3 results
Sort by:
Add to the list:
    • Article
    Select

    Situs-situs Megalitik di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

    Nfn Hasanuddin
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.83-94 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Situs-situs Megalitik di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan
    Author: Nfn Hasanuddin
    Subject: Megalitik, Hirarki Situs, Permukiman
    Description: Wajo in South Sulawesi is a region that has been known have findings from Islamic period, so it tends to be categorized as an area that civilization started around the 17th century AD. Research in Wajo intended to get an overview of distribution and development of the megalithic period, which is also known as the beginning of civilization. In its achieving, the survey method is used to determine the distribution of megalithic synchronization and also excavations conducted at the Cilellang site to reveal the variability of finds in the cultural layers and development of the megalithics in diachronic. Obtained a description of the research, Cilellang, Tobattang and Allangkanange megalithic sites developed since 13th until 15th century AD in the southeast of Tempe Lake. Agricultural activity is the main livelihood that is marked by 36 mortar stone finds on all three sites. Those three sites can also give an overview of the hierarchy of Allangkanange settlements that may have high social strata because it has the most extensive sites, more varied archaeological remains, and a higher location. Probably Allangkanange is the administrative center of Tobattang and Cilellang sites.   Kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan merupakan daerah yang selama ini diketahui memiliki temuan-temuan masa Islam, sehingga cenderung dikategorikan sebagai daerah yang memulai peradabannya sekitar abad ke-17 Masehi. Penelitian di Wajo dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai distribusi dan masa perkembangan megalitik, dan juga dapat menandai awal peradabannya. Dalam pencapaiannya, digunakan metode survei untuk mengetahui distribusi megalitik secara sinkronis dan dilakukan ekskavasi di situs Cilellang untuk mengetahui variabilitas temuan dalam lapisan budaya dan masa perkembangan megalitik secara diakronis. Dari penelitian diperoleh gambaran bahwa situs Cilellang, Tobattang dan Allangkanange merupakan situs megalitik yang berkembang sejak abad ke-13 hingga abad ke-15 M di wilayah sebelah tenggara Danau Tempe. Aktivitas pertanian merupakan mata pencaharian pokok ditandai dengan temuan 36 lumpang batu pada ketiga situs tersebut. Ketiga situs juga dapat memberi gambaran secara hirarki, yaitu  situs Allangkanange mungkin mempunyai strata sosial permukiman yang lebih tinggi dibandingkan situs Cilellang dan Tobattang, karena memiliki luas situs paling besar, tinggalan arkeologi yang lebih bervariatif dan lokasi yang lebih tinggi. Mungkin saja situs Allangkanange adalah pusat pemerintahan dari situs Cilellang dan Tobattang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.83-94
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.395 (DOI)

    • Article
    Select

    Nilai-Nilai Sosial dan Religi dalam Tradisi Megalitik di Sulawesi Selatan

    Nfn Hasanuddin
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.191-198 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Nilai-Nilai Sosial dan Religi dalam Tradisi Megalitik di Sulawesi Selatan
    Author: Nfn Hasanuddin
    Subject: Tradisi, Ritual, Permukiman
    Description: South Sulawesi is a region which has a several culture and megalith tradition that spread in various locations. Of those various forms and kinds of that megalith monument, there are important values that can be reinvented for the society. The purpose is to determine the social dan religious value of megalithic culture in South Sulawesi. In order to recognize those values, a research with an ethnoarchaeological approach has been done through direct observations and surveys in the society which still have megalith tradition, and focused to identify its values and functions in society. This research found that this tradition was developed since the 2nd AD until the 10th to 13th AD. During that period, the settlement system was composed of small communities that occupying highland and lowland. That small community was called wanua which spread across South Sulawesi peninsula. At the present time, that megalith tradition is still found in Torajan community, and in several ritual practices among communities in Enrekang and Soppeng regency, South Sulawesi. Generally, that megalith tradition is endorsing several values such like cooperation and spiritual. Sulawesi Selatan merupakan suatu daerah yang memiliki beberapa bentuk budaya dan tradisi megalitik (kebudayaan batu besar) yang tersebar di berbagai wilayah. Dari berbagai bentuk dan jenis megalitik itu tentunya memiliki nilai-nilai  yang dapat diterapkan dalam masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengetahui nilai sosial dan religi dari kebudayaan megalitik di Sulawesi selatan. Dalam pencapaiannya digunakan pendekatan etnoarkeologi dengan cara melakukan survei di beberapa daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki peninggalan megalitik. Selanjutnya dilakukan wawancara dan pengamatan langsung di masyarakat yang masih menggunakan kebudayaan megalitik untuk mengetahui fungsi dalam masyarakat. Penelitian selama ini menunjukkan bahwa kebudayaan ini berawal sekitar abad ke-2 Masehi dan terus berlanjut pada abad ke-10 hingga abad ke-13 Masehi. Sistem permukiman pada masa itu merupakan kelompok-kelompok komunitas yang menempati wilayah ketinggian dan dataran rendah. Pada awal terbentuknya populasi disebabkan adanya berbagai daerah otonom kecil yang disebut wanuwa yang terdapat di beberapa daerah di seluruh semenanjung Sulawesi Selatan. Budaya ini masih berkesinambungan hingga sekarang pada masyarakat Toraja, atau dalam praktek ritual seperti di Enrekang dan Soppeng, Sulawesi Selatan. Pada umumnya kebudayaan megalitik mengandung nilai-nilai kerjasama dan gotong royong serta religi yang menonjol.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.191-198
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i2.313 (DOI)

