190 results
Sort by:
Add to the list:
  • Article
    Select

    Jejak Tata Niaga Rempah-Rempah dalam Jaringan Perdagangan Masa Kolonial di Maluku

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(13), pp.20-39 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    kaitannya dengan jaringan perdagangan masa kolonial di Maluku. Dengan tujuan tersebut, kajian ini menggunakan studi kepustakaan terkait dengan data arkeologi dan penelusuran sumber sejarah. Hasil dari kajian, kaitannya dengan jaringan perdagangan masa kolonial di Maluku. Dengan tujuan tersebut, kajian ini menggunakan studi kepustakaan terkait dengan data arkeologi dan penelusuran sumber sejarah. Hasil…
    Available
    More…
    Title: Jejak Tata Niaga Rempah-Rempah dalam Jaringan Perdagangan Masa Kolonial di Maluku
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Tata Niaga, Rempah-Rempah, Jaringan Lokal, Masa Kolonial, Maluku
    Description: Jaringan perdagangan masa lalu telah menempatkan rempah-rempah sebagai komoditi utama. Jaringan perdagangan ini semakin ramai dengan kedatangan bangsa Eropa sekitar abad ke-16. Dalam konteks perdagangan global, terbentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan dunia barat sebagai konsumen dan dunia timur sebagai penghasil komoditi. Maluku dikenal sebagai pusat produksi cengkeh dan pala (Kepulauan Rempah-Rempah). Namun, bagaimana jaringan perdagangan global ini dihubungkan dengan tata niaga lokal. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tata niaga rempah-rempah dalam kaitannya dengan jaringan perdagangan masa kolonial di Maluku. Dengan tujuan tersebut, kajian ini menggunakan studi kepustakaan terkait dengan data arkeologi dan penelusuran sumber sejarah. Hasil dari kajian ini, diperoleh informasi bahwa tata niaga rempah-rempah masa Kolonial memusatkan dua jenis komoditi, yaitu cengkeh di wilayah Pulau Ambon dan Kepulauan Lease (Haruku, Saparua, dan Nusalaut), serta pala di wilayah Kepulauan Banda (Lonthor, Ay, dan Neira). Tata niaga tersebut sekaligus menerapkan sistem yang berbeda yaitu sistem dati untuk cengkeh dan sistem perken untuk pala.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.7(13), pp.20-39
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v7i13.167 (DOI)

  • Article
    Select

    Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data

    Irfanuddin Wahid Marzuki
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.89-100 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian... . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini,…
    Available
    More…
    Title: Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data
    Author: Irfanuddin Wahid Marzuki
    Subject: Kema - Sulawesi Sea Trade - Colonial Period
    Description: Kema merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara yang berada di pesisir selatan Sulawesi. Saat ini Kema dikenal sebagai perkampungan nelayan padat penduduk yang terbagi menjadi Kema I, Kema II, dan Kema III. Riwayat sejarah Kema sudah dikenal semenjak abad XVI oleh pelaut-pelaut Eropa yang singgah untuk mengisi air minum, kemudian berkembang hingga menjadi sebuah kota pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan Kema dahulu merupakan sebuah permukiman yang sudah maju, meliputi pola permukiman dan jaringan jalan, pelabuhan dan saran pendukungnya, rumah ibadah, bangunan perumahan, pasar, dan jaringan komunikasi. Bukti arkeologis dan data sejarah mengungkap bahwa Kema dikenal sebagai pelabuhan laut yang memegang peranan penting dalam perdagangan global pada masa Kolonial. Pelabuhan Kema bahkan ditetapkan sebagai salah satu pelabuhan bebas di perairan Laut Sulawesi. Peran pelabuhan Kema saat ini mengalami kemunduran, hanya sebagai pelabuhan perikanan tidak lagi sebagai pelabuhan samudera. Kema is one of the districts in Minahasa Utara Regency located on the southern coast of Sulawesi Utara. Currently, Kema is known as a densely populated fishing village which is divided into Kema Satu, Kema Dua, and Kema Tiga. Based on historical data, Kema has been known since the 16 century by European sailors who stopped to fill drinking water, then expanded into a port city. This study aims to determine the rise and fall of the existence of Kema in the global trade of the Sulawesi Sea in the colonial period based on archaeological and historical data. This study uses a historical archeology approach that combines archaeological data with historical data. Research stages include data collection phase, data analysis, and conclusion. The results indicate archaeological evidence shows that Kema was an advanced settlement, covering the settlement patterns and road networks, ports and supporting facilities, houses of worship, residential buildings, markets, and communications networks. Archaeological evidence and historical data reveal that Kema is known as a seaport that plays an important role in global trading during the Colonial period. Kema is even designated as one of the free ports in Sulawesi Sea. The role of Kema is currently declining, only as a fishing port no longer as an ocean port.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.89-100
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.475 (DOI)

