan konteks sejarah sebaran benteng yang ada di wilayah ini. Hal ini disebabkan karena setiap penelitian yang dilakukan hanya mengidentifikasi bangunan benteng dalam suatu daerah sehingga sebaran benteng tidak dipandang sebagai satu kesatuan konteks ruang wilayah tertentu. Melalui perspektif arkeologi-sejarah, tulisan ini berupaya memperoleh gambaran tentang konteks sejarah sebaran benteng khususnya dalam kaitannya dengan masa monopoli cengkih di Maluku. Dengan demikian, diperoleh kesimpulan bahwa keberhasilan sistem monopoli cengkih masa kolonial di Maluku tidak lepas dari sistem perbentengan yang telah dibangun oleh Belanda (VOC) sejak awal penguasaan mereka di wilayah ini.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.85-98
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i2.225 (DOI)

  • Article
    Select

    Tinggalan Perang Dunia II Dan Konseptualisasi Museum di Morotai

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.1-12 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Tinggalan Perang Dunia II Dan Konseptualisasi Museum di Morotai
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Morotai, Museum, Perang Dunia II, Pameran
    Description: Morotai Island is one of the locations which left many traces of World War II in Indonesia. This suggests that Morotai Island has a strategic geographical position for the two military forces involved at the time. In this context, the legacy of World War II in Morotai has important historical value to be preserved, one of them through the establishment of a museum. This study aimed to develop appropriate thematic concept for presentation of the museum. Literature study and field observations conducted to obtain data related to the historical and archaeological remains exist in the study area. The results of this study, obtained information about the actual condition of archaeological remains exist in Morotai, as well as the formulation of the concept of thematic presentation of the exhibition. Thus, early studies of this thematic concepts can provide the storyline, so as to give weight to the information of the existing archaeological remains in the Morotai. Pulau Morotai merupakan salah satu lokasi yang banyak meninggalkan jejak Perang Dunia II di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Pulau Morotai memiliki posisi geografis yang strategis bagi dua kekuatan militer yang terlibat saat itu. Dalam konteks inilah, peninggalan Perang Dunia II yang ada di Morotai memiliki nilai sejarah yang penting untuk dilestarikan, salah satunya melalui pendirian sebuah museum. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun konsep tematik yang tepat bagi penyajian museum. Studi pustaka dan observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh data terkait dengan sejarah dan tinggalan arkeologi yang ada di lokasi penelitian. Hasil kajian ini, diperoleh informasi tentang kondisi aktual tinggalan arkeologi yang ada di Morotai, serta rumusan tentang konsep tematik penyajian pameran. Dengan demikian, studi awal konsep tematik ini dapat memberikan alur cerita atau storyline, sehingga mampu memberikan bobot informasi tinggalan arkeologi yang ada di Morotai.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.1-12
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i1.195 (DOI)

  • Article
    Select

    Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.43-50 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Abstrak Dalam konteks kawasan, keberadaan tinggalan arkeologi berupa sarana pertahanan masa Perang Dunia II di Pulau Buru tidak lepas dari konteks geografis, dimana Kepulauan Maluku – termasuk, Abstrak Dalam konteks kawasan, keberadaan tinggalan arkeologi berupa sarana pertahanan masa Perang Dunia II di Pulau Buru tidak lepas dari konteks geografis, dimana Kepulauan Maluku – termasuk
    Available
    More…
    Title: Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Pulau Buru, Perang Dunia II, Arkeo-Historis
    Description: Abstrak Dalam konteks kawasan, keberadaan tinggalan arkeologi berupa sarana pertahanan masa Perang Dunia II di Pulau Buru tidak lepas dari konteks geografis, dimana Kepulauan Maluku – termasuk Pulau Buru merupakan bagian dari kawasan Pasifik. Permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini adalah mengungkap berbagai bentuk sarana pertahanan dan lokasi keberadaannmya, serta informasi historis yang terkait dengan Perang Dunia II di Pulau Buru. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan analogi sejarah, penelitian ini berhasil mengidentifikasi bentuk-bentuk sarana pertahanan yang masih dapat diamati berupa; fasilitas landasan pacu, pillbox dan lokasi pendaratan pasukan Australia. Hasil pembahasan juga berhasil mengungkap peran wilayah Pulau Buru yang merupakan wilayah strategis baik bagi militer Jepang maupun pasukan sekutu dalam Perang Dunia II. Peran wilayah yang strategis ini tidak lepas dari posisi geografis Pulau Buru yang dapat menghubungkan Philipina yang ada di bagian utara, Ambon yang ada di sebelah timur, serta Pulau Timor yang ada di bagian selatan.   Abstract In the context of the region, the presence of archaeological remains in the form of means of defense during World War II on the island of Buru can not be separated from the geographical context, where the Maluku Islands - including the Buru is part of the Pacific region. The problems studied in this paper is to reveal some form of defense and locations, as well as historical information related to World War II on the island of Buru. By using descriptive analysis and historical analogies, this study managed to identify forms of the means of defense which can still be observed in the form; facilities runway, pillbox and Australian troops landing site. Discussion of the results also uncovered the role of the island of Buru is a strategic region for the Japanese military and allied forces in World War II. The role of a strategic area is not separated from the geographical position of Buru Island that connects the Philippines in the north, Ambon in the east, and the island of Timor in the south.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.43-50
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i1.179 (DOI)

