5 results
Sort by:
Add to the list:
    • Article
    Select

    Arkeologi Kepulauan Maluku

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.29-36 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    (cultural resources); dolmen, caves, castles, old country/old settlement, menhirs, sultanate, Kapata / folklore is the basic structure of cultural understanding in the Maluku Islands. The goal is to, (cultural resources); dolmen, caves, castles, old country/old settlement, menhirs, sultanate, Kapata / folklore is the basic structure of cultural understanding in the Maluku Islands. The goal
    Available
    More…
    Title: Arkeologi Kepulauan Maluku
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Sumberdaya Arkeologi, Struktur, Kepulauan Maluku
    Description: Archaeological cultural resources in the Maluku Islands consist of a variety of aspects, including Prehistoric, Historic, Islamic, colonial and Ethnoarchaeology. These aspects are categorized in helping the mapping of archaeological research in the Maluku Islands. Functional structural archaeological remains integrated in the cultural unity of the social system as a symbolic interaction. Maluku Archipelago covers the two areas, namely Maluku and North Maluku. The problem this paper is how archaeological resources can show the interpretation of symbolic interaction. Archaeological remains (cultural resources); dolmen, caves, castles, old country/old settlement, menhirs, sultanate, Kapata / folklore is the basic structure of cultural understanding in the Maluku Islands. The goal is to know and understand the remains, archaeological remains were able to reconstruct the culture of human society Maluku Islands. Approach to research using library study. From the research that archaeological cultural resources is a symbolic interpretation of the interaction of a group of human society in a particular area. Sites sampled studies prove that archaeological cultural resources as a reflection of the people of Maluku Generally and certain areas in the Moluccas in particular. Sumberdaya budaya arkeologi di Kepulauan Maluku terdiri dari berbagai aspek, diantaranya Prasejarah, Sejarah, Islam, Kolonial dan Etnoarkeologi. Aspek-aspek tersebut dikategorisasikan untuk memudahkan pemetaan penelitian arkeologi di Kepulauan Maluku. Struktural fungsional tinggalan-tinggalan arkeologi terintegrasi dalam kesatuan sistem sosial budaya sebagai interaksi simbolik. Kepulauan Maluku berarti kita berbicara dalam dua wilayah, yaitu Maluku dan Maluku Utara. Permasalahan penulisan ini adalah bagaimana sumberdaya budaya arkeologis dapat menunjukan interprestasi interaksi simbolik. Tinggalan-tinggalan arkeologis (sumberdaya budaya); dolmen, gua, benteng, negeri lama/permukiman lama, menhir, kesultanan, kapata/folklore adalah struktur dasar pemahaman akan kebudayaan di Kepulauan Maluku. Tujuannya adalah untuk mengetahui dan memahami tinggalan-tinggalan arkeologis mampu merekonstruksi kebudayaan masyarakat manusia Kepulauan Maluku. Pendekatan penelitian menggunakan studi kepustakaan. Dari hasil penelitian bahwa sumberdaya budaya arkeologi merupakan suatu interprestasi interaksi simbolik suatu kelompok manusia masyarakat pada daerah tertentu. Situs-situs kajian penulis yang menjadi sampel membuktikan bahwa sumberdaya budaya arkeologi sebagai cerminan masyarakat Maluku Umumnya dan daerah tertentu di Maluku pada khususnya.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(1), pp.29-36
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i1.197 (DOI)

    • Article
    Select

    A Geological and Spatial Approach to Prehistoric Archaeological Surveys on Small Islands: Case Studies from Maluku Barat Daya, Indonesia