  • Article
    Select

    Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.123-138 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Tata Kota, Morfologi, Kosmologi, Islam, Lokal, Ternate
    Description: Ternate town, is a thriving Islamic city since 6-17 century AD. Although at that time influenced mainly Portuguese colonial hegemony and the Netherlands, but as a center of Islamic civilization, morphology and cosmology town laid out according to the Islamic concept and local concept. Through archaeological analysis, morphology and cosmological aspects of the town hall is described. For that carried out the archaeological survey in the city of Ternate with trace toponyms ancient city, then through the literature and interviews with sources. Archaeological analysis performed, ie with spatial analysis through data identification features that characterize the ancient city of Islam, as well as contextual analysis by analogy history and local culture. The purpose of this study is to describe the shape and development of the city, as well as cosmological concept underlying the form of urban planning. Results of the study include that component of the city center is characterized by buildings and mosques, kedaton sultan as an orientation center into a city of Ternate characteristics of Islamic civilization. In addition the local characteristics of the town of Ternate is shown by the local cosmological concepts, as well as the division of residential space natives and immigrants. During its development, the urban space is divided into five components, namely component downtown, residential, and commercial economy, burial, and religious. Kota Ternate, adalah sebuah Kota Islam yang berkembang sejak abad ke 6-17 Masehi. Meskipun pada masa itu dipengaruhi pula hegemoni kolonial terutama Portugis dan Belanda, namun sebagai sebuah pusat peradaban Islam, morfologi dan kosmologi kota ditata menurut konsep Islam dan konsep lokal. Melalui analisis arkeologi, aspek ruang morfologi dan kosmologi kota digambarkan. Untuk itu dilakukan survei arkeologi di wilayah Kota Ternate dengan menelusuri toponim-toponim kota kuno, kemudian melalui studi pustaka maupun wawancara dengan narasumber. Analisis arkeologi dilakukan, yakni dengan analisis keruangan melalui identifikasi data fitur yang mencirikan kota kuno Islam, serta analisis kontekstual melalui analogi sejarah dan budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bentuk dan perkembangan kota, serta konsep kosmologi yang melatarbelakangi bentuk tata kota. Hasil penelitian antara lain bahwa komponen pusat kota yang dicirikan oleh bangunan kedaton sultan dan masjid sebagai pusat orientasi menjadi karakteristik Ternate sebagai kota peradaban Islam. Selain itu ciri lokal kota Ternate ditunjukkan dengan konsep kosmologi lokal, serta adanya pembagian ruang hunian pribumi dan pendatang. Dalam perkembangannya, ruang kota terbagi menjadi lima komponen, yakni komponen pusat kota, pemukiman, ekonomi dan niaga, penguburan, dan keagamaan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.123-138
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i2.292 (DOI)

  • Article
    Select

    Revitalisasi Kebinekaan melalui Kampanye Slogan Arkeologis Hasil Penelitian Situs Kota Cina