  • Article
    Select

    Benteng Kolonial Eropa di Pulau Makian dan Pulau Moti: Kajian atas Pola Sebaran Benteng di Wilayah Maluku Utara

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.97-110 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Benteng Kolonial Eropa di Pulau Makian dan Pulau Moti: Kajian atas Pola Sebaran Benteng di Wilayah Maluku Utara
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Perdagangan Rempah-Rempah, Kolonial, Pola Sebaran Benteng
    Description: In the early period of the spice trade, Makian Island Moti Island are the main source in the production of cloves. This condition is the main factor that attaracted tthe presence of Europeans that its influences still  can be traced recently. Evidence of the presence of European nations can be seen from the distribution of the fort in the island Makian and Moti Island. This research is intended to uncover the factors that underlie the formation of a network of fortifications in the two islands. Using the method of interpretation of the distribution pattern of the castle and the relationship between regions, this paper uncovered that the main factors the formation of a network of fortifications in the region is the natural conditions or geographical factors, so that consideration of the establishment of each fort associated with the monitoring of safety conditions, supervision of the marketing of cloves, as well as efforts to maintain the existence of a colonial power in the region. Pada periode awal perdagangan rempah-rempah, Pulau Makian dan Pulau Moti adalah sumber utama produksi cengkih. Hal inilah kemudian menjadi daya tarik kehadiran bangsa Eropa yang hingga saat ini masih dapat disaksikan jejak pengaruhnya. Bukti-bukti kehadiran bangsa Eropa tersebut dapat dilihat dari sebaran benteng yang ada di Pulau Makian dan Pulau Moti. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang melatari terbentuknya jaringan perbentengan yang ada di kedua pulau tersebut. Melalui metode penafsiran terhadap pola sebaran benteng dan hubungan antar wilayah, tulisan ini berhasil mengungkap bahwa faktor utama terbentuknya jaringan perbentengan di wilayah ini adalah kondisi alam atau faktor geografis, sehingga pertimbangan atas pendirian setiap benteng berkaitan dengan pengawasan terhadap kondisi keamanan, pengawasan terhadap tata niaga cengkih, serta upaya untuk mempertahankan eksistensi kekuasan kolonial di wilayah ini.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.97-110
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i2.290 (DOI)

  • Article
    Select

    Benteng Amsterdam di Pesisir Utara Pulau Ambon: Tinjauan atas Aspek Kronologi dan Fungsi

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(1), pp.33-52 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Benteng Amsterdam di Pesisir Utara Pulau Ambon: Tinjauan atas Aspek Kronologi dan Fungsi
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Benteng, Sistem Perbentengan, Kolonial, Ambon
    Description: Fort Amsterdam is one of the fort in the fortifications system that was built by the VOC since the 17th century in the Maluku Islands. This research examines the micro aspects in the fortification system  by focusing on the  aspects of the chronology as well as the functions and roles of Fort Amsterdam. The bibliographical studies and the use of  historical records also adopted in this study.  The reslut of this research shows the chronology of the first fort built in 1629 as a trading post by VOC in the North Coast region of the island of Ambon. This fort then undergoes renovations both aimed to strengthen the defense function as well as trade and government functions in this fort. Amsterdam role both during and future VOC Dutch East Indies governement policies related to the clove monopoly on the Colonial period. Period of receding role of the fort was then happended along with the moment of the abolition of the clove monopoly by the Dutch in 1865. Benteng Amsterdam adalah salah satu benteng dalam sistem perbentengan yang dibangun oleh VOC sejak abad ke-17 di wilayah Kepulauan Maluku. Penelitian ini mengkaji aspek mikro dalam sistem perbentengan tersebut yaitu aspek kronologi serta aspek fungsi dan peran Benteng Amsterdam. Melalui kajian kepustakaan yang bersumber dari catatan-catatan historis, serta hasil penelitian terdahulu. Penelitian ini berhasil mengungkap kronologi benteng yang pertamakali dibangun pada tahun 1629 sebagai pos perdagangan VOC di wilayah Pesisir Utara Pulau Ambon. Benteng ini kemudian mengalami beberapakali renovasi yang bertujuan untuk memperkuat fungsi pertahanan serta fungsi perdagangan dan pemerintahan pada benteng ini. Peran Benteng Amsterdam pada masa VOC dan masa Pemerintah Hindia Belanda berhubungan dengan kebijakan monopoli cengkih pada masa Kolonial. Periode surut peran benteng ini kemudian mulai terjadi pada periode penghapusan monopoli cengkih oleh Belanda pada tahun 1865.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(1), pp.33-52
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i1.280 (DOI)