175 results
Sort by:
Add to the list:
    • Article
    Select

    Pengelompokan Masyarakat Negeri Tuhaha Pulau Saparua, Maluku Tengah Tinjauan Etnoarkeologis

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.81-88 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Pengelompokan Masyarakat Negeri Tuhaha Pulau Saparua, Maluku Tengah Tinjauan Etnoarkeologis
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Pengelompokan Masyarakat, Dolmen, Menhir, Soa
    Description: The Meaning of Tuhaha community’s grouping based on archaeological remains can not be separated from one another, due to the partial temporal nature. This study used a literature study, in order to examine the issue of research, how society grouping Tuhaha State, based on archaeological remains. Archaeological remains is meant here is a dolmen, menhirs and the old village/ancient settlements. The objective of this study is to know and understand the patterns of grouping Tuhaha State community based archaeological remains. The results showed that grouping State community/village Tuhaha archaeological remains contextually based culture has symbolic interaction, integration and socio-cultural systems on the basis of grouping patterns in the structure of the dolmen, menhirs(micro scale) and Old village Huhule (macro scale). Huhule as anintegral unity of the social system, in which there are parts of the system dolmen, menhirs, as well as the concepts of cultural mapping (monodualisme). Integration between the dolmen of five, symbolizing Patalima community groups, and soa of nine (patasiwa). Pemaknaan pengelompokan  masyarakat Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, disebabkan oleh sifat temporal parsial. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan, guna menelaah permasalahan penelitian, yaitu bagaimana pengelompokan masyarakat Negeri Tuhaha, berdasarkan tinggalan arkeologi. tinggalan arkeologis yang dimaksudkan di sini adalah dolmen, menhir serta kampung lama/permukiman kuno. Tujuan daripada penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami pola pengelompokan masyarakat Negeri Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pengelompokan masyarakat Negeri/Desa Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis secara kontekstual budaya memiliki hubungan interaksi simbolik, integrasi dan sistem sosial budaya atas dasar pola pengelompokan pada struktur dolmen, menhir (skala Mikro) dan kampung Lama Huhule (skala Makro). Huhule sebagai kesatuan sistem sosial integral, yang di dalamnya terdapat bagian sistem dolmen, menhir, serta konsep-konsep pemetaan budaya (monodualisme). Integrasi antara dolmen berjumlah lima, melambangkan kelompok masyarakat patalima, dan soa berjumlah sembilan (patasiwa).
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.81-88
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i2.206 (DOI)

    • Article
    Select

    Lukisan Cadas: Simbolis Orang Maluku

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.47-54 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Lukisan Cadas: Simbolis Orang Maluku
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Lukisan Cadas, Struktur Simbol, Sistem Sosial Budaya, Orang Maluku
    Description: Rock paintings in Moluccas has a core meaning and symbols in the life cycle of Moluccans in the past, present and future-future. Archaeological remains of rock paintings is a cultural interpretation of the past, where the construction of the values contained therein are an integral part of the social system of human culture the people of Moluccas. The values contained is the value of kinship, religion, grouping, knowledge, survival (survival strategy). Rock paintings in Ohoidertawun, Wamkana and Gulf Saleman have hinted that there are phases of any future development of human society. Research on how the rock paintings as archaeological remains, as the impact of the cultural value system and the structure of the rock painting itself. Performed in order to determine the value of the cultural and social system structure Moluccans rock paintings. The study of literature become the main reference of the study, with emphasis on past and present the data. From the research results prove that the archaeological remains of rock paintings have been contributing to the sociocultural meaning people of Moluccas, including the meaning of identity, culture and plurality or diversity. Lukisan cadas di Maluku memiliki inti makna dan simbol dalam siklus hidup Orang Maluku pada masa lampau, sekarang dan masa-masa yang akan datang. Tinggalan arkeologi lukisan cadas merupakan interprestasi kebudayaan masa lampau, dimana konstruksi nilai yang terkandung didalamnya adalah bagian integral dari sistim sosial budaya manusia masyarakat Maluku. Nilai-nilai yang terkandung adalah nilai kekerabatan, religi, pengelompokkan, pengetahuan, bertahan hidup (survival strategy). Lukisan cadas yang ada di Ohoidertawun, Wamkana dan Teluk Saleman telah memberikan petunjuk bahwa ada fase-fase perkembangan masyarakat manusia setiap masa. Penelitian tentang bagaimana lukisan cadas sebagai tinggalan arkeologis, sebagai dampak sistem nilai budaya dan struktur lukisan cadas itu sendiri. Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sistem sosial nilai budaya dan struktur lukisan cadas Orang Maluku. Studi literatur menjadi acuan utama penelitian tersebut, dengan mengutamakan data terdahulu dan kini. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa tinggalan arkeologis lukisan cadas telah memberikan kontribusi makna bagi sosial budaya Orang Maluku, diantaranya makna identitas, peradaban dan pluralitas atau kemajemukan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.47-54
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i1.217 (DOI)

