196 results
Sort by:
Add to the list:
    • Article
    Select

    Struktur Sosial pada Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan Zaman Hindia Belanda di Jawa Bagian Barat

    Lia Nuralia
    Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.1-20 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik, hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik
    Available
    More…
    Title: Struktur Sosial pada Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan Zaman Hindia Belanda di Jawa Bagian Barat
    Author: Lia Nuralia
    Subject: Struktur Sosial, Rumah Pejabat Tinggi Perkebunan, Jawa Bagian Barat
    Description: This paper aims to reveal the social structure on the high officials of plantation residence in west part of Java. This paper is based on research reports using archaeological research methods, explaining about the architecture, layout, materials, and technology used to determine the symbolic meaning behind the physical form of the building. Structure concept and non-verbal communication concept can explain that the high officials of plantation residence is a central building in the plantation emplacement. The residence as a symbol of great power, especially in the plantation environment that still exist until now. Tulisan ini bertujuan mengungkap struktur sosial pada rumah pejabat tinggi perkebunan peninggalan zaman Hindia Belanda di Jawa bagian barat. Tulisan ini berdasarkan laporan hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian arkeologi, menjelaskan tentang arsitektur, tata letak, bahan, dan teknologi yang digunakan untuk mengetahui makna simbolik dibalik wujud fisik bangunan. Structure concept dan non-verbal communication concept dapat menjelaskan bahwa rumah pejabat tinggi perkebunan merupakan bangunan sentral dalam emplasemen perkebunan. Rumah tersebut sebagai simbol kuasa besar, terutama di lingkungan perkebunan yang masih eksis sampai sekarang.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2017, Vol.13(1), pp.1-20
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i1.374 (DOI)

    • Article
    Select

    Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.123-138 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Tata Kota, Morfologi, Kosmologi, Islam, Lokal, Ternate
    Description: Ternate town, is a thriving Islamic city since 6-17 century AD. Although at that time influenced mainly Portuguese colonial hegemony and the Netherlands, but as a center of Islamic civilization, morphology and cosmology town laid out according to the Islamic concept and local concept. Through archaeological analysis, morphology and cosmological aspects of the town hall is described. For that carried out the archaeological survey in the city of Ternate with trace toponyms ancient city, then through the literature and interviews with sources. Archaeological analysis performed, ie with spatial analysis through data identification features that characterize the ancient city of Islam, as well as contextual analysis by analogy history and local culture. The purpose of this study is to describe the shape and development of the city, as well as cosmological concept underlying the form of urban planning. Results of the study include that component of the city center is characterized by buildings and mosques, kedaton sultan as an orientation center into a city of Ternate characteristics of Islamic civilization. In addition the local characteristics of the town of Ternate is shown by the local cosmological concepts, as well as the division of residential space natives and immigrants. During its development, the urban space is divided into five components, namely component downtown, residential, and commercial economy, burial, and religious. Kota Ternate, adalah sebuah Kota Islam yang berkembang sejak abad ke 6-17 Masehi. Meskipun pada masa itu dipengaruhi pula hegemoni kolonial terutama Portugis dan Belanda, namun sebagai sebuah pusat peradaban Islam, morfologi dan kosmologi kota ditata menurut konsep Islam dan konsep lokal. Melalui analisis arkeologi, aspek ruang morfologi dan kosmologi kota digambarkan. Untuk itu dilakukan survei arkeologi di wilayah Kota Ternate dengan menelusuri toponim-toponim kota kuno, kemudian melalui studi pustaka maupun wawancara dengan narasumber. Analisis arkeologi dilakukan, yakni dengan analisis keruangan melalui identifikasi data fitur yang mencirikan kota kuno Islam, serta analisis kontekstual melalui analogi sejarah dan budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bentuk dan perkembangan kota, serta konsep kosmologi yang melatarbelakangi bentuk tata kota. Hasil penelitian antara lain bahwa komponen pusat kota yang dicirikan oleh bangunan kedaton sultan dan masjid sebagai pusat orientasi menjadi karakteristik Ternate sebagai kota peradaban Islam. Selain itu ciri lokal kota Ternate ditunjukkan dengan konsep kosmologi lokal, serta adanya pembagian ruang hunian pribumi dan pendatang. Dalam perkembangannya, ruang kota terbagi menjadi lima komponen, yakni komponen pusat kota, pemukiman, ekonomi dan niaga, penguburan, dan keagamaan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 August 2016, Vol.11(2), pp.123-138
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v11i2.292 (DOI)