    Shimona Kealy, Lucas Wattimena, Sue O'Connor
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.1-14 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    ini merupakan hasil survei arkeologi tahun 2017 di Pulau Babar Besar dan Pulau Wetang yang termasuk dalam bagian dari kelompok Kepulauan Babar, Maluku Barat Daya, Indonesia. Tercatat sebanyak 62 situs... Survei arkeologi sangat penting untuk penemuan dan interpretasi sisa-sisa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia prasejarah. Saat ini penginderaan jarak jauh dan model prediktif telah... meningkatkan…
    Available
    More…
    Title: A Geological and Spatial Approach to Prehistoric Archaeological Surveys on Small Islands: Case Studies from Maluku Barat Daya, Indonesia
    Author: Shimona Kealy; Lucas Wattimena; Sue O'Connor
    Subject: Survey ; Babar ; Maluku ; Archaeology ; Prehistory
    Description: Survei arkeologi sangat penting untuk penemuan dan interpretasi sisa-sisa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia prasejarah. Saat ini penginderaan jarak jauh dan model prediktif telah meningkatkan jangkauan dan keberhasilan survei arkeologi, namun survei pejalan kaki untuk mengembangkan parameter model dan prediksi kebenaran dasar masih penting untuk keberhasilan suatu penemuan. Penelitian ini merupakan hasil survei arkeologi tahun 2017 di Pulau Babar Besar dan Pulau Wetang yang termasuk dalam bagian dari kelompok Kepulauan Babar, Maluku Barat Daya, Indonesia. Tercatat sebanyak 62 situs arkeologi ditemukan di kedua pulau tersebut, tujuh diantaranya merupakan situs lukisan cadas baru yang ditemukan di Pulau Wetang. Hasil survei ini menunjukkan keberhasilan penggunaan peta geologi dan topografi di samping citra satelit dalam mendeteksi daerah prospektif untuk survei. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemahaman karakteristik geologi daerah yang lebih rinci dan komparatif diperlukan sebelum dilakukan survei jarak jauh yang lebih lanjut di wilayah Maluku Barat Daya, Indonesia. Archaeological surveys are essential to the discovery and interpretation of remains left by past human activities. While remote sensing and predictive models have greatly improved the reach and success of archaeological survey, pedestrian surveys to develop model parameters and ground-truth predictions is still imperative for successful discoveries. Here we present the results of the 2017 archaeological survey of islands Babar Besar and Wetang in the Babar Island Group, Maluku Barat Daya, Indonesia. A total of 62 archaeological sites were recorded between the two islands; seven of which represent new rock art sites on Wetang island. Our survey results indicate the successful use of geological and topographic maps alongside satellite images in detecting prospective regions for survey. Results also indicate however that a more detailed and comparative understanding of the regions geology is required before more advanced forms of remote survey are conducted in the Maluku Barat Daya region.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.1-14
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.458 (DOI)

    • Article
    Select

    Lukisan Cadas: Simbolis Orang Maluku

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.47-54 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Lukisan Cadas: Simbolis Orang Maluku
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Lukisan Cadas, Struktur Simbol, Sistem Sosial Budaya, Orang Maluku
    Description: Rock paintings in Moluccas has a core meaning and symbols in the life cycle of Moluccans in the past, present and future-future. Archaeological remains of rock paintings is a cultural interpretation of the past, where the construction of the values contained therein are an integral part of the social system of human culture the people of Moluccas. The values contained is the value of kinship, religion, grouping, knowledge, survival (survival strategy). Rock paintings in Ohoidertawun, Wamkana and Gulf Saleman have hinted that there are phases of any future development of human society. Research on how the rock paintings as archaeological remains, as the impact of the cultural value system and the structure of the rock painting itself. Performed in order to determine the value of the cultural and social system structure Moluccans rock paintings. The study of literature become the main reference of the study, with emphasis on past and present the data. From the research results prove that the archaeological remains of rock paintings have been contributing to the sociocultural meaning people of Moluccas, including the meaning of identity, culture and plurality or diversity. Lukisan cadas di Maluku memiliki inti makna dan simbol dalam siklus hidup Orang Maluku pada masa lampau, sekarang dan masa-masa yang akan datang. Tinggalan arkeologi lukisan cadas merupakan interprestasi kebudayaan masa lampau, dimana konstruksi nilai yang terkandung didalamnya adalah bagian integral dari sistim sosial budaya manusia masyarakat Maluku. Nilai-nilai yang terkandung adalah nilai kekerabatan, religi, pengelompokkan, pengetahuan, bertahan hidup (survival strategy). Lukisan cadas yang ada di Ohoidertawun, Wamkana dan Teluk Saleman telah memberikan petunjuk bahwa ada fase-fase perkembangan masyarakat manusia setiap masa. Penelitian tentang bagaimana lukisan cadas sebagai tinggalan arkeologis, sebagai dampak sistem nilai budaya dan struktur lukisan cadas itu sendiri. Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sistem sosial nilai budaya dan struktur lukisan cadas Orang Maluku. Studi literatur menjadi acuan utama penelitian tersebut, dengan mengutamakan data terdahulu dan kini. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa tinggalan arkeologis lukisan cadas telah memberikan kontribusi makna bagi sosial budaya Orang Maluku, diantaranya makna identitas, peradaban dan pluralitas atau kemajemukan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.47-54
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i1.217 (DOI)

