161 results
Sort by:
Add to the list:
    • Article
    Select

    Studi Konseptual Museum Negeri Sirisori Islam

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.89-102 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Studi Konseptual Museum Negeri Sirisori Islam
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Sumberdaya Budaya, Museum, Sirisori Islam, Eco-Museum
    Description: Maluku provincial government has the local characteristic as represented in the “pemerintahan negeri” as a unified system of customary communities in Maluku province government areas. It gives an understanding that the land administration system has implications for aspects of customary law relevant to understanding the history of the culture of a country. Therefore, in the context of the preservation of cultural resources, land administration is the collective memory of the people of Maluku that must be preserved. In regard to the preservation of cultural resources, research conducted in the State Islamic Sirisori is expected to summarize the totality of the cultural history of the country Sirisori Islam. Further more, the results of this study is a conceptual study on the establishment of the museum Sirisori Islamic country. Based on the conceptual study, an alternative form of museum management can adapt the form of eco-museum as an attempt to preserve the cultural resources that existin Sirisori Islamic State. The themes that can be displayed in a museum presentation; State History Sirisori Islam, Islamic tradition Sirisori State Society, and the State Archaeological Collection Sirisori Islam. Provinsi Maluku memiliki karakteristik pemerintahan yaitu sistem Pemerintahan Negeri sebagai kesatuan masyarakat hukum adat dalam wilayah pemerintahan Provinsi Maluku. Hal ini memberi pemahaman bahwa sistem pemerintahan negeri memiliki implikasi pada aspek hukum adat yang terkait dengan pemahaman sejarah budaya suatu negeri. Oleh karena itu, dalam konteks pelestarian sumber daya budaya, pemerintahan negeri merupakan memori kolektif masyarakat Maluku yang harus dilestarikan. Dalam kaitan pelestarian sumberdaya budaya tersebut, penelitian yang dilakukan di Negeri Sirisori Islam ini diharapkan dapat merangkum totalitas sejarah budaya negeri Sirisori Islam. Selanjutnya, hasil penelitian ini  merupakan kajian konseptual pendirian museum negeri di Sirisori Islam. Berdasarkan kajian konseptual tersebut,  alternatif bentuk pengelolaan museum dapat mengadaptasi bentuk eco-museum  sebagai upaya untuk melestarikan sumberdaya budaya yang ada di Negeri Sirisori Islam. Tema-tema yang dapat ditampilkan dalam penyajian museum diataranya; Sejarah Negeri Sirisori Islam, Tradisi Masyarakat Negeri Sirisori Islam, dan Koleksi Arkeologi Negeri Sirisori Islam.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.89-102
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i2.207 (DOI)

    • Article
    Select

    Looking For a Trace of Shamanism, in the Rock Art of Maros-Pangkep, South Sulawesi, Indonesia

    Irsyad Leihitu, Raden Cecep Eka Permana
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.15-26 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia, Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia
    Available
    More…
    Title: Looking For a Trace of Shamanism, in the Rock Art of Maros-Pangkep, South Sulawesi, Indonesia
    Author: Irsyad Leihitu; Raden Cecep Eka Permana
    Subject: Rock Art - Shamanism - Neuropsychology - Altered State of Consciousness - Trance - Maros-Pangkep, Formal Analogy
    Description: Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia, khususnya di wilayah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Menurut teori David Lewis-Williams dan David S. Whitley tentang pendekatan neuropsikologi terhadap gambar cadas, mereka mendeskripsikan "beberapa" motif sebagai penggambaran tahapan atau metafora dari Altered State of Consciousness (ASC) yang berhubungan dengan shamanisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana teori ASC dapat diuji dalam gambar cadas Maros-Pangkep, dan juga menunjukkan indikasi keberadaan shamanisme dalam gambar cadas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan analogi formal dan studi komparatif tentang motif-motif gambar cadas terpilih di kawasan Maros-Pangkep dengan gambar cadas di Afrika, Siberia, dan juga gambar cadas di Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa teori ASC dapat diterapkan dalam gambar cadas Indonesia dan ada beberapa indikasi shamanisme dalam gambar cadas di wilayah Maros-Pangkep. Rock art is an archaeological phenomenon which spread all over the world. Generally, this prehistoric art consists of various forms, motifs, and also meanings. This article discusses Indonesian rock art, particularly the Maros-Pangkep region in South Sulawesi. According to David Lewis-Williams and David S. Whitley’s theory about the neuropsychology approach to rock art, they describe “some” motifs as a depiction of stages or metaphors of the Altered State of Consciousness (ASC) that relates to shamanism. The aim of this study is to demonstrate how the ASC theory can be tested in Maros-Pangkep Rock Art, and also shows an indication of the existence of shamanism in Indonesian rock art. The research methods are formal analogy and comparative studies on the selected motifs of rock art in the Maros-Pangkep region with African, Siberian, and also American rock art. The result shows that the ASC theory can be applied in Indonesian rock art and there are some indications of shamanism in rock art motifs in the Maros-Pangkep region.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.15-26
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.496 (DOI)