    Defri Elias Simatupang
    Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.209-222 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini Situs, menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini…
    Available
    More…
    Title: Revitalisasi Kebinekaan melalui Kampanye Slogan Arkeologis Hasil Penelitian Situs Kota Cina
    Author: Defri Elias Simatupang
    Subject: Kebinekaan - Slogan - Arkeologis
    Description: This paper discusses the diversity of Indonesian people that needs to be improved following more susceptible of conflict in the communities with different ethnic, religion , race , and class. The archaeological research institution should be able to contribute for this process by using the research result of the Kota Cina in Medan North Sumatera. One of the approach which can be adopted is the use of arcaheological slogan. These slogans can be produce by using the parameter analysis of measureable mass communication with the content analysis method. The observation shows that the archaeological slogan of the Kota Cina can be produce and contribute to deliver the message in order to revitalize the diversity. Tulisan ini membahas kebinekaan masyarakat Indonesia yang semakin rentan menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini Situs Kota Cina di Kota Medan Sumatera Utara. Dalam upaya merevitalisasi kebinekaan, hasil penelitian Situs Kota Cina diangkat sebagai bahan kampanye slogan arkeologis. Slogan-slogan arkeologis hasil penelitian Situs Kota Cina dibuat berdasarkan kajian paramater pengamatan komunikasi massa yang terukur dengan metode analisis isi. Dari hasil pengamatan, slogan arkeologis hasil penelitian Situs Kota Cina dapat dibuat dan diyakini mampu berkontribusi menyampaikan pesan dalam usaha merevitalisasi kebinekaan, dengan catatan yang harus diperhatikan menyangkut penguasaan materi seputar hasil penelitian Situs Kota Cina.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.209-222
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.429 (DOI)

  • Article
    Select

    Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Hoamoal di Seram Bagian Barat

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.99-112 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk, wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk
    Available
    More…
    Title: Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Hoamoal di Seram Bagian Barat
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Kerajaan, Hoamoal, Islamisasi, Perdagangan
    Description: Hoamoal kingdom is one of the Islamic empire in the Moluccas Islands, precisely in Ceram which has an important role in the movement of Islamization in Central Moluccas region. This study with emphasis on archaeological survey method to collect physical data or artefaktual, then do the processing and analys is of data to explain the influence of Islam in the region. This study aims to look at developments in the history of the Kingdom Hoamoal Islam and trade in the region of Central Moluccas, and saw its role in supporting the Islamization movement in the region. The result showed that the growth of the Kingdom Hoamoal explanation can not be separated from the influence of Ternate in the form of Islamization and trade networks.   Kerajaan Hoamoal adalah salah satu kerajaan Islam di wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk mengumpulkan data fisik atau artefaktual, kemudian melakukan pengolahan dan analisis data untuk menjelaskan pengaruh Islam di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan Kerajaan Hoamoal dalam sejarah perkembangan Islam dan perdagangan di wilayah Maluku Tengah, serta melihat perannya dalam menunjang gerak Islamisasi di wilayah tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh penjelasan bahwa berkembangnya Kerajaan Hoamoal tidak terlepas dari pengaruh Ternate dalam membentuk jaringan Islamisasi dan  perdagangan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.99-112
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i2.226 (DOI)