    • Article
    Select

    Batu Teong di Pegunungan Kota Ambon, Kepulauan Ambon Lease

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.213-220 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Batu Teong di Pegunungan Kota Ambon, Kepulauan Ambon Lease
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Dolmen, Batu Teong, Permukiman, Kosmoslogi, Pulau Ambon
    Description: This paper discusses the traces of prehistoric communities in the mountainous region of the Ambon island. This study is more directed to archaeological findings in the form of material culture that is dolmen in expressing their cosmology. Cosmology discussion in this paper is about understanding and views of people in the mountain region of the city of Ambon, Ambon Island on settlement patterns and understanding symbols dolmen. The purpose of writing is to know the and understand the views and understanding of the people in the mountainous region of Ambon City in  Ambon Island on settlement patterns and understanding symbols based on material culture dolmen. Methods ethnoarchaeology the basis for the reviewers' problems referred to with reference to the interview data collection techniques, survey and literature study. The results showed that 1) people in the mountainous region of the city of Ambon, Ambon Island know as stone dolmen Teong, the stone which symbolizes about grouping integrated community. 2) The settlement pattern of people in the mountainous region of the city of Ambon, Ambon Island based cultural material of stone dolmen Teong characterized micro settlements, ie settlements which focuses on the center of the stone dolmen Teong as central settlement. Macro-economic settlement of people in the mountainous region of the city of Ambon, Ambon Island has a characteristic orientation (cosmos) coastal settlement - the mountain. The orientation can be seen in the forms of settlement which extends linearly follow the directions north south and cosmos them about splitting the island, or in other words do not follow geographical settlements length of the island. Tulisan ini membahas tentang bagaimana jejak-jejak prasejarah orang-orang pegunungan di wilayah Pulau Ambon. Kajian ini lebih mengarah kepada temuan arkeologi berupa budaya material yaitu dolmen dalam mengungkapkan kosmologi mereka. Pembahasan kosmologi dalam tulisan ini adalah mengenai pemahaman dan pandangan orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon tentang pola permukiman dan pemaknaan simbol dolmen. Tujuan penulisan adalah untuk mengatahui dan memahami pandangan dan pemahaman orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon tentang pola permukiman dan pemaknaan simbol berdasarkan budaya bendawi dolmen. Metode etnoarkeologi menjadi dasar dalam penelaah permasalahan dimaksud dengan mengacu pada teknik pengumpulan data wawancara, survei dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon mengenal dolmen dengan sebutan batu teong, yaitu batu yang melambangkan tentang pengelompokkan masyarakat yang terintegrasi. 2) Pola permukiman orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon berdasarkan budaya bendawi dolmen batu teong memiliki ciri permukiman mikro, yaitu permukiman yang menitik beratkan pusat dolmen batu teong sebagai sentral permukiman. Permukiman makro yaitu orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon memiliki ciri orientasi (kosmos) permukiman pantai–gunung. Orientasi tersebut dapat dilihat pada bentuk-bentuk permukiman yang linear memanjang mengikuti arah utara selatan serta kosmos mereka tentang membelah pulau, atau kata lain permukiman tidak mengikuti geografis panjang pulau.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.213-220
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i2.328 (DOI)

    • Article
    Select

    Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Maluku Tengah

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.155-164 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Maluku Tengah
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Orang Huaulu, Rumah, Pengetahuan, Teknologi
    Description: House of Huaulu, Seram Island in Central Mollucas district has several aspects related to the pattern of the building, the building materials used, as well as the pattern of worked. The purpose of this researches is to known and understand what kind of aspects are contained in the house of Huaulu People. The method uses ethnoarcheology approach, the data collection techniques interview, observation and literature study. The analysis was performed by descriptive follow aspects of ethnoarchaeology. The results showed that the House of Huaulu People, has two aspects. First aspect of knowledge covering the level of understanding in working on the house, the house view of the cosmos, as well as the art of decorative patterns that interpret the cultural social life. Second, the technological aspect is the level of knowledge and understanding of the tools and materials used for the construction of the house. Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah memiliki beberapa aspek yang terkait dengan pola bangunan, bahan bangunan yang digunakan, serta pola pengerjaannya.Tujuan penelitian untuk mengetahui dan memahami aspek-aspek apa saja yang terdapat pada rumah Orang Huaulu. Metode menggunakan  pendekatan etnoarkeologi, dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan secara deskriptif mengikuti aspek-aspek dalam Etnoarkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Rumah Orang Huaulu memiliki dua aspek. Pertama aspek pengetahuan meliputi tingkat pemahaman dalam mengerjakan rumah, pandangan terhadap kosmos rumah, serta seni pola hias yang menginterprestasikan kehidupan sosial budayanya. Kedua, Aspek teknologi yaitu tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang alat dan bahan yang digunakan untuk pengerjaan rumah.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.155-164
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i2.294 (DOI)