    • Article
    Select

    Situs-situs Megalitik di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

    Nfn Hasanuddin
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.83-94 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Situs-situs Megalitik di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan
    Author: Nfn Hasanuddin
    Subject: Megalitik, Hirarki Situs, Permukiman
    Description: Wajo in South Sulawesi is a region that has been known have findings from Islamic period, so it tends to be categorized as an area that civilization started around the 17th century AD. Research in Wajo intended to get an overview of distribution and development of the megalithic period, which is also known as the beginning of civilization. In its achieving, the survey method is used to determine the distribution of megalithic synchronization and also excavations conducted at the Cilellang site to reveal the variability of finds in the cultural layers and development of the megalithics in diachronic. Obtained a description of the research, Cilellang, Tobattang and Allangkanange megalithic sites developed since 13th until 15th century AD in the southeast of Tempe Lake. Agricultural activity is the main livelihood that is marked by 36 mortar stone finds on all three sites. Those three sites can also give an overview of the hierarchy of Allangkanange settlements that may have high social strata because it has the most extensive sites, more varied archaeological remains, and a higher location. Probably Allangkanange is the administrative center of Tobattang and Cilellang sites.   Kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan merupakan daerah yang selama ini diketahui memiliki temuan-temuan masa Islam, sehingga cenderung dikategorikan sebagai daerah yang memulai peradabannya sekitar abad ke-17 Masehi. Penelitian di Wajo dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai distribusi dan masa perkembangan megalitik, dan juga dapat menandai awal peradabannya. Dalam pencapaiannya, digunakan metode survei untuk mengetahui distribusi megalitik secara sinkronis dan dilakukan ekskavasi di situs Cilellang untuk mengetahui variabilitas temuan dalam lapisan budaya dan masa perkembangan megalitik secara diakronis. Dari penelitian diperoleh gambaran bahwa situs Cilellang, Tobattang dan Allangkanange merupakan situs megalitik yang berkembang sejak abad ke-13 hingga abad ke-15 M di wilayah sebelah tenggara Danau Tempe. Aktivitas pertanian merupakan mata pencaharian pokok ditandai dengan temuan 36 lumpang batu pada ketiga situs tersebut. Ketiga situs juga dapat memberi gambaran secara hirarki, yaitu  situs Allangkanange mungkin mempunyai strata sosial permukiman yang lebih tinggi dibandingkan situs Cilellang dan Tobattang, karena memiliki luas situs paling besar, tinggalan arkeologi yang lebih bervariatif dan lokasi yang lebih tinggi. Mungkin saja situs Allangkanange adalah pusat pemerintahan dari situs Cilellang dan Tobattang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.83-94
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.395 (DOI)

    • Article
    Select

    Karakter Pemukiman Lahan Basah Abad VI - XV Masehi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito

    Nfn Sunarningsih
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.109-130 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Karakter Pemukiman Lahan Basah Abad VI - XV Masehi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito
    Author: Nfn Sunarningsih
    Subject: Karakter, Lahan Basah, Pemukiman Kuno, Daerah Aliran Sungai Barito
    Description: One of the great rivers that flow in Kalimantan region is Barito River, precisely in the southeast region. Barito drainage basin crosses two different provinces, namely South Kalimantan and Central Kalimantan. Archaeological researches of wetland ancient settlements on Barito Basin are mainly in the downstream area. The result of this research obtained a varied data, such as artifacts, settlement form, and environmental supports. There seemed to be such character differences in each site. Therefore, this article examine the factors that influence the character differences of each wetland site. The research use descriptive analytic, with inductive reasoning. The result shows that there are some characters of wetland residential sites in the Barito basin, which is influenced by the function of site, the mastery of technology, environmental carrying capacity, and the intensity interaction with outside community. Salah satu sungai besar yang mengalir di wilayah Kalimantan adalah Sungai Barito, tepatnya di wilayah Kalimantan bagian Tenggara. Daerah Aliran Sungai Barito melintasi dua wilayah propinsi yang berbeda, yaitu Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Penelitian arkeologi terhadap pemukiman lahan basah (abad ke 6-15 M) di Daerah Aliran Sungai Barito berada terutama di daerah hilir. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan data yang beragam, baik dari artefak, bentuk pemukimannya, dan lingkungan pendukungnya. Tampaknya ada karakter yang berbeda dari masing-masing situs. Oleh karena itu, tulisanini berusaha untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi terjadinya perbedaan karakter dari masing-masing situs di lahan basah tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis, dengan penalaran induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa macam karakter dari situs pemukiman lahan basah di DAS Barito, yang dipengaruhi oleh fungsi situs, penguasaan teknologi, daya dukung lingkungan, dan intensitas terjadinya interaksi dengan masyarakat luar.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.109-130
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.406 (DOI)

    • Article
    Select

    Teknologi Tempa Logam pada Masa Lalu di Daerah Aliran Sungai Pawan, Kalimantan Barat (sebuah pendekatan etnoarkeologi)

    Ida Bagus Putu Prajna Yogi
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.137-146 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa, Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa
    Available
    More…
    Title: Teknologi Tempa Logam pada Masa Lalu di Daerah Aliran Sungai Pawan, Kalimantan Barat (sebuah pendekatan etnoarkeologi)
    Author: Ida Bagus Putu Prajna Yogi
    Subject: Artefak Logam, Sungai Pawan, Ethnoarkeologi, Teknologi Logam
    Description: Archaeological evidence of metal artifacts found in the area Pawan Watershed in the number of inviting attention to be investigated, that is how the process of technology in the past. The existence of the craftsmen of wrought metal along the watershed area Pawan certainly was  not a coincidence. There might be a relationship between the presence of artifacts with traditional metal forging which is still survive until recently. Ethnoarchaeological approach that has been undertaken is expected to give an idea to reconstructs the metal forging technology in the past on Pawan Watershed; to understand the cultural continuity that still exists today in the area. Metal forging technology using the "ububan" the which is still used today in several locations in Indonesia, as well as in Pawan Watershed. This study concluded that the technology workmanship metal artifacts in the past has the similarity from the technological progress that has continued until recently.   Bukti arkeologi berupa artefak logam yang ditemukan di daerah aliran Sungai Pawan dalam jumlah yang cukup banyak mengundang perhatian untuk diteliti, yaitu bagaimana teknologi dan proses pengerjaannya pada masa lalu. Keberadaan pengrajin logam tempa di sepanjang daerah aliran Sungai Pawan tentu bukan suatu kebetulan, mungkin ada hubungan antara kehadiran artefak dengan teknologi tempa logam tradisional yang masih bertahan saat ini. Pendekatan etnoarkeologi dilakukan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran untuk merekonstruksi teknologi tempa logam di masa lalu di daerah aliran Sungai Pawan untuk melihat dan belajar tentang kelangsungan budaya yang masih ada saat ini di lokasi tersebut. Teknologi penempaan logam dengan menggunakan "ububan" yang masih digunakan saat ini di beberapa lokasi di Indonesia dan di daerah aliran Sungai Pawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi artefak pengerjaan logam di masa lalu tidak jauh berbeda dari kemajuan teknologi yang masih berlangsung hingga saat ini.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.137-146
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i2.301 (DOI)