    • Article
    Select

    Kaimear Island Rock Art Site at Kur Island in West Kei Islands Region, A New Discovery in Eastern Indonesia

    Wuri Handoko, Godlief Arsthen Peseletehaha, Andrew Huwae, Tofan Gayum Rumaf
    Kapata Arkeologi, 01 December 2018, Vol.14(2), pp.123-134 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Arkeologi Maluku pada tahun 2018. Situs rock art di Pulau Kaimear sebelumnya tidak pernah dicatat dan dilaporkan oleh arkeolog di dunia. Temuan rock art Kaimear menambah deretan sejumlah rock art di... . Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan penelitian arkeologi melalui survei dan observasi didukung oleh studi pustaka. Penelitian ini juga bersifat penelitian eskploratif,…
    Available
    More…
    Title: Kaimear Island Rock Art Site at Kur Island in West Kei Islands Region, A New Discovery in Eastern Indonesia
    Author: Wuri Handoko; Godlief Arsthen Peseletehaha; Andrew Huwae; Tofan Gayum Rumaf
    Subject: Rock Art ; Prehistoric ; Kaimear ; Kei Islands ; Maluku
    Description: Situs Rock art di Pulau Kaimear, Kepulauan Kur yang berada di kawasan Kepulauan Kei adalah temuan situs rock art terbaru, dan untuk pertama kalinya dicatat dan dilaporkan oleh Tim Penelitian Balai Arkeologi Maluku pada tahun 2018. Situs rock art di Pulau Kaimear sebelumnya tidak pernah dicatat dan dilaporkan oleh arkeolog di dunia. Temuan rock art Kaimear menambah deretan sejumlah rock art di Kepulauan Maluku yang sebelumnya dilaporkan oleh para arkeolog dari negara luar. Penelitian ini merupakan publikasi terkini terkait dengan penemuan lokasi situs rock art baru di wilayah Maluku. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan penelitian arkeologi melalui survei dan observasi didukung oleh studi pustaka. Penelitian ini juga bersifat penelitian eskploratif yang menindaklanjuti informasi dari masyarakat lokal. Pengumpulan data penelitian ini dengan cara mengambil gambar sejumlah panel rock art dan catatan lapangan yang berisi deskripsi singkat. Berdasarkan hasil analisis data, rock art di Pulau Kaimear termasuk temuan rock art yang masif, dengan jumlah gambar diperkirakan mencapai 400-500 motif gambar pada satu lokasi ceruk tebing cadas yang terjal. Selain bentuk figur manusia dalam berbagai variasi gaya, juga ditemukan bentuk hand stencil, foot stencil, perahu, hewan, lingkaran, dan masih banyak jenis gambar-gambar lain yang belum teridentifikasi. Hasil penelitian cukup menunjukkan pentingnya temuan situs ini, maka perlu ditindaklanjuti penelitian yang lebih sistematis dan intensif guna menunjang upaya pelestarian situs di masa yang akan datang. The Rock art site on Kaimear Island, the Kur Islands in the Kei Islands region was for the first time recorded and reported by the Balai Arkeologi Maluku Research Team in 2018. Archaeologists have never recorded and reported any rock art site on Kaimear Island before. The discovery of Kaimear's rock art adds to the rock art sites in Maluku, which were previously reported by archaeologists from outside the country. This study uses a qualitative descriptive approach based on archaeological research through surveys and observations supported by literature studies. It is also exploratory research that follows up information from local communities. Data collection for this study consisted of taking images of a number of rock art panels and field notes containing a brief description. Rock art on Kaimear Island includes many panels of rock art, with the number of images estimated at 400-500 patterns in a steep rocky niche location. In addition to human figure shapes in various styles, there are also hand stencils, foot stencils, boats, animals, circles, and many other unidentified images. The results of the study establish the importance of the discovery of this site, and that it is necessary to follow up with more systematic and intensive research to support the preservation of the site in the future.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2018, Vol.14(2), pp.123-134
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i2.531 (DOI)