    • Article
    Select

    Banggai in Shipping and Trading in the Eastern Region of Sulawesi in the 19th Century

    Nfn Hasanuddin
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.101-110 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Banggai in Shipping and Trading in the Eastern Region of Sulawesi in the 19th Century
    Author: Nfn Hasanuddin
    Subject: Shipping ; Trading ; Merchant Village ; Banggai
    Description: Banggai memiliki peran strategis dalam jaringan pelayaran dan perdagangan di kawasan timur Sulawesi. Letak geografisnya yang menghubungkan antara Gorontalo, Teluk Tomini, Ternate, Buton, dan Makassar. Kondisi ini diperkuat oleh ketersediaan berbagai komoditas, seperti, bijih besi, tripang, sisik penyu, sarang burung, kayu cendana, damar, rotan, dan kopra. Artikel ini bermaksud melihat Banggai dan perannya dalam perdagangan dan pelayaran di kawasan timur Sulawesi pada abad ke-19. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi Banggai meliputi: posisi Banggai dalam jalur pelayaran Nusantara, dinamika perdagangan antar pulau, dinamika dan aktifitas bajak laut di wilayah Banggai, dan kehadiran pemukiman dalam wujud perkampungan pedagang dan pendatang. Penelitian menggunakan metode sejarah yaitu penelusuran arsip dan studi pustaka dengan mengumpulkan data-data sejarah. Kemudian menguraikan suatu peristiwa ke dalam bagian-bagiannya dalam rangka memahami pelayaran dan perdagangan Banggai pada abad ke-19. Artikel ini membuktikan bahwa jaringan maritim Banggai menjadi salah satu faktor penting terbentuknya integrasi di kawasan perairan Sulawesi bagian timur, baik dalam arti komunitas maupun koneksi antar kerajaan dan kekuasaan. Para pedagang dan pendatang dari Bugis, Buton, Gorontalo, Mandar, Bajo, Cina, dan Arab menjadi faktor pembentuk komunitas yang berkarakter majemuk di Banggai. Kondisi ini melahirkan situasi baru melalui hubungan komunikasi antara pedagang dan pendatang dengan penduduk setempat telah memperlihatkan proses kultural yang dinamis dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Keadaan ini kemudian menciptakan integrasi kawasan timur Indonesia, dan mendorong perkembangan jaringan pelayaran dan perdagangan di kawasan timur Sulawesi.  Banggai has a strategic role in the shipping and trading networks in eastern Sulawesi. Its geographical location connects between Gorontalo, Tomini Bay, Ternate, Buton, and Makassar. This condition is reinforced by the availability of various commodities, such as iron ore, sea cucumber (teripang), sea turtle scales, bird's nest, sandalwood, resin, rattan, and copra. This article looks at Banggai and its role in trade and shipping in the eastern region of Sulawesi in the 19th century. This article aims to describe the condition of Banggai which includes among others; Banggai position in the archipelago shipping lanes, dynamics of inter-island trade, dynamics and activities of pirates in the Banggai region, and the presence of settlements in the form of merchant and immigrant villages. This study used historical method of archive search and literature study by collecting historical data, then describing an event into its parts in order to understand the shipping and trading of Banggai in the 19th century. This article proves that Banggai maritime network has become an important factor in integration of the waters of eastern Sulawesi, both in terms of community and inter-royal and power connections. The traders and migrants from Bugis, Buton, Gorontalo, Mandar, Bajo, China, and Arab became the forming factor of a multi-faceted community in Banggai. This condition gave birth to a new situation through communication links between traders and immigrants with local residents which have shown a dynamic cultural process with different backgrounds. This situation creates the integration of eastern Indonesia and encourages development of shipping and trading networks in eastern Sulawesi.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.101-110
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.465 (DOI)