    • Article
    Select

    Traces of the History of South Cisarua Plantation: Archives and Inscription of the Dutch Tomb in Kebon Jahe Cisarua-Bogor, Jawa Barat

    Lia Nuralia
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.63-78 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Perkebunan Cisarua Selatan berdasarkan arsip kolonial dan prasasti makam Belanda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi dengan pendekatan sejarah dan symbolic meaning, yang menerangkan, Perkebunan Cisarua Selatan berdasarkan arsip kolonial dan prasasti makam Belanda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi dengan pendekatan sejarah dan symbolic meaning, yang menerangkan
    Available
    More…
    Title: Traces of the History of South Cisarua Plantation: Archives and Inscription of the Dutch Tomb in Kebon Jahe Cisarua-Bogor, Jawa Barat
    Author: Lia Nuralia
    Subject: History Traces - South Cisarua Plantation - Archieves - Dutch Tombs Inscription
    Description: Makam Belanda (kerkhof) dengan inkripsi (prasasti) di Kebon Jahe merupakan sumber data arkeologis, menjadi petunjuk awal untuk penelusuran arsip kolonial sebagi sumber data sejarah. Sumber data sejarah dan arkeologis menjadi satu kolaborasi data yang saling melengkapi, yang dapat menjelaskan keberadaan perkebunan zaman Belanda yang sekarang sudah tidak ada. Apa dan bagaimana kedua sumber data tersebut menjadi bukti penting tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di masa lalu, menjadi permasalahan dalam tulisan ini. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan mengungkap jejak sejarah Perkebunan Cisarua Selatan berdasarkan arsip kolonial dan prasasti makam Belanda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi dengan pendekatan sejarah dan symbolic meaning, yang menerangkan tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di masa lalu, melalui arti inskripsi dan ragam hias makam, serta identitas orang yang dimakamkan melalui sumber arsip Belanda. Hasil yang diperoleh adalah kepastian tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di daerah Cisarua Bogor, dengan bukti fisik berupa tujuh Makam Belanda di Kampung Kebon Jahe, serta dokumen tertulis (rekaman sejarah) dalam Arsip Kolonial Indische Navorsher 1934 dan Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1920 No. 72. The Dutch tomb (kerkhof) with the inscription in Kebon Jahe is the source of archaeological data, becoming the initial guidance for searching colonial archives as a source of historical data. The source of historical and archaeological data becomes a collaboration of complementary data, which could explain the existence of a now-defunct Dutch plantation. What and how these two sources of data become important evidence of the existence of South Cisarua Plantation in the past, is a problem in this paper. Thus, this paper aims to reveal traces of the history of South Cisarua Plantation based on colonial archives and inscription of the Dutch tomb. The method used archaeological research with historical approach and symbolic meaning, which explains about the existence of South Cisarua Plantation in the past, through the meaning of inscriptions and decorative graves of the tomb, as well as the identity of people buried through the source of the Dutch archives. The results obtained certainty about the existence of South Cisarua Plantation in Cisarua Bogor area, with physical evidence in the form of seven Dutch Tombs in Kampung Kebon Jahe, as well as written documents as historical record in Colonial Archive of Indische Navorsher 1934 and Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1920 No. 72.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.63-78
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.481 (DOI)