  • Article
    Select

    Islamicization Strategies in Kao Ancient Village, North Halmahera

    Wuri Handoko, Muhammad Al Mujabuddawat, Joss Whittaker
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.49-62 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi, hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi
    Available
    More…
    Title: Islamicization Strategies in Kao Ancient Village, North Halmahera
    Author: Wuri Handoko; Muhammad Al Mujabuddawat; Joss Whittaker
    Subject: Kao - North Halmahera - Archaeology - Islamicization - Islam Conversion
    Description: Situs permukiman Kampung kuno Kao terletak di pedalaman Halmahera Utara, berdiri di atas tanah yang relatif basah diapit oleh sungai Aer Kalak, Ake Ngoali, dan Ake Jodo dan dikelilingi oleh hutan sagu dan rawa. Kondisi permukiman di situs ini membuatnya memiliki keterbatasan ruang hunian, namun orang-orang yang menghuni Kampung kuno Kao bermukim di wilayah ini dalam jangka waktu yang relatif panjang, yaitu antara 100-200 tahun, dan bahkan tercatat dalam rekam sejarah bahwa wilayah Kao dahulu menjadi penyuplai makanan pokok Ternate. Penelitian ini bersifat deduktif, yaitu menyusun sebuah hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi lisan yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisa dengan merujuk pada sumber referensi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situs Kao merupakan permukiman yang cukup maju  dan memiliki peran cukup penting sebagai wilayah pusat Islamisasi di Halmahera. Orang-orang di Kampung kuno Kao tinggal dalam waktu lama di satu lokasi didukung oleh sumber air dan potensi tanah-tanah pertanian menjadikan wilayah Kao sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang ramai. Kao menjadi bagian dari strategi dalam penyebaran Islam ke wilayah-wilayah pedalaman lainnya, juga daerah-daerah pesisir di Halmahera Utara. The Kao Ancient Village settlement site is located in the hinterland of North Halmahera, standing on relatively wet ground flanked by the river Aer Kalak, Ake Ngoali, and Ake Jodo and surrounded by sago and swamp forests. The settlement conditions on the site make it limited for residential space, but a community of Kao people settled in this area for a relatively long period of time between 100-200 years and even recorded in history that Kao region is the main food supplier for Ternate in the past. This research conducted surface surveys and limited excavations, then mapped the areas of artifactual findings, and identified patterns of spatial use by analyzing surface features and artifact scatters. Variety of archeological data both artifacts and oral traditions are then analyzed guided by relevant reference sources. The results show that Kao Site is an advanced settlement and has a significant role as the center of Islamicization in Halmahera. The Kao people settled for a long time in one location supported by water sources and the potential of farming lands making the Kao area a part of bustling trade networks. Kao became part of a strategy in spreading Islam to other inland areas, as well as coastal areas in North Halmahera.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.49-62
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.507 (DOI)

  • Article
    Select

    Teknologi Tempa Logam pada Masa Lalu di Daerah Aliran Sungai Pawan, Kalimantan Barat (sebuah pendekatan etnoarkeologi)

    Ida Bagus Putu Prajna Yogi
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.137-146 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa, Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa
    Available
    More…
    Title: Teknologi Tempa Logam pada Masa Lalu di Daerah Aliran Sungai Pawan, Kalimantan Barat (sebuah pendekatan etnoarkeologi)
    Author: Ida Bagus Putu Prajna Yogi
    Subject: Artefak Logam, Sungai Pawan, Ethnoarkeologi, Teknologi Logam
    Description: Archaeological evidence of metal artifacts found in the area Pawan Watershed in the number of inviting attention to be investigated, that is how the process of technology in the past. The existence of the craftsmen of wrought metal along the watershed area Pawan certainly was  not a coincidence. There might be a relationship between the presence of artifacts with traditional metal forging which is still survive until recently. Ethnoarchaeological approach that has been undertaken is expected to give an idea to reconstructs the metal forging technology in the past on Pawan Watershed; to understand the cultural continuity that still exists today in the area. Metal forging technology using the "ububan" the which is still used today in several locations in Indonesia, as well as in Pawan Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa artefak logam yang ditemukan di daerah aliran Sungai Pawan dalam jumlah yang cukup banyak mengundang perhatian untuk diteliti, yaitu bagaimana teknologi dan proses pengerjaannya pada masa lalu. Keberadaan pengrajin logam tempa di sepanjang daerah aliran Sungai Pawan tentu bukan suatu kebetulan, mungkin ada hubungan antara kehadiran artefak dengan teknologi tempa logam tradisional yang masih bertahan saat ini. Pendekatan etnoarkeologi dilakukan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran untuk merekonstruksi teknologi tempa logam di masa lalu di daerah aliran Sungai Pawan untuk melihat dan belajar tentang kelangsungan budaya yang masih ada saat ini di lokasi tersebut. Teknologi penempaan logam dengan menggunakan "ububan" yang masih digunakan saat ini di beberapa lokasi di Indonesia dan di daerah aliran Sungai Pawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi artefak pengerjaan logam di masa lalu tidak jauh berbeda dari kemajuan teknologi yang masih berlangsung hingga saat ini.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.137-146
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i2.301 (DOI)