    • Article
    Select

    Tinggalan Batu Lumpang di Desa Ruko, Kecamatan Tobelo: Tinjauan Atas Konteks Sejarah dan Sosial Budaya Kerajaan-Kerajaan Lokal di Halmahera Utara

    Karyamantha Surbakti
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(1), pp.1-10 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    as the strong indication of batu lumpang as the main supporting objects for the  economic activity at that time. Batu lumpang dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang, as the strong indication of batu lumpang as the main supporting objects for the  economic activity at that time. Batu lumpang dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang
    Available
    More…
    Title: Tinggalan Batu Lumpang di Desa Ruko, Kecamatan Tobelo: Tinjauan Atas Konteks Sejarah dan Sosial Budaya Kerajaan-Kerajaan Lokal di Halmahera Utara
    Author: Karyamantha Surbakti
    Subject: Batu Lumpang, Hegemoni Kekuasaan, Anasir Bangsa Asing, Konteks Sejarah, Sosial Budaya
    Description: Batu Lumpang in the archaeological perspecitve is known as remains with the characteristic as a tool for mashing food . This stone has a container shape that made of stone vessels were notched in the middle. The purpose of this study is to initiate the prelimenary study of the batu lumpang in the Ruko village, the District Tobelo , North Halmahera and will be use as a data that assist the interpreationt and explaination on the history of  North Halmahera. The research method adopted in this study is observation and interviews. Qualitative analysis and ethnoarchaeology analysis has been adopted to see the depth of the data to be interpreted. Results of the study shows that the  factors of hegemony of the Ternate empire who conquered Moro and an abundance of food sources in Moro, as well as the strong indication of batu lumpang as the main supporting objects for the  economic activity at that time. Batu lumpang dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang mengarah sebagai alat menumbuk makanan. Batu ini merupakan wadah yang berbentuk bejana terbuat dari batu yang berlekuk di tengahnya. Tujuan dari penelitian ini sebagai studi awal dalam melihat tinggalan batu lumpang yang ada di Desa Ruko Kec. Tobelo Kab. Halmahera Utara sebagai data yang membantu menginterpretasi dan menjelaskan sebuah peristiwa sejarah yang panjang di Halmahera Utara. Metode penelitian menggunakan observasi langsung dan wawancara. Analisis kualitatif dan analisis etnoarkeologi diperlukan untuk melihat kedalaman data yang hendak diinterpretasikan. Hasil dari penelitian adalah faktor hegemoni kekuasaan dari kerajaan Ternate yang menaklukkan kerajaan Moro dan berlimpahnya sumber bahan pangan di Moro menjadikan indikasi kuat batu lumpang sebagai penyokong aktivitas ekonomi pada kala itu.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(1), pp.1-10
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i1.277 (DOI)