    • Article
    Select

    Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis

    Syahruddin Mansyur
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.43-50 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Abstrak Dalam konteks kawasan, keberadaan tinggalan arkeologi berupa sarana pertahanan masa Perang Dunia II di Pulau Buru tidak lepas dari konteks geografis, dimana Kepulauan Maluku – termasuk, Abstrak Dalam konteks kawasan, keberadaan tinggalan arkeologi berupa sarana pertahanan masa Perang Dunia II di Pulau Buru tidak lepas dari konteks geografis, dimana Kepulauan Maluku – termasuk
    Available
    More…
    Title: Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis
    Author: Syahruddin Mansyur
    Subject: Pulau Buru, Perang Dunia II, Arkeo-Historis
    Description: Abstrak Dalam konteks kawasan, keberadaan tinggalan arkeologi berupa sarana pertahanan masa Perang Dunia II di Pulau Buru tidak lepas dari konteks geografis, dimana Kepulauan Maluku – termasuk Pulau Buru merupakan bagian dari kawasan Pasifik. Permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini adalah mengungkap berbagai bentuk sarana pertahanan dan lokasi keberadaannmya, serta informasi historis yang terkait dengan Perang Dunia II di Pulau Buru. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan analogi sejarah, penelitian ini berhasil mengidentifikasi bentuk-bentuk sarana pertahanan yang masih dapat diamati berupa; fasilitas landasan pacu, pillbox dan lokasi pendaratan pasukan Australia. Hasil pembahasan juga berhasil mengungkap peran wilayah Pulau Buru yang merupakan wilayah strategis baik bagi militer Jepang maupun pasukan sekutu dalam Perang Dunia II. Peran wilayah yang strategis ini tidak lepas dari posisi geografis Pulau Buru yang dapat menghubungkan Philipina yang ada di bagian utara, Ambon yang ada di sebelah timur, serta Pulau Timor yang ada di bagian selatan.   Abstract In the context of the region, the presence of archaeological remains in the form of means of defense during World War II on the island of Buru can not be separated from the geographical context, where the Maluku Islands - including the Buru is part of the Pacific region. The problems studied in this paper is to reveal some form of defense and locations, as well as historical information related to World War II on the island of Buru. By using descriptive analysis and historical analogies, this study managed to identify forms of the means of defense which can still be observed in the form; facilities runway, pillbox and Australian troops landing site. Discussion of the results also uncovered the role of the island of Buru is a strategic region for the Japanese military and allied forces in World War II. The role of a strategic area is not separated from the geographical position of Buru Island that connects the Philippines in the north, Ambon in the east, and the island of Timor in the south.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.8(1), pp.43-50
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v8i1.179 (DOI)

    • Article
    Select

    Batu Teong di Pegunungan Kota Ambon, Kepulauan Ambon Lease

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.213-220 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Batu Teong di Pegunungan Kota Ambon, Kepulauan Ambon Lease
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Dolmen, Batu Teong, Permukiman, Kosmoslogi, Pulau Ambon
    Description: This paper discusses the traces of prehistoric communities in the mountainous region of the Ambon island. This study is more directed to archaeological findings in the form of material culture that is dolmen in expressing their cosmology. Cosmology discussion in this paper is about understanding and views of people in the mountain region of the city of Ambon, Ambon Island on settlement patterns and understanding symbols dolmen. The purpose of writing is to know the and understand the views and understanding of the people in the mountainous region of Ambon City in  Ambon Island on settlement patterns and understanding symbols based on material culture dolmen. Methods ethnoarchaeology the basis for the reviewers' problems referred to with reference to the interview data collection techniques, survey and literature study. The results showed that 1) people in the mountainous region of the city of Ambon, Ambon Island know as stone dolmen Teong, the stone which symbolizes about grouping integrated community. 2) The settlement pattern of people in the mountainous region of the city of Ambon, Ambon Island based cultural material of stone dolmen Teong characterized micro settlements, ie settlements which focuses on the center of the stone dolmen Teong as central settlement. Macro-economic settlement of people in the mountainous region of the city of Ambon, Ambon Island has a characteristic orientation (cosmos) coastal settlement - the mountain. The orientation can be seen in the forms of settlement which extends linearly follow the directions north south and cosmos them about splitting the island, or in other words do not follow geographical settlements length of the island. Tulisan ini membahas tentang bagaimana jejak-jejak prasejarah orang-orang pegunungan di wilayah Pulau Ambon. Kajian ini lebih mengarah kepada temuan arkeologi berupa budaya material yaitu dolmen dalam mengungkapkan kosmologi mereka. Pembahasan kosmologi dalam tulisan ini adalah mengenai pemahaman dan pandangan orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon tentang pola permukiman dan pemaknaan simbol dolmen. Tujuan penulisan adalah untuk mengatahui dan memahami pandangan dan pemahaman orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon tentang pola permukiman dan pemaknaan simbol berdasarkan budaya bendawi dolmen. Metode etnoarkeologi menjadi dasar dalam penelaah permasalahan dimaksud dengan mengacu pada teknik pengumpulan data wawancara, survei dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon mengenal dolmen dengan sebutan batu teong, yaitu batu yang melambangkan tentang pengelompokkan masyarakat yang terintegrasi. 2) Pola permukiman orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon berdasarkan budaya bendawi dolmen batu teong memiliki ciri permukiman mikro, yaitu permukiman yang menitik beratkan pusat dolmen batu teong sebagai sentral permukiman. Permukiman makro yaitu orang-orang di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon memiliki ciri orientasi (kosmos) permukiman pantai–gunung. Orientasi tersebut dapat dilihat pada bentuk-bentuk permukiman yang linear memanjang mengikuti arah utara selatan serta kosmos mereka tentang membelah pulau, atau kata lain permukiman tidak mengikuti geografis panjang pulau.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2016, Vol.12(2), pp.213-220
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v12i2.328 (DOI)