    • Article
    Select

    Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data

    Irfanuddin Wahid Marzuki
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.89-100 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian... . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini,…
    Available
    More…
    Title: Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data
    Author: Irfanuddin Wahid Marzuki
    Subject: Kema ; Sulawesi Sea Trade ; Colonial Period
    Description: Kema merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara yang berada di pesisir selatan Sulawesi. Saat ini Kema dikenal sebagai perkampungan nelayan padat penduduk yang terbagi menjadi Kema I, Kema II, dan Kema III. Riwayat sejarah Kema sudah dikenal semenjak abad XVI oleh pelaut-pelaut Eropa yang singgah untuk mengisi air minum, kemudian berkembang hingga menjadi sebuah kota pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan Kema dahulu merupakan sebuah permukiman yang sudah maju, meliputi pola permukiman dan jaringan jalan, pelabuhan dan saran pendukungnya, rumah ibadah, bangunan perumahan, pasar, dan jaringan komunikasi. Bukti arkeologis dan data sejarah mengungkap bahwa Kema dikenal sebagai pelabuhan laut yang memegang peranan penting dalam perdagangan global pada masa Kolonial. Pelabuhan Kema bahkan ditetapkan sebagai salah satu pelabuhan bebas di perairan Laut Sulawesi. Peran pelabuhan Kema saat ini mengalami kemunduran, hanya sebagai pelabuhan perikanan tidak lagi sebagai pelabuhan samudera. Kema is one of the districts in Minahasa Utara Regency located on the southern coast of Sulawesi Utara. Currently, Kema is known as a densely populated fishing village which is divided into Kema Satu, Kema Dua, and Kema Tiga. Based on historical data, Kema has been known since the 16 century by European sailors who stopped to fill drinking water, then expanded into a port city. This study aims to determine the rise and fall of the existence of Kema in the global trade of the Sulawesi Sea in the colonial period based on archaeological and historical data. This study uses a historical archeology approach that combines archaeological data with historical data. Research stages include data collection phase, data analysis, and conclusion. The results indicate archaeological evidence shows that Kema was an advanced settlement, covering the settlement patterns and road networks, ports and supporting facilities, houses of worship, residential buildings, markets, and communications networks. Archaeological evidence and historical data reveal that Kema is known as a seaport that plays an important role in global trading during the Colonial period. Kema is even designated as one of the free ports in Sulawesi Sea. The role of Kema is currently declining, only as a fishing port no longer as an ocean port.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.89-100
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.475 (DOI)

    • Article
    Select

    Revitalisasi Kebinekaan melalui Kampanye Slogan Arkeologis Hasil Penelitian Situs Kota Cina

    Defri Elias Simatupang
    Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.209-222 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini Situs, menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini…
    Available
    More…
    Title: Revitalisasi Kebinekaan melalui Kampanye Slogan Arkeologis Hasil Penelitian Situs Kota Cina
    Author: Defri Elias Simatupang
    Subject: Kebinekaan ; Slogan ; Arkeologis
    Description: This paper discusses the diversity of Indonesian people that needs to be improved following more susceptible of conflict in the communities with different ethnic, religion , race , and class. The archaeological research institution should be able to contribute for this process by using the research result of the Kota Cina in Medan North Sumatera. One of the approach which can be adopted is the use of arcaheological slogan. These slogans can be produce by using the parameter analysis of measureable mass communication with the content analysis method. The observation shows that the archaeological slogan of the Kota Cina can be produce and contribute to deliver the message in order to revitalize the diversity. Tulisan ini membahas kebinekaan masyarakat Indonesia yang semakin rentan menghadapi ujian dan tantangan seiring semakin berkembangnya teknologi informasi. Institusi penelitian arkeologi sudah sepantasnya mampu memberikan kontribusi melalui hasil penelitian dalam hal ini Situs Kota Cina di Kota Medan Sumatera Utara. Dalam upaya merevitalisasi kebinekaan, hasil penelitian Situs Kota Cina diangkat sebagai bahan kampanye slogan arkeologis. Slogan-slogan arkeologis hasil penelitian Situs Kota Cina dibuat berdasarkan kajian paramater pengamatan komunikasi massa yang terukur dengan metode analisis isi. Dari hasil pengamatan, slogan arkeologis hasil penelitian Situs Kota Cina dapat dibuat dan diyakini mampu berkontribusi menyampaikan pesan dalam usaha merevitalisasi kebinekaan, dengan catatan yang harus diperhatikan menyangkut penguasaan materi seputar hasil penelitian Situs Kota Cina.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 November 2017, Vol.13(2), pp.209-222
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v13i2.429 (DOI)

    • Article
    Select

    Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Hoamoal di Seram Bagian Barat