    • Article
    Select

    Situs Pulau Ujir di Kepulauan Aru: Kampung Kuno, Islamisasi dan Perdagangan

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.163-174 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Situs Pulau Ujir di Kepulauan Aru: Kampung Kuno, Islamisasi dan Perdagangan
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Islamisasi, Perdagangan, Permukiman, Situs Uifana, Kepulauan Aru
    Description: Ujir ancient village on the island, is the site of settlement that shows the development of the Islamic period and colonial settlements in the territory of Aru Islands. Various archaeological data has been discovered, indicates the site serves as a growing settlements with the activities of the Muslim settlers and until recently has shown progress as one of the Muslim villages were quite advanced in the Aru Islands. This study is to explore the traces of Islamization and commercial developments in the Aru Islands, with the main focus in the Ujir Island to analyze the are role in the development of Islamization and commerce in the Aru Islands in the past. Study focused on the archaeological data collected from survey and excavation. The results showed that the old village site Ujir Island, called Site Uifana, is the site of settlements in the past is likely to be one of the centers spread of Islam in the Aru Islands which was later destroyed and abandoned during the influence of the entry of European colonization and later the Japanese. Ujir Island may also be a bridge in trade flows involving the surrounding area in the path of the spice trade and exotic commodities of Aru Islands. Kampung kuno di Pulau Ujir, merupakan situs permukiman yang menunjukkan perkembangan permukiman masa Islam dan kolonial di wilayah Kepulauan Aru. Penelitian ini menemukan, berbagai data arkeologi yang menunjukkan bahwa Pulau Ujir merupakan situs pemukiman yang maju dan berperan dalam jaringan Islamisasi dan perdagangan di kawasan Kepulauan Aru. Hasil penelitian memperliatkan bahwa situs kampung tua Pulau Ujir, yang disebut Situs Uifana, adalah situs permukiman yang pada masa lampau menjadi salah satu pusat penyebaran Islam yang kemudian hancur dan ditinggalkan pada masa pengaruh kolonialisasi Eropa  dan  Jepang. Pulau Ujir juga menjadi jaringan perdagangan yang melibatkan kawasan sekitarnya dalam jalur perdagangan rempah dan komoditi eksotik, seperti burung cendrwaasih dan mutiara di  Kepulauan Aru.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.163-174
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i2.309 (DOI)

    • Article
    Select

    The Worship of Parwatarajadewa in Mount Lawu

    Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.37-48 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: The Worship of Parwatarajadewa in Mount Lawu
    Author: Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari
    Subject: Mount Lawu - Parwatarajadewa - Worship
    Description: Bukti-bukti mengenai gunung dianggap sakral dan suci telah didapatkan sejak Masa Prasejarah. Salah Satu gunung yang masih dipercaya sebagai tempat sakral adalah Gunung Lawu. Berdasarkan tinggalan arkeologis Gunung Lawu ini nampaknya mempunyai peranan cukup penting pada masa lalu, bahkan berlanjut hingga sekarang. Studi ini akan menelusuri jejak-jejak pemujaan terhadap parwatarajadewa yang bersemayam di Gunung Lawu. Untuk memecahkan permasahan tersebut digunakan metode pengumpulan data meliputi kajian pustaka, observasi, dan dokumentasi. Setelah itu, data dibedah mengunakan analisis kualitatif dibantu dengan teori Religi. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gunung Lawu mempunyai nama kuna (Hindu-Budhha) yaitu katong. Walaupun namanya berubah namun makna yang dikandung tetap memiliki persamaan. Komunitas yang beraktivitas di Gunung Lawu saat itu adalah kaum rsi dan pertapa yang tampaknya memuliakan seorang parwatarajadewa (dewa penguasa gunung). Hal ini berdasar atas banyaknya temuan tinggalan arkeologi di kawasan Gunung Lawu dan didukung pula dengan prasasti yang pernah ditemukan di Candi Sukuh. Nama dewa tersebut menurut Serat Centhini adalah Hyang Girinatha. Evidence of the mountain as considered sacred and sanctified have been obtained since the Prehistoric Period. One mountain that is still believed to be a sacred place is Mount Lawu. Based on archaeological remains, Mount Lawu seems to have played a significant role in the past, even persisting up till now. Mount Lawu is used as a place to live and religious activity from the past. This study traces the worship of Parwatarajadeway residing on Mount Lawu. In order to solve the problem, it used data collection methods including literature review, observation, and documentation. The analysis used qualitative assisted by Religious theory. The results of this study indicate that Mount Lawu has an ancient name that is katong. Although the name had changed but its meaning still have a resemblance. Community’ activities that move on Mount Lawu around the 15th to 16th century are the rsi and the ascetic who seem to glorify the Parwatarajadewa (the god of the mountain ruler). This is based on many findings of archaeological remains in the area of Mount Lawu and also supported with inscriptions ever found in Sukuh Temple. The name of the god according to Serat Centhini is Hyang Girinatha.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.37-48
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.472 (DOI)