    • Article
    Select

    Kawasan Kompleks Bangunan Megalitik di Kabupaten Lahat Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam

    Ni Komang Ayu Astiti
    Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.195-208 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Kawasan Kompleks Bangunan Megalitik di Kabupaten Lahat Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam
    Author: Ni Komang Ayu Astiti
    Subject: Kompleks Bangunan Megalitik - Daya Tarik Wisata - Pengelolaan
    Description: The contribution of tourism to the global economic development continues to increase, affecting the government's policy to make tourism one of the priority sectors of national development after food and maritime. This becomes an opportunity to explore creatively the potential to fill this opportunity. The main question in this research is focus on how the complex area of megalithic building can play an important role in as a resource in national development, especially in the economic sector through tourism. The objective of the study is to restore megalithic complexes from the archaeological context to the social context of today's society as a resource in the development of contemporary times while maintaining its preservation. The method used a qualitative descriptive approach with data collection techniques through direct observation and interview. The results show that this cultural heritage can be a tourism commodity produces products that provide experience in: 1) important historical value; 2) the value of information; 3) aesthetic value; and 4) symbolic value. Strategies used in the management of integrating cultural heritage and the natural environment (landscape), enhancing the role of communities and other stakeholders, maintaining the originality and authenticity of megalithic and landscape buildings, and fostering the desire to invest and community effort. This management is expected to use a conservation approach to cultural and environmental resources as well as community empowerment. Kontribusi pariwisata dalam pembangunan ekonomi secara global terus meningkat, berdampak pada kebijakan pemerintah untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas pembangunan nasional setelah pangan dan maritim. Hal ini menjadi peluang mengekplorasi secara kreatif potensi yang ada. Permasalahan penelitian dalam tulisan ini adalah bagaimana kawasan kompleks bangunan megalitik dapat berperan penting sebagai sumber daya pembangunan nasional khususnya dalam sektor ekonomi melalui kepariwisataan. Tujuan penelitian tulisan ini untuk mengembalikan kompleks bangunan megalitik dari konteks arkeologi ke konteks sosial masyarakat sekarang sebagai sumber daya dalam pembangunan masa kekinian dengan tetap menjaga pelestariannya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriftif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa warisan budaya ini dapat menjadi komoditas pariwisata yang menghasilkan produk yang memberikan pengalaman (experiences) dalam: 1) nilai penting sejarah; 2) nilai informasi; 3) nilai estetika; dan 4) nilai simbolik. Strategi yang digunakan dalam pengelolaan yaitu memadukan warisan budaya dan lingkungan alam, meningkatkan peran masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, mempertahankan originalitas dan otentisitas bangunan megalitik dan lansekap, serta menumbuhkan keinginan untuk berinvestasi dan usaha masyarakat. Pengelolaan ini diharapkan menggunakan pendekatan pelestarian sumber daya budaya dan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.195-208
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.426 (DOI)