    Wuri Handoko
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.99-112 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk, wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk
    Available
    More…
    Title: Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Hoamoal di Seram Bagian Barat
    Author: Wuri Handoko
    Subject: Kerajaan, Hoamoal, Islamisasi, Perdagangan
    Description: Hoamoal kingdom is one of the Islamic empire in the Moluccas Islands, precisely in Ceram which has an important role in the movement of Islamization in Central Moluccas region. This study with emphasis on archaeological survey method to collect physical data or artefaktual, then do the processing and analys is of data to explain the influence of Islam in the region. This study aims to look at developments in the history of the Kingdom Hoamoal Islam and trade in the region of Central Moluccas, and saw its role in supporting the Islamization movement in the region. The result showed that the growth of the Kingdom Hoamoal explanation can not be separated from the influence of Ternate in the form of Islamization and trade networks.   Kerajaan Hoamoal adalah salah satu kerajaan Islam di wilayah Kepulauan Maluku, tepatnya di Pulau Seram yang memiliki peran penting dalam gerak Islamisasi di wilayah Maluku Tengah. Penelitian ini dengan menekankan pada metode survei arkeologi untuk mengumpulkan data fisik atau artefaktual, kemudian melakukan pengolahan dan analisis data untuk menjelaskan pengaruh Islam di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan Kerajaan Hoamoal dalam sejarah perkembangan Islam dan perdagangan di wilayah Maluku Tengah, serta melihat perannya dalam menunjang gerak Islamisasi di wilayah tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh penjelasan bahwa berkembangnya Kerajaan Hoamoal tidak terlepas dari pengaruh Ternate dalam membentuk jaringan Islamisasi dan  perdagangan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(2), pp.99-112
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i2.226 (DOI)

    • Article
    Select

    Varieties and Origins of Kampai Island Glass Beads

    Ery Soedewo
    Kapata Arkeologi, 01 December 2018, Vol.14(2), pp.145-156 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    manik-manik kaca ditemukan di Pulau Kampai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Data yang dikumpulkan dari manik-manik kaca diperoleh dari penggalian arkeologi di Pulau Kampai. Dalam menganalisis... Manik-manik kaca yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di Asia Selatan dan Asia Tenggara antara abad 1 dan 13 umumnya disebut sebagai manik-manik kaca Indo-Pasifik. Berbagai bentuk dan warna, manik-manik…
    Available
    More…
    Title: Varieties and Origins of Kampai Island Glass Beads
    Author: Ery Soedewo
    Subject: Glass Beads ; Kampai Island ; Malacca Strait ; Production ; Waste
    Description: Manik-manik kaca yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di Asia Selatan dan Asia Tenggara antara abad 1 dan 13 umumnya disebut sebagai manik-manik kaca Indo-Pasifik. Berbagai bentuk dan warna manik-manik kaca ditemukan di Pulau Kampai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Data yang dikumpulkan dari manik-manik kaca diperoleh dari penggalian arkeologi di Pulau Kampai. Dalam menganalisis varietas manik-manik kaca, penelitian ini mengkarakterisasi varietas manik-manik kaca Pulau Kampai berdasarkan tipologi dan frekuensi, yaitu manik-manik kaca polos dan manik-manik kaca berlekuk. Sejumlah manik-manik kaca ini dianalisis di laboratorium untuk mengidentifikasi komposisi bahan. Dalam menentukan asal produksi manik-manik kaca, penelitian ini menggunakan metode komparatif pada beberapa penelitian yang terpublikasi. Melalui perbandingan temuan limbah manik-manik kaca dari pusat produksi Arikamedu dan manik-manik kaca di Papanaidupet (India) dan Gudo (Indonesia), hasilnya diketahui bahwa Pulau Kampai adalah tempat produksi manik-manik kaca di wilayah Selat Malaka antara abad ke-11 hingga ke-14. Munculnya pulau Kampai sebagai tempat produksi manik-manik kaca pada abad ke-11 kemungkinan disebabkan oleh kondisi geopolitik. Tradisi pembuatan manik-manik kaca menyebar ke Pulau Kampai karena pengaruh Kerajaan Caka meningkat di wilayah Selat Malaka setelah ekspansinya ke beberapa tempat di wilayah tersebut. The glass beads discovered in various archaeological sites in South Asia and Southeast Asia between the 1st and 13th centuries were generally referred to as Indo-Pacific glass beads. Various shapes and colors of glass beads are found on Kampai Island, Langkat Regency, Sumatera Utara. Collected data of glass beads were obtained from archaeological excavations in Kampai Island. In analyzing varieties of glass beads, this study characterizes the variety of Kampai Island glass beads based on their typology and frequency, i.e., drawn glass beads and wound glass beads. A number of these glass beads were analyzed in the laboratory to identify the composition of the ingredients. In determining the origin of glass beads production, this study used a comparative method on some published research. Through comparison of the findings of glass beads wastes from Arikamedu and glass beads production centers in Papanaidupet (India) and Gudo (Indonesia), the result finds that Kampai Island was a glass beads production site in the Malacca Strait region between 11th–14th centuries. The emergence of Kampai island as a glass beads production site in the 11th century was likely a result of geopolitical conditions. Glass bead making traditions spread to Kampai Island as Cōla Kingdom influences rose in Malacca Strait region after its expansion to several places in that region.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 December 2018, Vol.14(2), pp.145-156
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i2.532 (DOI)