    • Article
    Select

    Looking For a Trace of Shamanism, in the Rock Art of Maros-Pangkep, South Sulawesi, Indonesia

    Irsyad Leihitu, Raden Cecep Eka Permana
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.15-26 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia, Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia
    Available
    More…
    Title: Looking For a Trace of Shamanism, in the Rock Art of Maros-Pangkep, South Sulawesi, Indonesia
    Author: Irsyad Leihitu; Raden Cecep Eka Permana
    Subject: Rock Art - Shamanism - Neuropsychology - Altered State of Consciousness - Trance - Maros-Pangkep, Formal Analogy
    Description: Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia, khususnya di wilayah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Menurut teori David Lewis-Williams dan David S. Whitley tentang pendekatan neuropsikologi terhadap gambar cadas, mereka mendeskripsikan "beberapa" motif sebagai penggambaran tahapan atau metafora dari Altered State of Consciousness (ASC) yang berhubungan dengan shamanisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana teori ASC dapat diuji dalam gambar cadas Maros-Pangkep, dan juga menunjukkan indikasi keberadaan shamanisme dalam gambar cadas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan analogi formal dan studi komparatif tentang motif-motif gambar cadas terpilih di kawasan Maros-Pangkep dengan gambar cadas di Afrika, Siberia, dan juga gambar cadas di Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa teori ASC dapat diterapkan dalam gambar cadas Indonesia dan ada beberapa indikasi shamanisme dalam gambar cadas di wilayah Maros-Pangkep. Rock art is an archaeological phenomenon which spread all over the world. Generally, this prehistoric art consists of various forms, motifs, and also meanings. This article discusses Indonesian rock art, particularly the Maros-Pangkep region in South Sulawesi. According to David Lewis-Williams and David S. Whitley’s theory about the neuropsychology approach to rock art, they describe “some” motifs as a depiction of stages or metaphors of the Altered State of Consciousness (ASC) that relates to shamanism. The aim of this study is to demonstrate how the ASC theory can be tested in Maros-Pangkep Rock Art, and also shows an indication of the existence of shamanism in Indonesian rock art. The research methods are formal analogy and comparative studies on the selected motifs of rock art in the Maros-Pangkep region with African, Siberian, and also American rock art. The result shows that the ASC theory can be applied in Indonesian rock art and there are some indications of shamanism in rock art motifs in the Maros-Pangkep region.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.15-26
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.496 (DOI)

    • Article
    Select

    Situs-situs Megalitik di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

    Nfn Hasanuddin
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.83-94 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Situs-situs Megalitik di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan
    Author: Nfn Hasanuddin
    Subject: Megalitik, Hirarki Situs, Permukiman
    Description: Wajo in South Sulawesi is a region that has been known have findings from Islamic period, so it tends to be categorized as an area that civilization started around the 17th century AD. Research in Wajo intended to get an overview of distribution and development of the megalithic period, which is also known as the beginning of civilization. In its achieving, the survey method is used to determine the distribution of megalithic synchronization and also excavations conducted at the Cilellang site to reveal the variability of finds in the cultural layers and development of the megalithics in diachronic. Obtained a description of the research, Cilellang, Tobattang and Allangkanange megalithic sites developed since 13th until 15th century AD in the southeast of Tempe Lake. Agricultural activity is the main livelihood that is marked by 36 mortar stone finds on all three sites. Those three sites can also give an overview of the hierarchy of Allangkanange settlements that may have high social strata because it has the most extensive sites, more varied archaeological remains, and a higher location. Probably Allangkanange is the administrative center of Tobattang and Cilellang sites.   Kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan merupakan daerah yang selama ini diketahui memiliki temuan-temuan masa Islam, sehingga cenderung dikategorikan sebagai daerah yang memulai peradabannya sekitar abad ke-17 Masehi. Penelitian di Wajo dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai distribusi dan masa perkembangan megalitik, dan juga dapat menandai awal peradabannya. Dalam pencapaiannya, digunakan metode survei untuk mengetahui distribusi megalitik secara sinkronis dan dilakukan ekskavasi di situs Cilellang untuk mengetahui variabilitas temuan dalam lapisan budaya dan masa perkembangan megalitik secara diakronis. Dari penelitian diperoleh gambaran bahwa situs Cilellang, Tobattang dan Allangkanange merupakan situs megalitik yang berkembang sejak abad ke-13 hingga abad ke-15 M di wilayah sebelah tenggara Danau Tempe. Aktivitas pertanian merupakan mata pencaharian pokok ditandai dengan temuan 36 lumpang batu pada ketiga situs tersebut. Ketiga situs juga dapat memberi gambaran secara hirarki, yaitu  situs Allangkanange mungkin mempunyai strata sosial permukiman yang lebih tinggi dibandingkan situs Cilellang dan Tobattang, karena memiliki luas situs paling besar, tinggalan arkeologi yang lebih bervariatif dan lokasi yang lebih tinggi. Mungkin saja situs Allangkanange adalah pusat pemerintahan dari situs Cilellang dan Tobattang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.83-94
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.395 (DOI)