    • Article
    Select

    Komoditas Perdagangan di Pelabuhan Internasional Samudra Pasai pada Masa Dulu dan Masa Kini

    Libra Hari Inagurasi
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.21-36 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Komoditas Perdagangan di Pelabuhan Internasional Samudra Pasai pada Masa Dulu dan Masa Kini
    Author: Libra Hari Inagurasi
    Subject: Pelayaran Perdagangan, Samudra Pasai, Komoditas, Masa Dulu, Masa Kini
    Description: Samudra Pasai, the first Islamic kingdom in Indonesia, its existence was influenced by the discovery of the cruise line across the shores from the Red Sea to India, the Malacca Strait to China. The kingdom is located on the edge of Malacca Strait as maritime kingdom developed as a harbor, commercial city, a heaven for traders from all over the world. The center of Samudra Pasai as a commercial city, many commodities are found. This study aims to provide an overview of the various commodities of the Samudra Pasai, through its cultural expression and identification of historical records, and its continuity in the present. Data collection is done through field observation, interview, and literature study. Archaeological, historical, and ethnographic data have been collected rather then analyzed and interpreted. This research reveals types of commodities of the Kingdom of Samudra Pasai, that is foreign commodities, local commodities, and the continuity of local commodities for export in the present. The artifacts of foreign trade commodities  are ceramics, and tombstones. Local trade commodities are pottery, salt, and pepper. Samudra Pasai pottery is allegedly made for storing containers and for dosage units of trade commodities such as pepper and salt. Pepper is a local exported commodity. The making of pottery, salt, and cultivation of pepper in the surroundings Site of the Samudra  Pasai in the present, is an economic activity that is likely to be a continuation of the earlier period, which has culture relationship since the Samudra Pasai period.   Samudra Pasai, Kerajaan Islam pertama di Indonesia, keberadannya dipengaruhi oleh  penemuan  jalur pelayaran melintasi pantai-pantai dari Laut Merah hingga India, Selat Malaka hingga China. Kerajaan ini terletak di tepi Selat Malaka, bercorak  maritim, berkembang sebagai  pelabuhan, kota dagang, tempat persinggahan para pedagang dari berbagai penjuru dunia. Pusat Kota Samudra Pasai memiliki   pelabuhan dan sebagai kota dagang, banyak dijumpai berbagai komoditas. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai  berbagai  komoditas masa Samudra Pasai, melalui tinggalan budayanya dan identifikasi pada catatan sejarah, serta mencermati kesinambungannya pada masa kini. Pengumpulan data dilakukan melalui tahap  observasi di lapangan, wawancara, dan studi literatur. Data arkeologi, sejarah, dan etnografi yang telah terkumpul dibandingkan, dianalisis dan diinterpretasikan. Penelitian ini telah berhasil  mengungkap jenis-jenis komoditas masa Kerajaan Samudra Pasai, yakni komoditas asing, komoditas lokal, dan kesinambungannya  komoditas lokal untuk ekspor di masa kini. Artefak-artefak komoditas perdagangan asing berupa keramik, dan batu  nisan. Komoditas perdagangan lokal adalah tembikar, garam, dan lada. Tembikar Samudra Pasai diduga dibuat untuk  wadah-wadah menyimpan dan untuk satuan takaran komoditas perdagangan misalnya lada dan garam. Lada merupakan komoditas lokal yang diekspor. Pembuatan tembikar, garam, dan budi daya lada di lingkungan situs Samudra Pasai dan sekitarnya pada masa sekarang, merupakan kegiatan perekonomian, kemungkinan masih kelanjutan dari masa sebelumnya yang memiliki akar budaya sejak  pada masa Samudra Pasai.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.21-36
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.375 (DOI)