  • Article
    Select

    Studi Konseptual Museum Negeri Sirisori Islam

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.89-102 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Studi Konseptual Museum Negeri Sirisori Islam
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Sumberdaya Budaya, Museum, Sirisori Islam, Eco-Museum
    Description: Maluku provincial government has the local characteristic as represented in the “pemerintahan negeri” as a unified system of customary communities in Maluku province government areas. It gives an understanding that the land administration system has implications for aspects of customary law relevant to understanding the history of the culture of a country. Therefore, in the context of the preservation of cultural resources, land administration is the collective memory of the people of Maluku that must be preserved. In regard to the preservation of cultural resources, research conducted in the State Islamic Sirisori is expected to summarize the totality of the cultural history of the country Sirisori Islam. Further more, the results of this study is a conceptual study on the establishment of the museum Sirisori Islamic country. Based on the conceptual study, an alternative form of museum management can adapt the form of eco-museum as an attempt to preserve the cultural resources that existin Sirisori Islamic State. The themes that can be displayed in a museum presentation; State History Sirisori Islam, Islamic tradition Sirisori State Society, and the State Archaeological Collection Sirisori Islam. Provinsi Maluku memiliki karakteristik pemerintahan yaitu sistem Pemerintahan Negeri sebagai kesatuan masyarakat hukum adat dalam wilayah pemerintahan Provinsi Maluku. Hal ini memberi pemahaman bahwa sistem pemerintahan negeri memiliki implikasi pada aspek hukum adat yang terkait dengan pemahaman sejarah budaya suatu negeri. Oleh karena itu, dalam konteks pelestarian sumber daya budaya, pemerintahan negeri merupakan memori kolektif masyarakat Maluku yang harus dilestarikan. Dalam kaitan pelestarian sumberdaya budaya tersebut, penelitian yang dilakukan di Negeri Sirisori Islam ini diharapkan dapat merangkum totalitas sejarah budaya negeri Sirisori Islam. Selanjutnya, hasil penelitian ini  merupakan kajian konseptual pendirian museum negeri di Sirisori Islam. Berdasarkan kajian konseptual tersebut,  alternatif bentuk pengelolaan museum dapat mengadaptasi bentuk eco-museum  sebagai upaya untuk melestarikan sumberdaya budaya yang ada di Negeri Sirisori Islam. Tema-tema yang dapat ditampilkan dalam penyajian museum diataranya; Sejarah Negeri Sirisori Islam, Tradisi Masyarakat Negeri Sirisori Islam, dan Koleksi Arkeologi Negeri Sirisori Islam.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.89-102
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i2.207 (DOI)

  • Article
    Select

    Looking For a Trace of Shamanism, in the Rock Art of Maros-Pangkep, South Sulawesi, Indonesia