    • Article
    Select

    Karakter Pemukiman Lahan Basah Abad VI - XV Masehi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito

    Nfn Sunarningsih
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.109-130 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Karakter Pemukiman Lahan Basah Abad VI - XV Masehi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito
    Author: Nfn Sunarningsih
    Subject: Karakter, Lahan Basah, Pemukiman Kuno, Daerah Aliran Sungai Barito
    Description: One of the great rivers that flow in Kalimantan region is Barito River, precisely in the southeast region. Barito drainage basin crosses two different provinces, namely South Kalimantan and Central Kalimantan. Archaeological researches of wetland ancient settlements on Barito Basin are mainly in the downstream area. The result of this research obtained a varied data, such as artifacts, settlement form, and environmental supports. There seemed to be such character differences in each site. Therefore, this article examine the factors that influence the character differences of each wetland site. The research use descriptive analytic, with inductive reasoning. The result shows that there are some characters of wetland residential sites in the Barito basin, which is influenced by the function of site, the mastery of technology, environmental carrying capacity, and the intensity interaction with outside community. Salah satu sungai besar yang mengalir di wilayah Kalimantan adalah Sungai Barito, tepatnya di wilayah Kalimantan bagian Tenggara. Daerah Aliran Sungai Barito melintasi dua wilayah propinsi yang berbeda, yaitu Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Penelitian arkeologi terhadap pemukiman lahan basah (abad ke 6-15 M) di Daerah Aliran Sungai Barito berada terutama di daerah hilir. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan data yang beragam, baik dari artefak, bentuk pemukimannya, dan lingkungan pendukungnya. Tampaknya ada karakter yang berbeda dari masing-masing situs. Oleh karena itu, tulisanini berusaha untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi terjadinya perbedaan karakter dari masing-masing situs di lahan basah tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis, dengan penalaran induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa macam karakter dari situs pemukiman lahan basah di DAS Barito, yang dipengaruhi oleh fungsi situs, penguasaan teknologi, daya dukung lingkungan, dan intensitas terjadinya interaksi dengan masyarakat luar.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.109-130
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.406 (DOI)

    • Article
    Select

    Teknologi Tempa Logam pada Masa Lalu di Daerah Aliran Sungai Pawan, Kalimantan Barat (sebuah pendekatan etnoarkeologi)

    Ida Bagus Putu Prajna Yogi
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.137-146 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa, Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa
    Available
    More…
    Title: Teknologi Tempa Logam pada Masa Lalu di Daerah Aliran Sungai Pawan, Kalimantan Barat (sebuah pendekatan etnoarkeologi)
    Author: Ida Bagus Putu Prajna Yogi
    Subject: Artefak Logam, Sungai Pawan, Ethnoarkeologi, Teknologi Logam
    Description: Archaeological evidence of metal artifacts found in the area Pawan Watershed in the number of inviting attention to be investigated, that is how the process of technology in the past. The existence of the craftsmen of wrought metal along the watershed area Pawan certainly was  not a coincidence. There might be a relationship between the presence of artifacts with traditional metal forging which is still survive until recently. Ethnoarchaeological approach that has been undertaken is expected to give an idea to reconstructs the metal forging technology in the past on Pawan Watershed; to understand the cultural continuity that still exists today in the area. Metal forging technology using the "ububan" the which is still used today in several locations in Indonesia, as well as in Pawan Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa artefak logam yang ditemukan di daerah aliran Sungai Pawan dalam jumlah yang cukup banyak mengundang perhatian untuk diteliti, yaitu bagaimana teknologi dan proses pengerjaannya pada masa lalu. Keberadaan pengrajin logam tempa di sepanjang daerah aliran Sungai Pawan tentu bukan suatu kebetulan, mungkin ada hubungan antara kehadiran artefak dengan teknologi tempa logam tradisional yang masih bertahan saat ini. Pendekatan etnoarkeologi dilakukan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran untuk merekonstruksi teknologi tempa logam di masa lalu di daerah aliran Sungai Pawan untuk melihat dan belajar tentang kelangsungan budaya yang masih ada saat ini di lokasi tersebut. Teknologi penempaan logam dengan menggunakan "ububan" yang masih digunakan saat ini di beberapa lokasi di Indonesia dan di daerah aliran Sungai Pawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi artefak pengerjaan logam di masa lalu tidak jauh berbeda dari kemajuan teknologi yang masih berlangsung hingga saat ini.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.137-146
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i2.301 (DOI)