    • Article
    Select

    Islamicization Strategies in Kao Ancient Village, North Halmahera

    Wuri Handoko, Muhammad Al Mujabuddawat, Joss Whittaker
    Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.49-62 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi, hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi
    Available
    More…
    Title: Islamicization Strategies in Kao Ancient Village, North Halmahera
    Author: Wuri Handoko; Muhammad Al Mujabuddawat; Joss Whittaker
    Subject: Kao ; North Halmahera ; Archaeology ; Islamicization ; Islam Conversion
    Description: Situs permukiman Kampung kuno Kao terletak di pedalaman Halmahera Utara, berdiri di atas tanah yang relatif basah diapit oleh sungai Aer Kalak, Ake Ngoali, dan Ake Jodo dan dikelilingi oleh hutan sagu dan rawa. Kondisi permukiman di situs ini membuatnya memiliki keterbatasan ruang hunian, namun orang-orang yang menghuni Kampung kuno Kao bermukim di wilayah ini dalam jangka waktu yang relatif panjang, yaitu antara 100-200 tahun, dan bahkan tercatat dalam rekam sejarah bahwa wilayah Kao dahulu menjadi penyuplai makanan pokok Ternate. Penelitian ini bersifat deduktif, yaitu menyusun sebuah hipotesa yang kemudian diuji di lapangan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan ekskavasi arkeologi. Ragam data arkeologi baik artefak maupun tradisi lisan yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisa dengan merujuk pada sumber referensi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situs Kao merupakan permukiman yang cukup maju  dan memiliki peran cukup penting sebagai wilayah pusat Islamisasi di Halmahera. Orang-orang di Kampung kuno Kao tinggal dalam waktu lama di satu lokasi didukung oleh sumber air dan potensi tanah-tanah pertanian menjadikan wilayah Kao sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang ramai. Kao menjadi bagian dari strategi dalam penyebaran Islam ke wilayah-wilayah pedalaman lainnya, juga daerah-daerah pesisir di Halmahera Utara. The Kao Ancient Village settlement site is located in the hinterland of North Halmahera, standing on relatively wet ground flanked by the river Aer Kalak, Ake Ngoali, and Ake Jodo and surrounded by sago and swamp forests. The settlement conditions on the site make it limited for residential space, but a community of Kao people settled in this area for a relatively long period of time between 100-200 years and even recorded in history that Kao region is the main food supplier for Ternate in the past. This research conducted surface surveys and limited excavations, then mapped the areas of artifactual findings, and identified patterns of spatial use by analyzing surface features and artifact scatters. Variety of archeological data both artifacts and oral traditions are then analyzed guided by relevant reference sources. The results show that Kao Site is an advanced settlement and has a significant role as the center of Islamicization in Halmahera. The Kao people settled for a long time in one location supported by water sources and the potential of farming lands making the Kao area a part of bustling trade networks. Kao became part of a strategy in spreading Islam to other inland areas, as well as coastal areas in North Halmahera.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 July 2018, Vol.14(1), pp.49-62
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v14i1.507 (DOI)

    • Article
    Select

    Pengelompokan Masyarakat Negeri Tuhaha Pulau Saparua, Maluku Tengah Tinjauan Etnoarkeologis