    Irsyad Leihitu, Raden Cecep Eka Permana
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.15-26 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia, Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia
    Available
    More…
    Title: Looking For a Trace of Shamanism, in the Rock Art of Maros-Pangkep, South Sulawesi, Indonesia
    Author: Irsyad Leihitu; Raden Cecep Eka Permana
    Subject: Rock Art - Shamanism - Neuropsychology - Altered State of Consciousness - Trance - Maros-Pangkep, Formal Analogy
    Description: Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia, khususnya di wilayah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Menurut teori David Lewis-Williams dan David S. Whitley tentang pendekatan neuropsikologi terhadap gambar cadas, mereka mendeskripsikan "beberapa" motif sebagai penggambaran tahapan atau metafora dari Altered State of Consciousness (ASC) yang berhubungan dengan shamanisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana teori ASC dapat diuji dalam gambar cadas Maros-Pangkep, dan juga menunjukkan indikasi keberadaan shamanisme dalam gambar cadas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan analogi formal dan studi komparatif tentang motif-motif gambar cadas terpilih di kawasan Maros-Pangkep dengan gambar cadas di Afrika, Siberia, dan juga gambar cadas di Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa teori ASC dapat diterapkan dalam gambar cadas Indonesia dan ada beberapa indikasi shamanisme dalam gambar cadas di wilayah Maros-Pangkep. Rock art is an archaeological phenomenon which spread all over the world. Generally, this prehistoric art consists of various forms, motifs, and also meanings. This article discusses Indonesian rock art, particularly the Maros-Pangkep region in South Sulawesi. According to David Lewis-Williams and David S. Whitley’s theory about the neuropsychology approach to rock art, they describe “some” motifs as a depiction of stages or metaphors of the Altered State of Consciousness (ASC) that relates to shamanism. The aim of this study is to demonstrate how the ASC theory can be tested in Maros-Pangkep Rock Art, and also shows an indication of the existence of shamanism in Indonesian rock art. The research methods are formal analogy and comparative studies on the selected motifs of rock art in the Maros-Pangkep region with African, Siberian, and also American rock art. The result shows that the ASC theory can be applied in Indonesian rock art and there are some indications of shamanism in rock art motifs in the Maros-Pangkep region.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.15-26
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.496 (DOI)

  • Article
    Select

    Tinggalan Batu Lumpang di Desa Ruko, Kecamatan Tobelo: Tinjauan Atas Konteks Sejarah dan Sosial Budaya Kerajaan-Kerajaan Lokal di Halmahera Utara

    Karyamantha Surbakti
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(1), pp.1-10 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    as the strong indication of batu lumpang as the main supporting objects for the  economic activity at that time. Batu lumpang dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang, as the strong indication of batu lumpang as the main supporting objects for the  economic activity at that time. Batu lumpang dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang
    Available
    More…
    Title: Tinggalan Batu Lumpang di Desa Ruko, Kecamatan Tobelo: Tinjauan Atas Konteks Sejarah dan Sosial Budaya Kerajaan-Kerajaan Lokal di Halmahera Utara
    Author: Karyamantha Surbakti
    Subject: Batu Lumpang, Hegemoni Kekuasaan, Anasir Bangsa Asing, Konteks Sejarah, Sosial Budaya
    Description: Batu Lumpang in the archaeological perspecitve is known as remains with the characteristic as a tool for mashing food . This stone has a container shape that made of stone vessels were notched in the middle. The purpose of this study is to initiate the prelimenary study of the batu lumpang in the Ruko village, the District Tobelo , North Halmahera and will be use as a data that assist the interpreationt and explaination on the history of  North Halmahera. The research method adopted in this study is observation and interviews. Qualitative analysis and ethnoarchaeology analysis has been adopted to see the depth of the data to be interpreted. Results of the study shows that the  factors of hegemony of the Ternate empire who conquered Moro and an abundance of food sources in Moro, as well as the strong indication of batu lumpang as the main supporting objects for the  economic activity at that time. Batu lumpang dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang mengarah sebagai alat menumbuk makanan. Batu ini merupakan wadah yang berbentuk bejana terbuat dari batu yang berlekuk di tengahnya. Tujuan dari penelitian ini sebagai studi awal dalam melihat tinggalan batu lumpang yang ada di Desa Ruko Kec. Tobelo Kab. Halmahera Utara sebagai data yang membantu menginterpretasi dan menjelaskan sebuah peristiwa sejarah yang panjang di Halmahera Utara. Metode penelitian menggunakan observasi langsung dan wawancara. Analisis kualitatif dan analisis etnoarkeologi diperlukan untuk melihat kedalaman data yang hendak diinterpretasikan. Hasil dari penelitian adalah faktor hegemoni kekuasaan dari kerajaan Ternate yang menaklukkan kerajaan Moro dan berlimpahnya sumber bahan pangan di Moro menjadikan indikasi kuat batu lumpang sebagai penyokong aktivitas ekonomi pada kala itu.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(1), pp.1-10
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i1.277 (DOI)