    • Article
    Select

    Traces of the History of South Cisarua Plantation: Archives and Inscription of the Dutch Tomb in Kebon Jahe Cisarua-Bogor, Jawa Barat

    Lia Nuralia
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.63-78 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Perkebunan Cisarua Selatan berdasarkan arsip kolonial dan prasasti makam Belanda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi dengan pendekatan sejarah dan symbolic meaning, yang menerangkan, Perkebunan Cisarua Selatan berdasarkan arsip kolonial dan prasasti makam Belanda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi dengan pendekatan sejarah dan symbolic meaning, yang menerangkan
    Available
    More…
    Title: Traces of the History of South Cisarua Plantation: Archives and Inscription of the Dutch Tomb in Kebon Jahe Cisarua-Bogor, Jawa Barat
    Author: Lia Nuralia
    Subject: History Traces - South Cisarua Plantation - Archieves - Dutch Tombs Inscription
    Description: Makam Belanda (kerkhof) dengan inkripsi (prasasti) di Kebon Jahe merupakan sumber data arkeologis, menjadi petunjuk awal untuk penelusuran arsip kolonial sebagi sumber data sejarah. Sumber data sejarah dan arkeologis menjadi satu kolaborasi data yang saling melengkapi, yang dapat menjelaskan keberadaan perkebunan zaman Belanda yang sekarang sudah tidak ada. Apa dan bagaimana kedua sumber data tersebut menjadi bukti penting tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di masa lalu, menjadi permasalahan dalam tulisan ini. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan mengungkap jejak sejarah Perkebunan Cisarua Selatan berdasarkan arsip kolonial dan prasasti makam Belanda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi dengan pendekatan sejarah dan symbolic meaning, yang menerangkan tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di masa lalu, melalui arti inskripsi dan ragam hias makam, serta identitas orang yang dimakamkan melalui sumber arsip Belanda. Hasil yang diperoleh adalah kepastian tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di daerah Cisarua Bogor, dengan bukti fisik berupa tujuh Makam Belanda di Kampung Kebon Jahe, serta dokumen tertulis (rekaman sejarah) dalam Arsip Kolonial Indische Navorsher 1934 dan Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1920 No. 72. The Dutch tomb (kerkhof) with the inscription in Kebon Jahe is the source of archaeological data, becoming the initial guidance for searching colonial archives as a source of historical data. The source of historical and archaeological data becomes a collaboration of complementary data, which could explain the existence of a now-defunct Dutch plantation. What and how these two sources of data become important evidence of the existence of South Cisarua Plantation in the past, is a problem in this paper. Thus, this paper aims to reveal traces of the history of South Cisarua Plantation based on colonial archives and inscription of the Dutch tomb. The method used archaeological research with historical approach and symbolic meaning, which explains about the existence of South Cisarua Plantation in the past, through the meaning of inscriptions and decorative graves of the tomb, as well as the identity of people buried through the source of the Dutch archives. The results obtained certainty about the existence of South Cisarua Plantation in Cisarua Bogor area, with physical evidence in the form of seven Dutch Tombs in Kampung Kebon Jahe, as well as written documents as historical record in Colonial Archive of Indische Navorsher 1934 and Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1920 No. 72.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.63-78
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.481 (DOI)