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.81-88 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Pengelompokan Masyarakat Negeri Tuhaha Pulau Saparua, Maluku Tengah Tinjauan Etnoarkeologis
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Pengelompokan Masyarakat, Dolmen, Menhir, Soa
    Description: The Meaning of Tuhaha community’s grouping based on archaeological remains can not be separated from one another, due to the partial temporal nature. This study used a literature study, in order to examine the issue of research, how society grouping Tuhaha State, based on archaeological remains. Archaeological remains is meant here is a dolmen, menhirs and the old village/ancient settlements. The objective of this study is to know and understand the patterns of grouping Tuhaha State community based archaeological remains. The results showed that grouping State community/village Tuhaha archaeological remains contextually based culture has symbolic interaction, integration and socio-cultural systems on the basis of grouping patterns in the structure of the dolmen, menhirs(micro scale) and Old village Huhule (macro scale). Huhule as anintegral unity of the social system, in which there are parts of the system dolmen, menhirs, as well as the concepts of cultural mapping (monodualisme). Integration between the dolmen of five, symbolizing Patalima community groups, and soa of nine (patasiwa). Pemaknaan pengelompokan  masyarakat Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, disebabkan oleh sifat temporal parsial. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan, guna menelaah permasalahan penelitian, yaitu bagaimana pengelompokan masyarakat Negeri Tuhaha, berdasarkan tinggalan arkeologi. tinggalan arkeologis yang dimaksudkan di sini adalah dolmen, menhir serta kampung lama/permukiman kuno. Tujuan daripada penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami pola pengelompokan masyarakat Negeri Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pengelompokan masyarakat Negeri/Desa Tuhaha berdasarkan tinggalan arkeologis secara kontekstual budaya memiliki hubungan interaksi simbolik, integrasi dan sistem sosial budaya atas dasar pola pengelompokan pada struktur dolmen, menhir (skala Mikro) dan kampung Lama Huhule (skala Makro). Huhule sebagai kesatuan sistem sosial integral, yang di dalamnya terdapat bagian sistem dolmen, menhir, serta konsep-konsep pemetaan budaya (monodualisme). Integrasi antara dolmen berjumlah lima, melambangkan kelompok masyarakat patalima, dan soa berjumlah sembilan (patasiwa).
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.9(2), pp.81-88
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v9i2.206 (DOI)

    • Article
    Select

    Lukisan Cadas: Simbolis Orang Maluku

    Lucas Wattimena
    Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.47-54 [Peer Reviewed Journal]
    Directory of Open Access Journals (DOAJ)
    Available
    More…
    Title: Lukisan Cadas: Simbolis Orang Maluku
    Author: Lucas Wattimena
    Subject: Lukisan Cadas, Struktur Simbol, Sistem Sosial Budaya, Orang Maluku
    Description: Rock paintings in Moluccas has a core meaning and symbols in the life cycle of Moluccans in the past, present and future-future. Archaeological remains of rock paintings is a cultural interpretation of the past, where the construction of the values contained therein are an integral part of the social system of human culture the people of Moluccas. The values contained is the value of kinship, religion, grouping, knowledge, survival (survival strategy). Rock paintings in Ohoidertawun, Wamkana and Gulf Saleman have hinted that there are phases of any future development of human society. Research on how the rock paintings as archaeological remains, as the impact of the cultural value system and the structure of the rock painting itself. Performed in order to determine the value of the cultural and social system structure Moluccans rock paintings. The study of literature become the main reference of the study, with emphasis on past and present the data. From the research results prove that the archaeological remains of rock paintings have been contributing to the sociocultural meaning people of Moluccas, including the meaning of identity, culture and plurality or diversity. Lukisan cadas di Maluku memiliki inti makna dan simbol dalam siklus hidup Orang Maluku pada masa lampau, sekarang dan masa-masa yang akan datang. Tinggalan arkeologi lukisan cadas merupakan interprestasi kebudayaan masa lampau, dimana konstruksi nilai yang terkandung didalamnya adalah bagian integral dari sistim sosial budaya manusia masyarakat Maluku. Nilai-nilai yang terkandung adalah nilai kekerabatan, religi, pengelompokkan, pengetahuan, bertahan hidup (survival strategy). Lukisan cadas yang ada di Ohoidertawun, Wamkana dan Teluk Saleman telah memberikan petunjuk bahwa ada fase-fase perkembangan masyarakat manusia setiap masa. Penelitian tentang bagaimana lukisan cadas sebagai tinggalan arkeologis, sebagai dampak sistem nilai budaya dan struktur lukisan cadas itu sendiri. Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sistem sosial nilai budaya dan struktur lukisan cadas Orang Maluku. Studi literatur menjadi acuan utama penelitian tersebut, dengan mengutamakan data terdahulu dan kini. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa tinggalan arkeologis lukisan cadas telah memberikan kontribusi makna bagi sosial budaya Orang Maluku, diantaranya makna identitas, peradaban dan pluralitas atau kemajemukan.
    Is part of: Kapata Arkeologi, 01 April 2016, Vol.10(1), pp.47-54
    Identifier: 1858-4101 (ISSN); 2503-0876 (E-ISSN); 10.24832/kapata.v10i1.217 (DOI)